
Beberapa hari berlalu, Adit mencoba mengatakan tentang apa yang di bicarakan Adit dan Dina tadi. Namun setelah mendengar hal itu membuat Nisa merasa tidak suka.
Selama ini Nisa sudah cukup sabar. Tapi setelah mendengar hal itu membuat Nisa merasa keberatan. Nisa saja sebagai istrinya tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu.
"Maaf mas, aku merasa keberatan jika kamu menyetujui kesepakatan itu," ucap Nisa setelah Adit menjelaskan semuanya.
"Iya Nisa, maka dari itu aku membicarakan ini semua denganmu dulu. Aku takut jika kamu tidak akan setuju dan benar saja ternyata dugaan ku benar," timpal Adit.
"Bukannya aku tidak setuju mas, tapi kita harus bisa mengatur keuangan rumah tangga kita. Aku saja tidak pernah menerima uang sebanyak itu untuk kebutuhan kita, lalu bagaimana kamu akan memberikan uang sebanyak itu untuk Aurel," tukas Nisa yang menyampaikan keberatannya.
Mendengar hal itu membuat Adit merasa jika yang dikatakan Nisa memang ada benarnya juga. Adit memang tidak pernah memberikan nafkah sebanyak itu pada Nisa, bagaimana ia akan memberikan uang sebanyak itu setiap bulannya kepada Aurel.
Untuk beberapa saat Adit terdiam memikirkan segalanya. Adit merasa bingung harus berbuat apa. Jika Adit tidak memberikan nafkah sebanyak itu mungkin Adit tidak akan pernah bertemu dengan Aurel kembali.
"Iya Nisa kamu memang benar. Aku tidak akan menyetujui kesepakatan ini. Kalau begitu aku akan merebut Aurel saja," tambah Nisa.
__ADS_1
Keesokan harinya Adit kembali bertemu dengan Dina. Sudah sejak kemarin Adit ingin mengatakan keberatannya kepada Dina jika ia tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Maaf Dina aku tidak bisa memenuhi keinginan mu. Jika kamu tidak sanggup mengurus Aurel, biar aku saja yang akan mengurus Aurel," tambah Adit.
"Tidak! Aku tidak akan memberikan Aurel kepadamu!" pekik Dina.
"Tapi Din," timpal Adit.
"Aku bilang tidak ya tidak!" pekik Dina lagi.
Mendengar hal itu membuat Dina merasa kesal. Tanpa berbicara apa-apa lagi Dina segera pergi meninggalkan Adit. Dina segera pulang dan mencoba mencari cara agar Aurel tidak jatuh ke tangan Adit.
Beberapa hari kemudian Adit datang dan membawa seorang pengacara.
"Dina! Dina! Keluarlah!" pekik Adit.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Adit harus melakukan cara ini. Meski awalnya Adit tidak mau tapi Dina memaksanya untuk bersikap seperti ini.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi membawa Aurel!" pekik Dina saat membuka kan pintu.
"Maaf nyonya tapi kami terpaksa harus melakukan semua ini," timpal pengacara itu
"Jika anda tidak menuruti hukum maka kami terpaksa harus melakukan kekerasan," ucap pengacara itu.
Pengacara itu sengaja membawa seorang polisi agar Dina merasa takut. Merasa takut karena ia akan di penjarakan karena tidak mentaati hukum akhirnya Dina menuruti apa yang Adit mau.
Adit menyerahkan hak asuh anaknya kepada pengacara. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya hak asuh Aurel jadi ke tangan Adit. Dina yang merasa kecewa tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ini sudah sah di mata hukum. Jika Dina tidak menuruti semua ini maka ia akan berurusan dengan hukum.
"Yeay, akhirnya aku bisa tinggal dengan ayah," sorak Aurel yang merasa sangat senang karena akhirnya ia terbebas dari ibunya.
"Iya sayang, sekarang kamu tinggal sama ayah ya," ujar Adit yang sama-sama merasa senang.
__ADS_1