
kemarin malam terjadi perdebatan di rumah Revan, rumah luas dan interior yang mewah membuat suasana semakin mencekam.
"apa yang kamu lakukan sehingga telat menjemput Revan?" bentak Rangga.
"saat aku hendak menjemput Revan tiba-tiba ada motor menyerempet mobil, mereka membuat drama dan mengulur waktu, aku sama sekali tidak berpikir bahwa hal itu bisa membahayakan Revan" ucap Tiara dia mulai menangis dan takut, takut terjadi sesuatu terhadap putra nya.
"kenapa kamu tidak selesaikan dengan uang?" tanya Rangga.
"mereka tidak mau, bahkan setelah aku tawarkan puluhan juta mereka tetap tidak mau, setelah mereka mendapatkan pesan baru dia pergi" jawab Tiara lalu terduduk lemas di kursi.
"itu semua pasti ulah Willy, dia sudah merencanakan semuanya" ucap Rangga.
"apalagi yang dia inginkan?" ucap Tiara tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Willy.
"dia ingin kita hancur, itu yang dia mau" ucap Rangga membuat Tiara menjadi takut.
"atas dasar apa?, karena perusahaan keluarganya bangkrut karena kalah saing dengan perusahaan kita?, apa itu menjadi salah kita?" tanya Tiara.
"bukan salah kita, tapi menjadi salah kita di mata orang serakah yang tidak terima kenyataan bahwa dirinya kalah" jawab Rangga mereka tertunduk memikirkan bagaimana nasib anaknya.
"bagaimana keadaan Revan, apa dia bisa makan, apa dia tidak ketakutan, aku tak sanggup memikirkannya" ucap Tiara sambil menangis.
"kamu tenang, semoga aja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Revan" ucap Rangga sambil memeluk Tiara berusaha menenangkannya.
****
"nak Revan, kamu paman antar ke sekolah ya" ucap pria itu.
"iya" jawab Revan.
"bapak, Kei ikut ya" ucap anak itu memohon kepada ayahnya.
"Kei, kamu harus sekolah, jadi kamu gak bisa ikut" ucap ayahnya.
anak kecil itu mengerucutkan bibirnya, dia ingin ikut tapi tak ingin membantah perkataan ayahnya.
"nanti bapak belikan ice cream, tapi sekarang kamu sekolah dulu ya" bujuk ayahnya.
__ADS_1
"janji?" ucap anak itu sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"janji" jawab ayahnya sambil mengalungkan jari kelingkingnya di kelingking putrinya.
mereka pergi ke arah berlawanan, anak perempuan itu pergi bersama ibunya ke sekolah, dan Revan di antar ayah anak itu ke sekolahnya, untungnya kemarin Revan mengenakan seragam dan tertulis nama sekolahnya di sana.
sesampainya di sekolah Revan, pria itu mendatangi satpam yang sedang berjaga di pos dekat gerbang.
"permisi pak, apa benar anak ini sekolah disini?" tanyanya.
"iya benar, bapak menemukan dia dimana?, ah tunggu sebentar, saya harus menghubungi orang tuanya" ucap satpam tersebut, lalu dia bergegas menghubungi orang tua Revan.
"tunggu sebentar ya, sebentar lagi orang tuanya akan kesini" ucap satpam tersebut.
beberapa saat kemudian orang tua Revan datang, mereka langsung berlari mendatangi Revan.
"Revan" panggil Tiara, dia langsung memeluk Revan, begitu juga dengan Rangga.
"kamu baik baik aja?, apa ada yang terluka?" tanya Tiara.
"dia baik-baik saja, tapi saya takut dia akan mengalami syok" ucap pria yang mengantarkan Revan.
"ah bukan, anak saya yang menyelamatkan anak bapak, karena kemarin sudah hampir gelap jadi saya membawanya pulang, dan mengantarnya kesini karena hanya ini yang saya tau, kemarin saya lihat sekilas nama sekolahnya yang tertera di seragamnya " ucap pria itu.
"terima kasih, terima kasih banyak, saya tidak tau harus balas dengan cara apa, jadi katakan saja apa yang bapak inginkan" ucap Rangga.
"saya tulus membantu jadi tidak usah seperti itu, karena urusan saya sudah selesai saya pamit pulang dulu" ucap pria itu.
"terima kasih sudah membawanya kesini" ucap Tiara.
Rangga membawa Tiara dan Revan pulang ke rumah, di perjalanan Revan tertidur di pangkuan Tiara, tapi Revan bergumam sesuatu dalam tidurnya.
"lepasin, tolong, tolong" gumamnya pelan.
"mas sepertinya dia bermimpi tentang kejadian kemarin" ucap Tiara.
"mungkin nanti dia juga akan lupa, kita tunggu saja" ucap Rangga.
__ADS_1
"walaupun begitu, lebih baik kita pergi dari sini, kita harus pindah, demi keselamatan keluarga kita" pinta Tiara kepada suaminya.
"baiklah aku setuju" ucap Rangga.
"huuuaaaaaah hah hah hah hah" tiba-tiba Revan terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Revan, ada apa?, kamu kenapa?" tanya Tiara.
"takut, Revan takut" jawab Revan.
"kamu tenang ya, kamu sudah tidak papa, ada mama sama papa disini" ucap Tiara memeluk Revan memberikan kenyamanan untuknya.
hari demi hari berlalu, mereka sudah pindah ke Jakarta, tetapi Revan masih sering bermimpi buruk tapi saat ini lebih parah dari biasanya, saat dia terbangun dari mimpi buruk dia langsung pingsan, dokter bilang dia terlalu syok dan Revan kehilangan ingatannya di mulai pada hari terjadi insiden itu hingga saat ini.
"mama kenapa Revan ada disini?" tanyanya dengan wajah polos.
"kamu kecapean jadi kamu tadi pingsan" ucap Tiara berbohong.
"kamu istirahat aja ya" ucap Tiara lalu menyelimuti Revan.
Tiara berjalan ke arah sofa menghampiri suaminya yang sedang bekerja, Rangga menutup laptopnya.
"aku bersyukur dia kehilangan ingatannya, mulai sekarang dia tidak perlu mimpi buruk dan terus merasa takut" ucap Tiara.
" iya, mulai sekarang kita jangan pernah mengungkit soal itu lagi, jangan biarkan Revan mengingat kembali kejadian itu" ucap Rangga.
flashback off
***
"Bima, bisakah kamu cari tau orang sekitar sini, perempuan namanya Kei" ucap Revan.
"nama lengkapnya?" tanya Bima.
"saya tidak tau, yang saya ingat cuma itu" jawab Revan.
"maaf pak tapi sepertinya sulit mencari nya hanya dengan sebuah nama yang tidak lengkap" ucap Bima, dia harus mengatakan itu walaupun merasa tidak enak.
__ADS_1
"saya tau, saya akan tunggu berapapun lamanya, yang penting kamu harus cari tau" ucap Revan.
"baik pak"