Bukan Niatku

Bukan Niatku
8. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Sudah larut malam tapi Nisa masih belum bisa memejamkan matanya. Nisa masih memikirkan suaminya yang masih berada di rumah Dina. Bisa-bisanya Adit tidur di rumah Dina.


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan Dit, kenapa harus tidur di sana?" gumam batin Nisa yang merasa kecewa.


Sejak mengetahui jika yang mengangkat telpon Adit adalah Dina, Nisa mulai tidak tenang. Pikirannya melayang kesana kemari memikirkan tentang Adit.


Sementara Dina merasa senang karena rencananya sudah berhasil. Dari awal Dina memang tidak suka dengan kedekatan antara Adit dan Nisa sehingga ia memikirkan segala cara untuk membuat mereka berpisah.


Dengan kedatangan Adit ke rumahnya justru membuat rencana Dina semakin mudah. Saat Dina membuatkan minuman untuk Adit, dia sengaja menambahkan obat tidur agar Adit seperti tertidur di rumahnya.


Dan benar saja rencananya berhasil, Adit tertidur setelah meminum minuman yang dibuat Dina. Dina pun sengaja mengambil foto mereka saat Adit tidak sadarkan diri. Hal itu ia lakukan untuk Dina tunjukan kepada Nisa.


"Sepertinya sudah cukup, aku akan mengirimkan foto-foto ini kepada Nisa agar dia berfikiran yang tidak tentang Adit," gumam batin Dina sambil tersenyum simpul.


Dina segera mengirimkan beberapa foto yang diambilnya kepada Nisa. Sementara di tempat lain, Nisa yang sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya tiba-tiba mendengar ponselnya berbunyi.


Nisa segera melihat isi ponselnya dan berharap jika itu suaminya. Namun naas saat ia membuka pesan tersebut ternyata berasal dari Dina. Nisa pun segera membuka isi pesan tersebut.


Nisa benar-benar terkejut saat dia melihat foto suaminya bersama mantan istrinya.


"Jadi ini yang kamu lakukan di sana Dit?" gumam batin Nisa yang tiba-tiba menangis.


Nisa merasa sangat kecewa saat melihat suaminya seperti itu. Hampir semalaman Nisa memikirkan hal itu dan terus saja menangis.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Adit baru saja pulang. Nisa yang melihat kedatangan suaminya justru teringat kembali akan gambar-gambar dirinya bersama Dina.


"Aku masih tidak menyangka jika kamu tega melakukan hal itu dit," gumam batin Nisa.


Melihat istrinya yang terus saja memperhatikan dirinya saat pulang membuat Adit merasa heran dan bingung. Adit benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ada apa Nisa? Sepertinya kamu tidak suka kalau aku pulang?" tanya Adit.


"Ah tidak, bagaimana semalam berada di rumah Dina seru kan?" tanya Nisa.


"Apa maksudmu Nisa? Aku hanya ketiduran disana," ujar Adit.


"Apa ketiduran? Bukannya sengaja tidur disana ya? Malah tidur bareng Dina segala," ucap Nisa yang merasa tidak suka saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu Nisa? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku memang ketiduran disana," timpal Adit.


"Aku tahu semuanya dit," ujar Nisa sambil memperlihatkan foto-foto yang diperlihatkan Dina bersamanya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Nisa segera mencari ponselnya dan menunjukan gambar-gambar yang di kirimkan Dina semalam.


"Ini apa?" ujar Nisa yang merasa kesal.


"Apa? tidak mungkin! aku tidak melakukan apa-apa dengan Dina. Aku hanya ketiduran saja di sana," elak Adit.


"Kamu pasti tidak akan mengakuinya Dit," lirih Nisa.


"Tapi aku memang tidak melakukan apa-apa dengan Dina," ucap Adit yang masih membela dirinya sendiri..


"Ah sudahlah mana ada maling ngaku!" pekik Nisa yang segera bergegas menuju kamarnya.


