Bukan Niatku

Bukan Niatku
10. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama bagi Aurel masuk Sekolah Dasar (SD). Aurel merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa mulai sekolah. Pagi-pagi sekali Dina sudah bangun dan mengantarkan Aurel ke sekolah.


Aurel sendiri sekolah di tempat yang cukup elit. Dina memang sengaja memilih tempat yang bagus dan elit agar ia mendapat teman yang kaya. Dan benar saja di sekolah itu hampir semua orang tua siswa memiliki mobil.


"Mamah tungggu disini ya nak," pamit Dina setelah mengantar Dina ke kelasnya.


Dina sengaja menunggu Aurel di hari pertamanya sekolah agar Aurel lebih bersemangat untuk bersekolah. Sementara di tempat lain Adit sedang memikirkan anaknya.


"Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa mengantarmu saat kamu pertama masuk sekolah," gumam batin Adit yang sejak tadi merasa bingung. Di saat bersamaan Adit harus menemui klien penting dalam pekerjaannya.


Sebenarnya Adit sangat ingin menemani anaknya saat pertama kali masuk sekolah. Namun apa daya Adit tidak bisa melakukan hal itu. Adit hanya bisa sebatas memberikan biaya untuk sekolah Aurel.


Adit akan memberikan biaya berapapun bagi Aurel agar ia dapat bersekolah. Sementara hal itu tak lupa Dina manfaatkan untuk keperluan pribadinya. Dina selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Dina selalu bersikap tidak jujur saat berhadapan dengan masalah keuangan. Ia akan memanfaatkan Aurel untuk mendapatkan uang dari Adit.


"Aku harus mencari cara agar aku mendapatkan uang lagi dari Adit," gumam batin Dina yang tertawa jahat.


Dina selalu saja melakukan banyak cara agar ia mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk berbohong tentang keuangan Aurel saat daftar ke sebuah sekolah.


Adit meminta Aurel sekolah di sekolah yang terbaik dan paling bagus, akan tetapi justru Dina memasukan Aurel justru ke sekolah yang biasa saja meski relatif elit. Beberapa minggu kemudian lagi-lagi Dina meminta uang untuk sekolah Aurel.


"Ya Dina, ada apa kamu mengajak bertemu?" tanya Adit secara langsung. Mereka sendiri sebelumnya membuat janji untuk bertemu.


"Langsung saja aku membicarakan tentang maksud dari kedatangan ku sekarang," jawab Dina.


"Ya Dina katakan saja," timpal Adit.

__ADS_1


"Aku ingin meminta uang lagi untuk keperluan Aurel sekolah," pinta Dina.


"Apa? Bukannya baru beberapa hari kemarin akun mengirimkan uang," ujar Adit.


"Iya aku tahu tapi memang uangnya sudah habis," timpal Dina lagi seolah tanpa merasa bersalah.


Adit tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar pernyataan Dina. Adit merasa bingung jika tidak memberikan lagi uang kepada Dina. Namun Adit pun merasa bingung jika harus memberikan uang lagi.


Akhirnya mau tidak mau Adit pun memberikan sejumlah uang lagi kepada Dina. Setelah menerima uang Dina segera bergegas pulang.


Di tempat lain, Nisa masih menunggu kedatangan Adit. Tak berapa lama kemudian akhirnya Adit datang juga ke rumah.


"Assalamualaikum," ujar Adit sesampainya dirumah.


"Waalaikumsalam," jawab Nisa yang sedang segera bergegas membukakan pintu.


"Aku mau mandi dulu," jawab Adit yang segera bergegas menuju kamar mandi.


Sementara Adit mandi, Nisa menyiapkan makanan untuk suaminya. Beberapa saat kemudian akhirnya Adit selesai mandi dan segera makan karena perutnya sudah keroncongan.


Nisa segera mengambilkan nasi ke dalam piring untuk suaminya.


"Oiya mas tadi kamu kemana?" tanya Nisa.


"Aku tadi menemui Dina," jawab Adit setelah menghabiskan makanannya.


"Apa? Tapi untuk apa kamu bertemu Dina?" tanya Nisa yang menautkan kedua halisnya. Mendengar suaminya bertemu dengan Dina membuat Nisa merasa cemburu. Nisa merasa tidak enak hati saat mendengar hal itu.

__ADS_1


"Aku bertemu Dina hanya untuk memberikan uang," jawab Adit.


"Apa? Uang lagi? Tapi kenapa kamu kasih lagi mas?" tanya Nisa lagi yang merasa kecewa.


"Aku memberikan uang itu karena untuk anakku," pekik Adit dengan nada kesal.


"Tapi kamu baru saja memberikan uang itu beberapa hari yang lalu dit," timpal Nisa lagi yang merasa tidak setuju dengan apa yang dilakukan Adit.


"Iya aku tahu, tapi Aurel adalah anakku. Sudah menjadi kewajibanku untuk membiayai Aurel. Jika bukan aku siapa lagi!" pekik Adit yang semakin marah.


"Aku tahu kamu ayahnya Dit, tapi tidak seperti itu."


"Sudahlah aku malas berdebat soal ini!" pekik Adit yang segera bergegas meninggalkan Nisa.


Sedangkan Nisa merasa sakit hati karena Adit berkata kepadanya dengan nada yang tinggi. Rasanya begitu sakit saat seseorang berbicara dengan nada tinggi kepada kita. Mungkin Nisa tidak akan pernah bisa melupakan kejadian ini.


Hati nya benar-benar terluka dan hancur. Selama pernikahan baru kali ini Nisa mendapatkan bentakan dari suaminya hanya karena soal Aurel.


Meski tidak berbicara secara langsung kepada Nisa, tapi kata-katanya membuat Adit merasa sakit hati. Untuk menghilangkan rasa sakit hatinya Nisa bergegas menuju kamarnya.


Di dalam kamar Nisa membuka aplikasi birunya. Dia mencoba membuat cerita yang baru di saat hatinya sedang galau. Mungkin dengan perasaannya yang sedang seperti ini bisa membuat cerita.


"Daripada aku terus memikirkan rasa sakit hati ini, lebih baik aku membuat cerita," gumam batin Nisa yang segera mencurahkan isi pikirannya ke dalam aplikasi biru itu.


Meski Nisa baru mendaftar ke dalam aplikasi biru itu tapi dia berhasil membuat beberapa cerita. Lumayan jika di kumpulkan uangnya bisa untuk membeli sesuatu.


Sementara Adit pergi keluar rumah untuk menghindari Nisa. Adit merasa jika Nisa tidak memahaminya makanya dia merasa begitu kesal pada Nisa.

__ADS_1


__ADS_2