
Beberapa minggu berlalu, rasanya sudah cukup lama Nisa menanti sebuah panggilan kerja. Nisa sudah sangat bosan berada di rumah. Ia ingin memiliki kegiatan yang lain selain mengerjakan pekerjaan rumah.
Rasanya sangat bosan setelah mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak ada aktifitas lain lagi selain merebahkan tubuhnya dan menulis. Ada perasaan jenuh yang Nisa rasakan.
Terlebih saat ini Adit selalu saja menomor satukan anaknya. Apa saja yang Dina minta pasti selalu ia berikan jika menyangkut nama Aurel. Hal itu yang membuat Nisa bersikukuh ingin bekerja.
"Mungkin jika sudah bekerja aku bisa membeli apa yang aku inginkan," gumam batin Nisa.
Tak berapa terdengar suara ponsel yang berdering. Dengan sigap Nisa segera mengangkat panggilan itu. Ternyata panggilan itu merupakan panggilan yang sejak tadi Nisa tunggu-tunggu.
Nisa merasa sangat senang saat menerima kabar itu. Akhirnya panggilan itu datang juga.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nisa sudah bersiap.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini sudah rapi?" tanya Indra yang menautkan kedua halisnya.
"Aku ada panggilan kerja mas," jawab Nisa.
"Baguslah kalau begitu," timpal Indra yang merasa ikut senang.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya mas," pamit Nisa yang menyalami tangan suaminya terlebih dulu.
"Iya Nisa hati-hati di jalan," ujar Adit.
Nisa segera bergegas pergi setelah berpamitan pada suaminya. Nisa pergi seorang diri.
"Nisa tunggu!" pekik Adit saat Nisa akan melangkahkan kakinya.
"Iya mas, ada apa?" tanya Nisa yang spontan berbalik.
"Tunggu, akan mas antar," ucap Adit yang segera mengambil kunci mobilnya.
"Tidak usah mas, aku bisa pergi sendiri. Lagipula arah jalan kita berlawanan," tukas Nisa lagi.
"Tidak apa-apa, biar mas antar kamu dulu nanti baru pergi," timpal Adit.
"Tidak usah mas, aku pergi sendiri saja," ucap Nisa yang segera pergi karena sudah terlambat.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu."
Akhirnya Nisa pergi menggunakan taksi online yang sebelumnya sudah ia pesan. Nisa sendiri hari ini ada panggilan di sebuah pabrik konveksi. Meski tidak terlalu ahli tapi Nisa bisa mengoprasikannya.
Pabrik yang Nisa tuju memang cukup jauh. Untuk itu satu jam kemudian barulah ia tiba di salah satu pabrik yang terkenal di kota itu. Pabrik yang sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Setelah turun dari mobil, Nisa segera bergegas menuju pos satpam.
"Permisi pak, hari ini saya ada panggilan kerja," ucap Nisa yang segera membicarakan maksud dari kedatangannya.
"Oiya silahkan mba bisa ikuti saya," timpal satpam itu yang memang sudah mengetahui jika hari ini ada wawancara kerja.
Perlahan tapi pasti Nisa segera mengekor di belakang satpam itu. Jarak dari gerbang sampai ke tempat memang lumayan jauh sebab pabrik ini begitu luas dan besar. Meski lelah tapi Nisa harus tetap semangat.
Beberapa menit kemudian akhirnya Nisa tiba di ruang HRD.
"Permisi pak, ini ada orang yang mau wawancara kerja," ujar satpam itu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Oiya silahkan masuk," timpal seorang pria dari dalam ruangan sana.
"Silahkan masuk mba sudah di tunggu didalam. Kalau begitu saya permisi," pamit satpam itu yang segera pergi kembali menuju ruangannya di depan gerbang.
"Iya mba sama-sama."
Nisa segera masuk ke dalam ruangan untuk segera di wawancara. Hanya beberapa menit saja Nisa berada di dalam di tanyai beberapa pertanyaan akhirnya Nisa di terima di pabrik itu.
"Kalau begitu selamat bergabung ya Nisa, semoga betah bekerja disini," ujar Pak Andi yang merupakan bagian HRD.
"Alhamdulillah terima kasih banyak pak, jadi kapan saya mulai bekerja?"
"Besok kamu sudah bisa mulai bekerja dan masuk shift pagi ya," ucap Pak Andi mengingatkan.
"Baik kalau begitu terima kasih pak, saya permisi," pamit Nisa yang segera bergegas pulang.
Selesai wawancara Nisa segera memesan ojeg online agar ia lebih cepat sampai di rumah. Nisa menunggu di depan pabrik dan tak berapa lama akhirnya ojeg itu datang.
"Permisi dengan ibu Nisa?" tanya seorang ojeg itu memastikan.
__ADS_1
"Iya saya," jawab Nisa yang segera bergegas naik.
Ojeg itu pun segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Satu jam kemudian akhirnya Nisa tiba di rumahnya. Cukup lelah memang, tapi Nisa merasa senang karena besok Nisa akan mulai bekerja.
Sesampainya di rumah Nisa beristirahat sebentar. Waktu satu jam sangat cukup bagi Nisa, selesai beristirahat Nisa segera melakukan pekerjaan rumah yang tadi belum ia kerjakan.
Nisa mulai menyapu, mengepel lantai serta mulai memasak untuk suaminya. Walaupun lelah Nisa tetap menjalani ini semua dengan senang hati. Nisa memasak masakan sesuai bahan yang berada di dalam kulkas.
Sederhana memang tapi setidaknya ada sesuatu yang bisa Nisa masak. Adit sendiri tidak pernah memilih-milih makanan. Dia akan memakan apa saja yang di masak Nisa.
Setelah cukup lama berada di dapur akhirnya Nisa selesai mengerjakan pekerjaannya. Nisa pun segera bergegas mandi untuk menyambut kedatangan suaminya.
Tak berapa lama Adit datang juga.
"Assalamualaikum," ujar Adit saat baru saja masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam mas sudah pulang?" tanya Nisa basa-basi.
"Mau di buatkan kopi apa mau makan dulu mas?" tanya Nisa lagi.
"Mas mau mandi dulu, baru makan," jawab Adit yang segera bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sambil menunggu suaminya mandi, Nisa segera menghidangkan masakan yang di masaknya di atas meja. Dan tak berapa lama Adit datang untuk segera makan. Seperti biasa hanya ada mereka berdua di meja makan.
Terkadang Adit menginginkan buah hati dari Nisa. Setelah menikah hampir 2 tahun lamanya tapi mereka belum di karuniai seorang anak. Meski tidak menuntut tapi di dalam hatinya Adit menginginkan anak laki-laki.
"Oiya mas, besok aku sudah mulai bekerja," ujar Nisa setelah mereka selesai makan.
"Wah selamat ya, mas harap kamu betah bekerja di sana," timpal Adit yang memberikan dukungan.
"Iya mas aamiin."
Keesokan harinya Nisa sudah bangun lebih awal. Nisa harus bangun lebih pagi dari biasanya karena mulai hari ini Nisa harus bekerja. Meski belum biasa tapi Nisa harus menjalani ini semua.
Seperti biasa Nisa mulai membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya. Karena di dalam kulkas belum ada stok sayuran, Nisa akhirnya membuat 2 porsi roti bakar.
Nisa membuat satu gelas kopi dan satu gelas susu untuk dirinya.
__ADS_1
"Maaf mas sarapan hari ini hanya ada roti saja," ucap Nisa yang merasa tidak enak saat menyajikan sarapan hari ini.
"Tidak apa Nisa, nanti kamu beli saja," timpal Adit.