Di dalam kamar Nisa pun kembali menangis memikirkan semua yang terjadi. Nisa tidak habis pikir jika pernikahannya akan seperti ini. Entah apa yang akan di lakukan Nisa saat ini.


Yang jelas saat ini Nisa benar-benar terluka dan kecewa dengan apa yang di lakukan Adit. Tak berapa lama tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


tok... tok... tok..


"Tidak ada yang perlu di jelaskan dit, semua nya sudah jelas," lirih Nisa yang kembali terisak.


"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Dina yang menjebakku Nisa," ujar Adit sekali lagi.


Setelah berfikir beberapa saat, Adit mulai curiga pada saat setelah selesai minumnya tiba-tiba saja dia merasa pusing dan tidak mengingat apa-apa lagi.


"Ya aku tahu, Dina pasti sudah menjebak ku," gumam batin Adit.


"Aku harus meminta penjelasan Dina! Sebenarnya apa yang dia inginkan!" gerutu Adit.


Merasa sangat kesal akhirnya Adit kembali bergegas menuju rumah Dina. Rumah yang merupakan tempat tinggal bersama saat mereka masih bersatu. Adit pun segera mengeluarkan motornya dan segera bergegas pergi dengan kecepatan yang tinggi.


Adit melajukan kendaraannya dengan begitu cepat tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Dia hanya ingin tahu apa maksud Dina melakukan semua ini.


Tak terasa satu jam kemudian akhirnya Adit tiba di rumah Dina. Adit segera mengetuk pintu namun Dina tidak kunjung keluar rumah.

__ADS_1


"Dina! Dina!" pekik Adit yang semakin kesal. Untuk beberapa kali Adit mengetuk pintu rumah Dina.


Namun Dina tidak kunjung keluar. Hingga akhirnya Adit masuk.


"Dina! Dina!" pekik Adit sekali lagi saat masuk ke dalam rumah.


"Ada apa yah? sepertinya ayah marah sekali," tanya Aurel yang menautkan kedua halisnya.


"Dimana ibumu?" tanya Adit.


"Mamah ada di kamarnya yah," jawab Aurel sambil menunjuk ke arah kamar Dina.


Adit segera berlari menuju kamar Dina. Dia kembali berteriak dan berbicara kembali.


"Dina!" pekik Adit saat membuka pintu kamar Dina.


"Loh ada apa mas? Apa kamu masih kangen sama aku?" goda Dina saat membuka pintu kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan semalam kepadaku Dina? apa kamu sudah gila hah?" tanya Adit secara langsung.


"Melakukan apa mas? Bukannya kamu juga menginginkan hal itu," jawab Dina.


"Jangan pura-pura kamu Din, kamu pasti sudah menjebak ku. Sebenarnya apa yang kamu inginkan Dina?" pekik Adit yang merasa semakin kesal.


"Aku tidak ingin apa-apa mas, aku.hanya menginginkan kamu saja," ujar Dina yang kini memeluk Adit.


"Dina lepaskan aku! Aku sudah menikah, dan saat ini aku sangat mencintai istriku," timpal Adit yang melepaskan pelukan Dina secara paksa.


"Tapi aku tidak mau mas, aku ingin kita bersama lagi seperti dulu," ucap Dina.


"Itu hal yang tidak mungkin Dina, apa kamu sudah gila hah?" pekik Adit.


"Ya aku memang sudah gila mas, aku menyesal karena kita sudah bercerai," teriak Dina.


"Tapi semaunya sudah terlambat Dina, aku tidak menyukai perilaku mu," pekik Adit.


Merasa sangat kesal akhirnya Adit segera bergegas pergi dari kamar itu.

__ADS_1


"Adit! Adit! jangan tinggalkan aku!" pekik Dina yang melihat kepergian Adit.


Tanpa menghiraukan kata-kata Dina, Adit segera bergegas pergi meninggalkan Dina. Adit sudah bingung harus mengatakan apa lagi dengan Dina.


__ADS_2