Bukan Niatku

Bukan Niatku
19. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Setelah mengetahui pemilik mobil itu, Arya segera memanggil Mela ke dalam ruangannya. Di dalam ruangan Mela ditanyai beberapa pertanyaan.


"Bapak memanggil saya?" tanya Mela saat ia masuk ke dalam ruangan Arya.


"Ya jadi kamu yang bernama Mela? Apa motif kamu mencelakai Nisa?" tanya Arya.


"Maksud bapak apa saya tidak mengerti, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Saya tidak tahu apa-apa," jawab Mela yang pura-pura polos.


"Ah sudahlah mengaku saja, lagipula sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga," tukas Arya yang mulai geram.


"Tapi memang benar bukan saya pelakunya pak," lirih Mela.


"Lantas siapa yang ada di video ini?" tanya Arya lagi sambil memperlihatkan video saat dirinya menabrak Nisa.


"Apa? tidak mungkin," ucap Mela yang kini mulai panik.


"Saya mohon pak, maafkan saya. Saya benar-benar khilaf," lirih Mela yang kini langsung berlutut dihadapan Arya. Setelah melihat videonya sendiri Mela tidak bisa menghindar lagi. Kini Mela benar-benar merasa takut akan perbuatannya.


"Apa? khilaf katamu? ini jelas-jelas perbuatan kriminal. Bagaimana jika Nisa sambil meninggal dunia karena kecerobohan mu hah? Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu!" pekik Arya yang benar-benar merasa kesal.


Setelah pembicaraan itu Arya segera menghubungi polisi. Walau bagaimanapun Mela harus mempertanggungjawabkan semua ini agar tidak terulang di masa yang akan datang.


"Maafkan saya pak, tolong.. Jangan laporkan saya ke polisi," lirih Mela yang masih saja terus memohon maaf dari Arya.


"Maaf Mela keputusan saya sudah bulat, polisi sedang dalam perjalanan," timpal Arya.


Mendengar hal itu membuat Mela semakin takut. Kini Mela benar-benar menyesal atas perbuatannya. Namun sesal tiada guna, tak lama polisi datang untuk menangkap Mela.


"Nyonya Mela? Maaf anda harus ikut bersama kami," ujar polisi saat datang dan segera membawa Mela ke kantor polisi.


Mela hanya bisa pasrah saat polisi membawanya. Rasanya percuma saja jika ia masih menangis dan memohon kepada Arya. Toh Arya juga tidak mau mendengarkan. Arya benar-benar kecewa dengan apa yang sudah Mela lakukan.


Arya takut jika sampai kehilangan Nisa. Maka dari itu Arya sengaja melaporkan Mela ke polisi agar ia merasa jera. Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu ada yang merasa kasihan.


Ada juga yang merasa puas karena selama ini Mela selalu bersikap tidak baik kepada siapapun.


Flashback Off


"Begitulah Nisa sekarang Mela sudah di penjara," ujar Sinta setelah selesai menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Apa? Kasihan dia," timpal Nisa yang merasa tidak enak.


"Kamu ini kasihan gimana, orang dia susah membuat mu celaka," gerutu Sinta.


"Iya tapi tetap aja, toh aku juga tidak apa-apa," ucap Nisa.


Tak terasa karena terus berbincang mereka tiba di ruangannnya. Mereka berdua pun langsung mengerjakan pekerjaan mereka berdua.


Sementara di tempat lain setelah Adit menyelesaikan pekerjaannya dia segera bergegas menuju rumah mantan ibu mertuanya. Di tengah lamunannya dia baru menyadari jika ada satu tempat yang belum dia kunjungi.


"Aku merasa yakin jika Aurel ada di sana," gumam batin Adit penuh semangat.


Adit bergegas menggunakan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Rasanya sudah tidak sabar bagi Adit untuk segera tiba di sana. Beberapa jam kemudian akhirnya Adit tiba di sebuah desa yang cukup sederhana juga sejuk.


Tok.. tok..


"Adit?" tanya Bu Sofia yang terkejut saat melihat mantan menantunya datang ke rumah.


