Bukan Niatku

Bukan Niatku
9. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Nisa masih belum bisa melupakan kejadian kemarin. Entah mengapa rasanya masih sakit jika mengingat gambar-gambar suaminya kemarin. Meski Nisa mencoba melupakan kejadian itu tapi tetap saja dia tidak bisa melupakannya.


Pagi itu seperti biasa Nisa sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun sedang marah tapi Nisa tidak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Ini makan dulu," tawar Nisa saat Adit baru saja turun dari kamarnya.


"Ya Nisa terima kasih," ujar Adit yang merasa senang karena kini Nisa sudah memperhatikannya kembali.


Adit segera turun ke meja makan untuk sarapan pagi. Nisa sengaja membuat makanan kesukaan suaminya yaitu soto ayam dan juga kerupuk udang. Melihat makanan kesukaannya membuat Adit semakin merasa lapar.


Akhirnya dengan sangat lahap Adit segera memakan makanannya.


"Kamu tidak ikut makan Nisa," tanya Adit yang malah melihat istrinya terdiam di hadapannya.


"Tidak, aku belum lapar. Nanti saja aku makan," jawab Nisa yang masih merasa kesal.


"Aku suapi ya," ujar Adit yang mencoba membujuk istrinya untuk makan.


"Tapi aku belum lapar," pekik Nisa.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi kerja dulu," timpal Adit yang segera menyelesaikan makannya dan segera bergegas pergi menuju kantornya.


"Ya," timpal Nisa datar.


Setelah suaminya berangkat, Nisa kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya yang tadi sempat tertunda. Namun di tengah-tengah kesibukannya tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.


"Siapa pagi-pagi seperti ini ada tamu," ujar Nisa yang segera membukakan pintu.


Saat Nisa membukakan pintu, ia merasa terkejut karena yang datang ternyata ayahnya Ruben Kusnadi.


"Ayah?" tanya Nisa yang masih tidak percaya dengan laki-laki yang berada di hadapannya ternyata ayahnya.


Ayahnya yang sudah sejak lama ia rindukan. Setelah menikah memang Nisa tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya. Ayahnya yang dulu sempat menentang pernikahan mereka.


"Apa kabar nak?" jawab ayah yang segera merentangkan tangannya.


Melihat ayahnya yang sudah merentangkan tangannya membuat Nisa spontan memeluk ayahnya yang sudah sejak lama ia rindukan.


"Kabar baik yah, ayah sendiri bagaimana?"


"Ayah juga baik."

__ADS_1


"Silahkan masuk ya," ajak Nisa setelah beberapa saat mereka berpelukan.


Ruben pun segera masuk ke dalam rumah. Ruben memperhatikan seisi rumah yang rapi dan bersih.


"Oiya dimana suamimu?" tanya Ruben yang tidak melihat keberadaan menantunya.


"Adit kerja yah," jawab Nisa sambil bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.


"Oiya ayah lupa."


Beberapa saat kemudian Nisa datang dengan membawa segelas kopi beserta kuenya.


"Wah terima kasih, ayah jadi merepotkan ya?" ujar Ruben.


"Tidak yah, ini hanya kopi saja," tukas Nisa sambil menyodorkan kopi itu diatas meja.


"Bagaimana dengan pernikahanmu nak? apa baik-baik saja?" tanya Ruben spontan yang ingin mengetahui keadaan rumah tangga anaknya.


Mendengar hal itu membuat Nisa terkejut, pasalnya kemarin mereka baru saja bertengkar. Akan tetapi sangat tidak mungkin jika Nisa harus menceritakan masalahnya kepada sang ayah.


"Tidak yah, alhamdulillah pernikahan kami baik-baik saja," jawab Nisa yang terpaksa harus berbohong.


"Syukurlah kalau begitu, ayah merasa lega," timpal Ruben.


Nisa merasa senang karena ayahnya kini begitu perhatian. Untuk beberapa saat mereka berbincang membicarakan banyak hal. Akhirnya setelah puas berbincang, Ruben segera pamit dan pulang menuju rumahnya.


