
Merasa panik karena melihat keadaan anaknya yang mulai tidak sadarkan diri akhirnya Dina membawa Aurel ke rumah sakit terdekat. Disana Aurel segera mendapatkan penanganan.
Sementara Dina merasa gelisah saat Aurel sedang di periksa di dalam.
"Semoga Aurel tidak apa-apa," gumam batin Dina penuh harap.
Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dina yang melihat dokter keluar ruangan segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Dina.
"Pasien tidak apa-apa, pasien hanya lemas saja karena seharian tidak makan," jawab dokter itu.
Mendengar hal itu membuat Dina merasa lega karena anaknya tidak apa-apa. Akan tetapi jika Adit tahu tentang hal ini mungkin ini semua akan menjadi masalah yang besar.
Setelah Aurel lebih baik, akhirnya ia segera pulang. Di saat yang bersamaan ketika Dina baru saja tiba di rumah, tiba-tiba Adit datang.
"Kalian dari mana?" tanya Adit.
"Aku habis dari rumah sakit yah," jawab Aurel.
"Apa? Kamu kenapa nak? Kenapa kamu tidak mengabari aku Dina?" pekik Adit yang merasa sangat kesal.
"Maaf tapi aku panik sekali, makanya aku lupa mengabari mu," ujar Dina yang merasa bingung harus menjelaskan seperti apa.
Adit pun segera menghampiri Aurel dan memegangi keningnya serta memeluknya.
"Kamu beneran tidak apa-apa sayang?" tanya Adit memastikan.
"Tidak yah, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit panas saja," jawab Aurel yang terpaksa harus berbohong. Dia sengaja tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Adit.
"Syukurlah dia tidak cerita apa-apa," gumam batin Dina yang merasa lega karena akhirnya Aurel tidak mengatakan apa-apa.
Awalnya Dina merasa takut jika Aurel akan mengatakan kejadian kemarin saat dia meninggalkannya. Namun Dina beruntung karena Aurel tidak menceritakannya.
"Ya sudah kalau begitu ayah harus pergi kerja karena sudah terlambat," pamit Adit.
Dia sengaja menjenguk anaknya terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor. Sejak kemarin perasaannya tidak enak karena terus memikirkan Aurel. Sekarang setelah melihat Aurel, Adit merasa tenang.
"Cepet sembuh ya sayang, nanti setelah pulang bekerja ayah akan datang lagi," ujar Adit yang mencium kening Aurel sesaat sebelum ia pergi.
__ADS_1
"Oke yah, hati-hati di jalan yah," ucap Aurel.
Adit pun segera bergegas pergi. Setelah kepergian Adit, Dina merasa begitu lega.
"Aurel jangan bilang ke ayah kalau kemarin kamu pingsan ya," ujar Dina.
"Iya mah, aku tidak akan bilang apa-apa," jawab Aurel.
"Bagus," ucap Dina yang tersenyum senang.
Tak berapa lama Dina memberikan makan Aurel bubur yang ia beli tadi di depan rumah. Setelah selesai memakan bubur, Aurel diberi obat dan segera beristirahat.
Sementara di tempat lain, Nisa masih di sibukan dengan pekerjaan rumahnya. Selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya, Nisa segera bergegas menuju dapur untuk mencuci piring.
Hampir seharian mengerjakan pekerjaan rumah membuat Nisa merasa begitu lelah. Namun setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya, Nisa merasa bingung harus melakukan apa lagi.
Terkadang Nisa merasa bosan dengan aktifitasnya yang itu-itu saja. Terkadang Nisa membaca novel online di dalam ponselnya. Sejak dulu memang Nisa suka membaca novel.
Terkadang Nisa merasa ingin mencoba untuk menulis novel online. Mendengar cerita dari beberapa temannya membuat Nisa tertarik untuk mencoba membuat novel online. Sebab dari membuat online kita akan mendapatkan keuntungan.
