Bukan Niatku

Bukan Niatku
16. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Setelah di rasa cukup baik akhirnya Nisa di perbolehkan untuk pulang. Nisa segera bersiap dan siap diantar oleh Arya. Hampir seharian Nisa berada di rumah sakit. Dan Arya lah yang masih tetap setia menunggu.


"Biar aku yang akan mengantarmu Nisa," ujar Arya yang sudah bersiap. Sejak tadi Arya lah yang berada di samping Nisa.


Karena tidak mau membuat suaminya khawatir Nisa sengaja tidak memberitahukannya jika ia mengalami kecelakaan. Baginya yang terpenting saat ini Nisa tidak mengalami luka yang serius.


"Tidak usah ya, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku sudah tidak apa-apa," timpal Nisa yang merasa tidak enak jika Arya sampai mengantarnya ke rumah. Apa yang akan Nisa katakan pada suaminya.


"Aku tidak mau tahu, pokok nya aku harus memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat. Satu lagi kamu harus istirahat selama beberapa hari dan jangan dulu masuk kerja," tambah Arya mengingatkan.


"Iya ya siap," tukas Nisa.


"Ya sudah ayo aku akan mengantarmu pulang," ujar Arya sekali lagi.


"Tapi ya."


"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya aku harus mengantarmu pulang titik!" ujar Arya dengan penuh penekanan.


"Aku tidak mau kalau hal tadi sampai terjadi lagi," tambah Arya yang begitu mengkhawatirkan keadaan Nisa.


"Ternyata kamu masih seperti dulu ya. Kamu masih tetap baik dan sangat perhatian," gumam batin Nisa.


Akhirnya mau tidak mau Nisa harus pulang dan diantar oleh Arya. Walaupun sebenarnya Nisa merasa takut jika suaminya akan salah paham, akan tetapi Nisa tidak bisa mencegah Arya untuk mengantar pulang dirinya.


Dengan sangat hati-hati Arya membantu Nisa turun dari ranjang.


"Aku bisa sendiri ya," tukas Nisa sambil turun secara perlahan.


"Tapi aku takut kamu terjatuh Nisa," timpal Arya yang hampir saja akan menangkap Nisa saat turun dari ranjang.


"Tidak apa, aku bisa hati-hati."


Mendengar ucapan Nisa membuat Arya terdiam. Arya akhirnya membiarkan Nisa berjalan sendiri. Nisa memang sudah tidak apa-apa, hanya bagian kepala nya saja yang masih di perban.

__ADS_1


Akan tetapi bagi Arya, ia masih tetap mengkhawatirkan keadaan Nisa. Arya tidak mau jika sampai terjadi apa-apa pada Nisa. Meski sudah sangat lama, tetapi entah mengapa perasaan itu masih tetap ada.


Rasa itu rasanya masih tetap sama. Arya tidak bisa melupakan perasaannya yang dulu pada Nisa.


"Apa kamu benar sudah tidak apa-apa Nisa?" tanya Arya membuka pembicaraan pada saat dalam perjalanan.


"Iya ya, aku benar sudah sembuh. Seperti yang kamu lihat aku sudah tidak apa-apa," jawab Nisa.


"Oiya jangan lupa di rumah istirahat ya, jangan kerja terlalu berat," tambah Arya lagi.


"Siap bos!" jawab Nisa sambil terkekeh.


Akhirnya karena terus berbincang sejak tadi, mereka tiba juga di halaman rumah Nisa. Rumah yang cukup sederhana di daerah komplek yang cukup sederhana pula .


"Stop di sini Ya, itu rumah aku," tunjuk Nisa ke arah rumahnya.


"Jadi itu rumah kamu?" timpal Arya.


"Iya Ya, kalau begitu terima kasih banyak ya. Maaf aku tidak bisa mengajakmu mampir dulu, soalnya aku takut ada fitnah," tukas Nisa.


"Iya Nisa aku ngerti, kalau begitu aku permisi," timpal Arya yang segera melajukan kendaraannya.


"Hati-hati ya," gumam batin Nisa saat melihat mobil Arya berlalu di hadapannya.


