Bukan Niatku

Bukan Niatku
33. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Keesokan harinya saat Nisa sudah bersiap akan bekerja, tiba-tiba saja Adit melarangnya untuk pergi. Adit merasa cemburu saat melihat Nisa kemarin pulang bersama laki-laki lain terlebih sekarang Adit tahu jika laki-laki itu adalah teman Nisa.


Adit merasa takut jika Nisa memiliki hubungan dengan laki-laki itu.


"Aku harap kamu tidak akan pergi kerja lagi Nisa," ujar Adit sesaat sebelum Nisa berangkat.


"Tapi mas, bagaimana dengan pekerjaanku. Setidaknya aku harus menyelesaikan pekerjaan ku bulan ini mas. Aku mohon," timpal Nisa.


"Ya sudah itu terserah kamu saja," timpal Adit yang merasa kesal.


Adit segera pergi setelah membicarakan hal itu dengan Nisa. Dia merasa kesal karena Nisa tidak menurutinya. Nisa tetap pergi bekerja meski ia sudah melarangnya.


"Maafkan aku mas, aku tidak bisa berhenti begitu saja," gumam batin Nisa yang merasa tidak enak karena tidak menuruti perintah suaminya.


Meski merasa tidak enak tapi Nisa masih tetap menjalani aktifitasnya seperti biasa. Nisa harus tetap bekerja karena walau bagaimanapun dia masih terikat kontrak kerja.

__ADS_1


Namun saat sedang bekerja Nisa tidak terlalu fokus bekerja.


"Kenapa Nisa?" tanya Sinta yang memperhatikan Nisa sejak tadi terdiam.


"Tidak apa-apa Sin, hanya saja aku di suruh berhenti bekerja oleh suamiku," lirih Nisa.


"Tapi kenapa Nis?" tanya Sinta sambil menautkan kedua halisnya.


"Kemarin dia melihatku di antar oleh Pak Arya," jawab Nisa.


"Apa? jadi kamu diantar oleh Pak Arya lagi?" tanya Sinta yang merasa terkejut saat mendengar jawaban Nisa.


Untuk beberapa saat Nisa masih memikirkan ucapan suaminya. Sepertinya Nisa memang harus berhenti bekerja. Apalagi di tempat ini Nisa selalu bertemu dengan Arya. Hal itu pasti akan memberikan dampak yang buruk untuk hubungan Nisa dan Adit.


"Ya mungkin memang benar apa yang Adit ucapkan, sepertinya aku memang harus berhenti bekerja," gumam batin Nisa.

__ADS_1


Setelah pekerjaannya selesai Nisa bergegas menuju ruang HRD. Hari ini rencananya Nisa akan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja saat ini. Tidak mudah memang, tapi Nisa harus melakukan semua ini.


"Sin, aku pamit ya! Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Sekarang juga aku akan mengundurkan diri dari pabrik ini," lirih Nisa.


"Yah, kok gitu kan sayang Nis," timpal Sinta yang sangat menyayangkan keputusan Nisa.


"Ya habisnya gimana Sin, suamiku tahu sendiri bagaimana," tukas Nisa lirih.


"Ya sudah kalau memang itu merupakan keputusan kamu Nis. Semoga menjadi keputusan yang terbaik ya," ucap Sinta sambil memeluk Nisa.


Sinta pun sebenarnya merasa kecewa karena kini ia kehilangan teman dekatnya. Padahal Sinta sudah sangat nyaman berteman dengan Nisa. Akan tetapi Sinta juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Mereka merasa tidak ingin kehilangan satu sama lain, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit ya Sin, maaf jika selama disini aku ada salah," ujar Nisa.

__ADS_1


"Iya Nis, sama-sama maafkan aku juga ya," ucap Sinta.


Lagi-lagi mereka berpelukan. Tak berapa lama akhirnya Nisa harus benar-benar pergi.


__ADS_2