
Beberapa bulan berlalu. Semenjak hak asuh Aurel jatuh ke tangan Adit, hidup Dina terasa hampa. Dina merasa kesepian serta tidak memiliki penghasilan lagi. Sejak Aurel tinggal bersama ayahnya, sejak itu pula Dina tidak bisa mendapatkan uang.
"Aku harus mencari pekerjaan. Aku tidak bisa terus-terusan berpangku tangan seperti ini," gumam batin Dina.
Dulu saat Dina ada keinginan, dia selalu meminta kepada Adit dengan Aurel sebagai alasan. Akan tetapi kini setelah Aurel tinggal bersama ayahnya, Dina tidak bisa lagi melakukan kebiasaannya.
Dina segera membuat beberapa lamaran pekerjaan. Meski hanya berijazah kan Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi Dina berharap jika ia akan mendapatkan pekerjaan.
"Sedang buat apa nak?" tanya Sofia yang sejak tadi memperhatikan anaknya sibuk menulis.
"Aku sedang membuat lamaran pekerjaan Bu, aku mau cari kerja," tambah Dina.
"Baguslah kalau begitu," timpal Sofia yanh merasa sangat senang saat anaknya bersemangat untuk bekerja.
Selama ini Dina hanya ingin di rumah saja tanpa memikirkan apa-apa. Tapi sekarang Dina mau mencoba bekerja. Dina memasukan lamaran pekerjaannya ke beberapa tempat.
Beberapa hari berlalu, Dina masih menunggu dan berharap akan segera mendapatkan panggilan pekerjaan.
"Sudah beberapa hari aku menunggu tapi masih belum ada panggilan juga," gumam batin Dina yang masih saja melamun di depan teras karena tidak ada kegiatan.
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar suara ponsel yang berbunyi.
"Semoga itu panggilan kerja," gumam batin Dina.
Dina segera menjawab panggilan dengan antusias. Ternyata benar saja jika panggilan itu merupakan panggilan kerja. Mendapat kabar itu Dina segera bersiap dan segera bergegas pergi.
Dina pergi menggunakan ojeg online yang sebelumnya ia pesan. Jalanan yang tidak begitu sepi namun tidak begitu macet membuat Dina lebih cepat sampai berada di tujuannya.
Dina mendapatkan panggilan di sebuah pabrik tekstil yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Dina berharap jika ia akan di terima di tempat ini.
"Permisi pak, hari ini saya ada wawancara saya harus kemana ya?" tanya Dina gugup.
Dina segera bergegas mengekor di belakang satpam itu. Jarak dari gerbang menuju tempat wawancara memang lumayan jauh karena tempat itu memang begitu luas.
"Silahkan masuk bu, anda sudah di tunggu di dalam," ujar satpam itu sambil bergegas pergi.
"Terima kasih pak," ucap Dina.
"Ya," jawab satpam itu sambil bergegas pergi.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Dina segera masuk ke dalam ruangan.
tok.. tok..
"Permisi pak," ujar Dina saat masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan masuk," jawab seseorang dari arah dalam.
"Dengan ibu Dina ya?" tanya seorang petugas HRD itu.
"Iya pak," jawab Dina.
Di dalam ruangan Dina segera di tanyai beberapa pertanyaan. Tidak sulit memang namun tetap saja ada perasaan gugup yang Dina rasakan. Sudah beberapa tahun yang lalu Dina tidak bekerja, semenjak menikah dengan Adit Dina sudah memutuskan untuk tidak bekerja.
Bukannya tidak mau hanya saja saat itu Adit melarangnya untuk bekerja karena merasa kasihan. Beberapa menit kemudian akhirnya Dina selesai di wawancara.
"Selamat besok anda sudah bisa mulai bekerja," ujar petugas HRD itu.
"Beneran pak? terima kasih banyak," ujar Dina sambil bergegas pamit.
__ADS_1
"Iya benar, sama-sama," tukas seorang petugas HRD itu.