Bukan Niatku

Bukan Niatku
15. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, karena belum gajian Nisa mencoba meminta uang kepada suaminya. Akan tetapi saat Nisa meminta uang kepada suaminya, Adit justru memarahi Nisa.


"Mas aku minta uang buat ongkos," ujar Nisa sesaat sebelum pergi bekerja.


"Bukannya kamu kerja, kenapa harus minta segala. Uang aku habis kemarin baru ngasih Aurel." pekik Adit.


Mendengar kata-kata suaminya membuat Nisa bagai di sambar petir. Nisa begitu sakit hati saat mendengar ucapan suaminya. Apakah pantas seorang suami berkata seperti itu kepada istrinya.


Jika Aurel yang meminta pasti Adit akan memberikannya. Namun jika Nisa yang meminta sesuatu dia pasti akan sangat marah. Bahkan pernah suatu ketika Nisa ingin dibelikan perhiasan tapi Adit justru


memarahinya.


Sebenarnya sejak awal menikah Adit selalu bersikap kasar. Meski tidak bermain tangan, tapi kata-katanya selalu membuat Nisa merasa sakit hati. Nisa yang merasakan hal itu hanya bisa menelan semua kesakitannya.


Karena Nisa tidak pernah menceritakan setiap masalah yang ia rasakan kepada siapa pun. Termasuk kepada ayahnya. Sedari awal ayahnya sudah mengingatkan, akan tetapi Nisa tetap pada pendiriannya.


"Maafkan Nisa yah, kini Nisa merasakan apa yang ayah katakan," gumam batin Nisa. Tak terasa bulir bening itu keluar dari mata Nisa.


Tidak mau terlalu memikirkan tentang perasaannya, kini Nisa segera bergegas pergi bekerja. Meski Adit tidak memberinya uang, tapi Nisa masih punya sedikit simpanan untuk ongkos menuju tempat kerjanya.


"Kalau begitu aku pergi mas," pamit Nisa sesaat sebelum ia pergi. Nisa menyalami tangan kanan suaminya terlebih dulu. Walaupun Nisa merasa sakit hati tapi Nisa tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Nisa tetap berpamitan dan tetap bersikap hormat kepada suaminya.


"Ya, hati-hati," tukas Adit yang pada saat itu sedang berada di rumah. Hari ini merupakan hari libur bagi Adit. Tetapi walaupun begitu ia enggan mengantarkan istrinya pergi bekerja.


Nisa segera bergegas menuju depan rumah karena sebelumnya ia sudah memesan ojeg online. Tak lama akhirnya ojeg yang ia pesan datang juga. Nisa segera naik dan ojeg itu pergi dengan kecepatan yang tinggi.


Sepanjang perjalanan Nisa masih belum bisa melupakan kata-kata suaminya. Kata-kata Adit membuat Nisa tidak bisa fokus dan masih memikirkannya. Karena terus saja melamun Nisa tidak sadar jika ia telah tiba di tempat tujuannya.


"Kita sudah sampai bu,"ujar tukang ojeg itu yang sudah memberhentikan motornya akan tetapi Nisa masih belum turun dari motornya. Untuk sesaat Nisa masih terdiam.


"Astaga sudah sampai ya?" jawab Nisa yang merasa terkejut dari lamunannya. Nisa pun segera turun dari motor itu.


"Kita sudah sampai dari tadi bu," tukas tukang ojeg itu.

__ADS_1


Merasa malu Nisa segera turun dari motornya dan segera membayar ongkosnya.


Sementara dari kejauhan Mela sudah memperhatikan Nisa dari kejauhan. Di saat bersamaan Nisa yang baru saja turun dari motor segera menyebrang jalan. Namun ternyata dari kejauhan Mela segera mempercepat laju kendaraannya dan segera menyerempet Nisa.


Setelah berhasil menyerempet Nisa, Mela segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Dia kabur setelah berhasil melakukan tugasnya.


Alhasil saat sudah sampai di sebrang Nisa pun mengalami kecelakaan karena terserempet mobil.