Sementara dari dalam rumah, Adit memperhatikan kedatangan Nisa dari balik jendela. Meski tidak melihat secara langsung tapi Adit merasa curiga saat istrinya diantar pulang menaiki mobil mewah.


"Siapa yang mengantarmu pulang barusan?" tanya Adit saat Nisa baru saja pulang.


"Yang barusan bos aku mas, aku tadi kecelakaan. Makanya aku di antar oleh Pak Arya, pemilik tempatku bekerja," tambah Nisa menjelaskan.


Bukannya menanyakan keadaan Nisa saat ia baru pulang dengan perban di kepalanya, Adit justru menuduh Nisa yang tidak-tidak. Meski Nisa sudah menjelaskannya tapi Adit masih saja salah paham.


"Enak ya yang pulang kerja ada yang nganterin," tambah Adit.

__ADS_1


"Bukan seperti itu mas tapi pak Arya mengantar pulang karena tadi aku habis dari rumah sakit," jelas Nisa.


"Apa jadi kamu sampai masuk rumah sakit segala? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Adit yang menautkan kedua halisnya.


"Maaf mas, tapi aku tidak mau membuat mas sampai khawatir," lirih Nisa.


"Alah itu pasti hanya alasan kamu saja kan?"


"Tidak mas, bukan seperti itu," lirih Nisa yang merasa bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Sedangkan Adit tetap saja menuduhnya yang tidak-tidak.


"Ah sudahlah, aku tidak mau mendengarkan apa-apa lagi!" pekik Adit yang segera pergi meninggalkan Nisa di ruang tamu.


Nisa pun segera duduk karena ia merasa begitu lelah. Bukannya segera beristirahat Nisa justru harus berdebat terlebih dahulu


bersama Adit. Tanpa mau mendengarkan penjelasan Nisa, Adit justru tidak mau mendengar penjelasan Nisa.


Merasa begitu lelah, Nisa segera bergegas menuju kamarnya. Di dalam kamar Nisa segera merebahkan tubuhnya yang sudah merasa lemas. Pertengkarannya barusan membuat Nisa merasa begitu pusing dan merasakan sakit pada bagian kepalanya.


Meski lelah Nisa mencoba mencari nasi di dapur karena ia akan meminum obat. Akan tetapi tidak ada makanan apapun yang tersedia di atas meja makan.


"Astaga tidak ada makanan sama sekali, padahal aku mau minum obat," gumam batin Nisa.


Akhirnya Nisa segera meminum obatnya tanpa makan terlebih dahulu. Setelah meminum obat, Nisa merasakan kantuk yang teramat sangat. Akhirnya tidak berapa lama Nisa pun memejamkan matanya dan tertidur dengan begitu pulasnya.


Sedangkan Adit setelah perdebatannya dengan Nisa membuat Adit pergi dari rumah untuk mencari angin. Beberapa jam kemudian barulah dia pulang kembali menuju rumahnya.


Saat Adit masuk ke dalam kamar ternyata Nisa sudah pergi tidur. Terkadang ada perasaan menyesal yang dirasakan Adit karena dia sudah menuduhnya yang tidak-tidak tanpa adanya bukti sedikitpun.


Tapi Adit juga tidak bisa menghilangkan perasaan cemburunya saat istrinya pergi bersama laki-laki lain. Padahal tidak seharusnya Adit bersikap seperti itu.


"Maafkan aku Nisa, aku hanya merasa cemburu saja," gumam batin Adit sambil menatap wajahnya istrinya yang tertidur pulas.


Merasa mengantuk akhirnya Adit pun tertidur di samping Nisa.

__ADS_1


Keesokan harinya saat Nisa terbangun, Nisa menyaksikan suaminya tertidur di samping Nisa. Pantas saja Nisa bermimpi jika Adit sedang memeluknya. Padahal memang Adit sedang memeluk Nisa semalaman.


"Jadi semalam aku tidak bermimpi, kamu memang berada disini dan memeluk ku mas?" gumam batin Nisa sambil tersenyum senang. Nisa pun segera bangun karena hari sudah siang. Namun saat akan terbangun Nisa merasa pusing pada bagian kepalanya.


__ADS_2