"Apa aku coba buat novel ya? Daripada tidak ada kerjaan setelah semua pekerjaan rumah beres. Ya mungkin aku akan mencobanya, lagipula hasilnya juga lumayan bisa untuk membeli sesuatu," gumam batin Nisa.
Akhirnya setelah selesai membaca, Nisa pun mencoba menuangkan isi pikirannya ke dalam sebuah kertas. Sebuah coretan-coretan kecil yang dia dapatkan segera ia tuliskan dalam sebuah kertas.
Nisa pun mulai merangkai kata di dalam aplikasi khusus untuk membuat novel. Awalnya cukup sulit karena dalam menulis ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Namun seiring berjalannya waktu Nisa mulai bisa merangkai sebuah cerita.
Hingga tak terasa hampir seharian Nisa penuh Nisa habiskan untuk menulis.
"Astaga sudah sore, sebentar lagi Adit pasti datang," ujar Nisa yang segera menyimpan ponselnya dan segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Hampir setengah jam Nisa berkutat di dapur akhirnya ia selesai mengerjakan pekerjaannya. Setelah itu Nisa segera mandi dan bersiap menyambut suaminya yang sebentar lagi akan datang.
Namun ternyata di tempat lain Adit justru
pulang menuju rumah Dina untuk menemui anaknya. Sepulang bekerja Adit membeli beberapa buah tangan dan mainan untuk Aurel.
"Semoga Aurel menyukai ini semua," ujar Adit yang tersenyum senang.
Saking senangnya karena akan menemui Aurel, membuat Adit lupa mengabari Nisa jika ia akan menemui Aurel terlebih dulu. Satu jam kemudian akhirnya Adit tiba di rumah Dina.
__ADS_1
"Aurel!" panggil Adit sesampainya dirumah.
"Ayah!" pekik Aurel sambil berlari menghampiri ayahnya.
"Wah ayah bawa apa?" tanya Aurel yang tersenyum simpul saat melihat ayahnya membawakan sesuatu untuk Aurel.
"Coba tebak? Ini apa coba?" tanya Adit.
"Apa ya? Aku jadi penasaran," jawab Aurel yang segera membuka jinjingan yang dibawa ayahnya.
Aurel pun segera membuka kantong keresek yang dibawa ayahnya. Aurel tersenyum saat membuka keresek yang berisi mainan dan beberapa buah mainan.
"Wah ini semua untuk aku yah?" tanya Aurel.
"Iya donk untuk siapa lagi," timpal Adit.
Dina yang melihat kedatangan Adit merasa senang karena dia mampir ke rumahnya. Dina pun segera membuatkan minuman untuk Adit.
"Kamu mau dibuatkan minuman apa?" tanya Dina.
"Aku ingin minum kopi saja," jawab Adit sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Merasa lelah tak terasa Adit pun akhirnya tertidur di atas sofa. Tak berapa lama Dina datang dengan membawa segelas kopi panas. Melihat Adit yang tertidur di sofa membuat Dina tersenyum.
Sementara di rumah Nisa masih menantikan kedatangan suaminya yang tak kunjung datang.
"Kenapa tidak seperti biasanya mas Adit belum pulang jam segini?" gumam batin Nisa.
Sejak tadi Nisa melihat jam dinding, namun suaminya belum kunjung pulang. Padahal biasanya Adit sudah pulang di jam-jam seperti ini. Bahkan Adit selalu mengabari jika ia akan pulang terlambat tapi sekarang entah kemana.
"Kenapa Adit masih belum pulang ya? Aku jadi khawatir," gumam batin Nisa lagi.
Merasa khawatir Nisa mencoba mencari benda pipihnya diatas nakas. Ia pun segera memanggil suaminya dan tak berapa lama panggilan itu tersambung.
📱 "Hallo mas dimana?" tanya Nisa to the point.
📱"..........."
📱 " Ya sudah.."
__ADS_1
📱"........"
Nisa merasa terkejut karena yang mengangkat telponnya ternyata Dian. Hal itu tentu membuat Nisa tidak enak hati dan merasa cemburu.