"Aduh," ujar Nisa yang tergeletak di pinggir jalan.


Sementara dari kejauhan Sinta melihat Nisa yang terjatuh. Denga sigap Sinta segera berlari dan segera membantu Nisa.


"Nisa!" pekik Sinta yang segera berlari menghampiri Nisa yang sudah tergeletak karena kepalanya membentur batu saat ia terjatuh.


"Nisa bangun Nisa," ujar Sinta yang mencoba membangunkan Nisa namun ia tidak sadarkan diri. Tak berapa lama Arya baru saja datang dan segera menghampiri Sinta.


"Apa yang terjadi dengan Nisa? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" tanya Arya yang segera menghampiri Nisa sudah bersimbah darah di daerah kepalanya.


"Baiklah kalau begitu aku akan segera membawanya menuju rumah sakit terdekat," tukas Arya yang segera membopong Nisa ke dalam mobilnya.


Arya merasa begitu khawatir saat melihat Nisa yang tidak sadarkan diri. Arya segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Sesampainya di rumah sakit Arya segera membopong Nisa menuju ruang UGD.


Beberapa dokter segera memeriksa keadaan Nisa di dalam ruangan. Sementara Arya merasa begitu khawatir saat melihat keadaan Nisa yang masih diperiksa di dalam.


"Semoga kamu baik-baik saja Nisa," gumam batin Arya.


Tak berapa lama dokter itu keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana kondisi teman saya dok?" tanya Arya yang segera terbangun dari tempat duduknya.


"Pasien tidak apa-apa, sekarang pasien sudah sadarkan diri," jawab dokter itu.


"Apa saya boleh menemuinya dok?" tanya Arya sesaat sebelum masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Tentu, kalau begitu saya permisi," pamit dokter itu yang segera bergegas menuju ruangannya.


Dengan perlahan Arya segera membuka gagang pintu. Arya masuk dan menghampiri Nisa.


"Nisa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arya saat ia masuk ke dalam ruangan.


"Aku tidak apa-apa ya," jawab Nisa dengan kepala yang di perban.


"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Arya yang merasa penasaran dengan kejadian ini.


"Aku juga tidak tahu ya. Pada saat akan menyebrang tiba-tiba ada mobil yang menyerempetku," jawab Nisa.


"Siapa yang tega melakukan hal ini kepadamu?" geram Arya yang merasa sangat penasaran dan mengepalkan tangannya.


"Sudahlah ya, aku tidak apa-apa," timpal Nisa.


"Tapi aku harus menyelidiki hal ini," tegas Arya.


Sejak mengalami kejadian ini Arya mulai mencari tahu tentang siapa orang yang berani melakukan hal ini pada Nisa. Walau bagaimana pun Arya tidak suka jika ada orang yang menyakiti Nisa.


Arya tidak mau jika sampai terjadi apa-apa pada Nisa. Jauh di dalam lubuk hatinya Arya masih menyimpan perasaannya yang dulu. Arya masih sangat mencintai Nisa sampai detik ini.


Dulu mereka putus hanya karena kesalah pahaman saja. Nisa dan Arya dulu begitu saling mencintai namun karena orang ketiga akhirnya hubungan mereka harus kandas.


Sementara di tempat lain Mela merasa begitu senang karena ia akhirnya berhasil melakukan rencananya.


"Aku harap Nisa tidak akan selamat," ujar Mela sambil tertawa jahat dalam mobilnya.


Mela merasa sangat puas karena akhirnya dia dapat membalaskan dendamnya. Sejak melihat kebersamaan Nisa dan Arya kemarin membuat Mela tidak suka terhadap Nisa.


Meski Nisa adalah orang yang baik, tapi di mata Mela Nisa merupakan wanita penggoda. Mela benar-benar tidak suka saat melihat Nisa berbicara dengan Arya.


"Akhirnya aku bisa menyingkirkan Nisa," gumam batin Mela.

__ADS_1


__ADS_2