"Apa ayah tidak akan menginap? Kita makan dulu yah," ajak Nisa.


"Tidak nak terima kasih, ayah masih kenyang. Lagi pula besok ayah harus bekerja," jawab Ruben sambil bersiap pergi.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan yah. Ini ada sedikit makanan untuk ayah," timpal Nisa sambil memberikan bungkusan berisi nasi beserta pauknya serta beberapa macam kue.


"Wah terima kasih banyak nak," ucap Ruben.


"Iya yah sama-sama."


Akhirnya Ruben pun segera bergegas pergi meninggalkan rumah Nisa. Walau hanya sebentar saja tapi Ruben merasa sangat senang karena ia bisa menemui anaknya.


Walaupun dulu sempat marah karena pernikahan mereka, tapi seiring berjalannya waktu Ruben bisa menerima pernikahan anaknya. Walau bagaimanapun Nisa merupakan anak satu-satunya yang di miliki Ruben.


Karena ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Nisa.

__ADS_1


Sementara di tempat lain Adit masih merasa bersalah dengan Nisa. Walau bagaimanapun Adit harus meminta maaf.


"Pulang kerja nanti aku harus minta maaf pada Nisa. Sepertinya aku harus membeli sesuatu agar Nisa merasa senang," gumam batin Adit yang kini merasa senang dan tersenyum simpul.


Tak terasa karena seharian bekerja, kini tiba saatnya untuk pulang. Adit berniat untuk membeli bunga mawar dan membeli coklat kesukaan Nisa.


"Nisa pasti senang saat melihat ini," ujar Adit setelah membeli bunga dan juga coklat.


Adit pun segera mempercepat laju kendaraannya agar ia lebih cepat sampai ke rumah. Satu jam kemudian akhirnya Adit tiba di rumah.


"Aku pulang," ujar Adit saat membuka pintu dan segera masuk.


"Kamu sudah pulang," timpal Nisa yang masih terlihat kesal.


"Surprise, maafkan aku Nisa," tukas Adit yang segera mengeluarkan bunga dan coklat yang ia sembunyikan di belakang tangannya.


Melihat bunga serta coklat yang dibawa suaminya membuat Nisa tersenyum simpul. Nisa merasa senang karena tidak biasanya Adit bersikap demikian.


"Please, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi," ucap Adit yang kini berlutut di hadapan Nisa.


"Eh, Eh tidak perlu seperti ini," timpal Nisa yang segera membangunkan suaminya.


"Jadi apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Adit memastikan.


"Iya, aku sudah memaafkan kamu dit," ucap Nisa sambil tersenyum.


Semarah apapun Nisa, dia tidak bisa marah terlalu lama pada suaminya. Di tambah lagi dengan Adit yang membawa bunga serta coklat kesukaannya membuat Nisa merasa begitu bahagia.


"Terima kasih Nisa," ujar Adit sambil memeluk istrinya.


"Sama-sama dit," tukas Nisa.


Adit merasa sangat lega saat Nisa sudah bisa memaafkannya. Walau bagaimanapun Adit tidak mau melihat Nisa yang terus-terusan cemberut saat melihatnya. Beruntung cara yanh Adit gunakan akhirnya manjur juga walau hanya bermodalkan bunga mawar dan juga coklat.


Kini mereka kembali harmonis dan hidup bahagia.


"Sudah lama aku sangat merindukan kamu Nis," ujar Adit sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Aku juga dit," timpal Nisa.


Setelah pertengkaran itu, mereka kini saling berbaikan dan ingin melakukan penyatuan cinta karena sudah beberapa hari ini perang dingin. Setelah adanya masalah itu, ikatan diantara mereka pun semakin kuat.

__ADS_1


Nisa merasa senang karena Adit mau meminta maaf dan memulai semuanya dari awal lagi. Begitupun dengan Adit yang merasa bahagia karena Nisa kini tidak terlihat kesal lagi.


__ADS_2