Bukan Niatku

Bukan Niatku
38. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Isan datang bersama keluarganya untuk melamar Dina. Setelah beberapa kali berkunjung ke rumah Dina, kini Isan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.


Terutama pada ibunya Dina. Isan meminta izin kepada ibunya untuk segera menikahi Dina. Beruntung akhirnya ibunya Dina memberikan restu kepada hubungan mereka berdua.


"Terima kasih banyak bu karena sudah memberikan restu kepada hubungan kami," ujar Isan setelah ibunya Dina memberikan restu.


"Sama-sama nak," jawab Ibunya Dina.


Setelah beberapa hari kemudian, Isan dan Dina mulai merencanakan pernikahan mereka. Mereka akan menikah secara sederhana dan tidak begitu mewah. Hanya keluarga terdekat dan teman terdekat saja yang mereka undang.


Beberapa minggu berlalu, kini tiba saatnya bagi Isan dan Dina untuk segera menikah.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sekarang silahkan suami mencium kening istri, dan istri mencium punggung tangan suami," ujar pak penghulu setelah menikahkan mereka berdua.


"Aamiin," jawab mereka serempak.

__ADS_1


Kini Isan segera mencium kening Dina. Begitupun sebaliknya Dina segera mencium punggung tangan kanan suaminya. Mereka sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Setelah pernikahan itu selesai, mereka menyelesaikan formalitas seperti biasanya menandatangi berkas-berkas pernikahan. Beberapa tamu ada yang segera memberikan selamat kepada pengantin, ada juga yang mengambil makanan terlebih dahulu.


Meski tidak di lakukan secara mewah tapi pernikahan itu tetap berjalan ramai dan meriah. Isan beruntung karena akhirnya hubungan mereka sudah resmi.


"Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng dan segera diberikan momongan," ujar salah seorang teman yang memberikan selamat.


"Terima kasih bro," tukas Isan.


Isan, Dina dan ibunya pun segera bergegas pulang untuk segera beristirahat.


"Ibu mau istirahat duluan ya, kalian juga," ucap Ibunya Dina sesaat sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Iya bu," jawab mereka serempak.

__ADS_1


Isan dan Dina pun segera bergegas menuju kamar mereka untuk beristirahat. Isan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Dina membersihkan diri terlebih dahulu dan mencuci muka.


Beberapa saat kemudian saat Dina keluar dari kamar mandi ternyata Isan sudah tertidur dengan begitu pulasnya. Mungkin karena seharian terus saja berdiri yang membuat dirinya merasa lelah.


"Syukurlah kamu sudah tidur Isan," gumam Dina dalam hati.


Perlahan Dina segera merebahkan tubuhnya di samping Isan. Dia juga merasakan lelah setelah hampir seharian berdiri menyalami para tamu. Berita pernikahan Dina pun sampai di telinga Adit dan Nisa namun mereka tidak datang, sebab mereka tidak di undang bahkan tidak di beri tahu.


Bahkan Aurel pun tidak Dina beritahu sebelumnya sebab ia merasa bingung apa yang harus ia katakan pada anak sekecil itu. Biar waktu saja yang akan menjawabnya.


Bagi Dina rasanya tidak perlu memberitahukan yang sebenarnya kepada anak seusia Aurel. Toh nanti juga seiring berjalannya waktu, dia akan mengetahui segalanya.


Kini belum saatnya bagi Aurel untuk memahami segalanya.


"Maafkan mamah nak, mamah tidak memberitahukanmu tentang pernikahan mamah ini," gumam batin Dina yang tiba-tiba teringat akan anaknya.

__ADS_1


Meski lelah tapi Dina masih belum bisa memejamkan matanya karena teringat akan anaknya yang berada jauh darinya.


__ADS_2