"Apa kabar bu?" tanya Adit sambil menyalami Bu Sofia.


"Kabar ibu baik, kamu sendiri bagaimana nak?" jawab Bu Sofia dengan perasaan yang khawatir.


"Saya juga baik bu. Oiya maksud kedatangan saya kemari saya ingin menanyakan keberadaan Aurel bu. Apa dia datang kemari? Sebab sudah beberapa hari Aurel menghilang, bahkan Dina juga tidak mengaktifkan ponselnya," lirih Adit.


Deg..


Pertanyaan Adit membuat Sofia merasa semakin cemas dan khawatir. Sebab anaknya berpesan jika ia memang sengaja membawa Aurel kemari agar Adit tidak bisa menemuinya.


Tapi sekarang Adit sudah berada di hadapannya. Sofia sudah tidak bisa berbohong. Dia benar-benar merasa bingung harus berkata apa.


"Bu? apa ibu baik-baik saja? sepertinya ada yang sedang ibu pikirkan," tanya Adit sambil melambaikan tangannya di hadapan bu Sofia.


"Ti, tidak nak. Ibu tidak apa-apa. Begini, anu.. Dina dan Aurel sudah lama tidak datang kemari," jawab Sofia gagap.


Sofia terpaksa harus berbohong karena semua ini merupakan keinginan Dina. Namun di saat yang bersamaan ternyata Aurel justru keluar dari kamarnya.


"Nek, nenek!" panggil Aurel sambil berteriak.


"Itu suara siapa?" tanya Adit yang mendengar suara anak kecil.

__ADS_1


"Itu bukan siapa-siapa," jawab Sofia.


"Tapi kenapa aku seperti mengenal suara itu, jangan-jangan," ucap Adit yang segera bergegas masuk.


"Aurel, Aurel, ini ayah nak!" pekik Adit yang sejak tadi belum dipersilahkan masuk.


Namun ketika mendengar suara itu, Adit merasa yakin jika suara itu adalah suara Aurel. Adit segera masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan anaknya.


"Aurel, Aurel!" panggil Adit lagi.


Tak berapa lama akhirnya Adit dan Aurel bertemu setelah beberapa lama tidak bertemu.


"Ayah.." panggil Aurel sambil berlari menghampiri ibunya.


"Aurel, ayah sangat merindukan mu nak," ujar Adit sambil langsung memeluk anaknya.


"Aku juga yah," ucap Aurel.


Sofia yang melihat itupun seakan tak berkutik. Sofia merasa malu karena sejak tadi ia menutupi jika Aurel tidak ada dirumahnya. Kini Sofia terdiam karena merasa bingung harus berkata apa pada Adit.


"Aku ingin ikut ayah, aku tidak mau tinggal disini," lirih Aurel yang tiba-tiba menangis.


"Boleh sayang, kita pergi dari sini ya!" ajak Adit.


Untuk beberapa saat Adit pun terdiam karena merasa kecewa dengan Bu Sofia.


"Aku kecewa sama ibu, kenapa ibu tega membohongiku bu," ujar Adit.


"Maafkan ibu nak, ibu terpaksa harus berbohong karena semua ini keinginan Dina," lirih Sofia.


"Sudah ku duga, semua ini pasti rencana Dina."


"Maaf bu aku harus membawa Aurel," timpal Adit yang segera membawa Aurel pergi bersamanya.


"Tapi nak apa yang harus ibu katakan pada Dina? Dia pasti marah," ucap Sofia.


"Tapi Aurel sendiri yang ingin ikut denganku bu, aku kasihan melihat Aurel," timpal Adit.


Akhirnya tanpa sepengetahuan Dina, Adit segera membawa Aurel pergi dari rumah ibu mertuanya. Sofia yang menyaksikan hal itupun hanya terdiam. Sofia juga tidak bisa menghalangi Aurel untuk pergi bersama ayahnya, sebab dia juga memiliki hak yang sama.

__ADS_1


Sebelum pergi, Sofia mencium kening Aurel terlebih dahulu dan memeluknya terlebih dahulu.


__ADS_2