Bukan Niatku

Bukan Niatku
31. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nisa sudah pergi bekerja. Namun tidak seperti biasanya hari ini Nisa merasa tidak bersemangat saat akan pergi bekerja. Entah mengapa rasanya begitu malas dan tidak bersemangat.


Seperti biasa Nisa pun memesan ojeg online agar lebih cepat sampai pabrik. Satu jam kemudian tibalah Nisa di pabrik itu. Namun saat akan masuk ke dalam pabrik tiba-tiba Nisa merasa pusing.


"Aduh, ada apa dengan kepalaku," ujar Nisa sambil memegangi kepalanya.


Di saat yang bersamaan Arya baru saja tiba dan ia melihat Nisa yang seperti akan terjatuh. Arya spontan berlari dan menangkap Nisa yang akan terjatuh.


"Nisa!" pekik Arya.


Namun Nisa jatuh pingsan di pelukan Arya dan tidak sadarkan diri. Arya yang panik segera membopong Nisa menuju klinik yang ada di pabriknya. Nisa pun segera di periksa dan untuk beberapa saat tidak sadarkan diri.


"Nisa bangun Nisa!" ujar Arya yang merasa khawatir saat melihat keadaan Nisa.


"Cepat periksa dia dokter!" titah Arya pada dokter yang sedang berjaga saat itu.


"Baik pak," timpal dokter itu yang segera memeriksa keadaan Nisa.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Nisa menjalani pemeriksaan namun beruntung Nisa tidak apa-apa.


"Pasien hanya kelelahan saja pak, anda tidak perlu khawatir," ujar dokter itu.


"Syukurlah," ucap Arya yang merasa lega setelah mendengar ucapan dokter itu.


"Aku sedang berada di mana?" lirih Nisa yang mulai siuman.


"Nisa, apa kamu tidak apa-apa. Tadi kamu pingsan dan tidak sadarkan diri," jawab Arya menjelaskan.


"Apa pingsan?" tanya Nisa yang tak percaya. Nisa terbangun dari pembaringannya dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Tapi aku harus bekerja, aku tidak mungkin berada di sini seharian kan," lirih Nisa.


"Tidak Nisa tidak, kamu harus tetap disini. Kamu harus istirahat dulu karena dokter bilang kamu kelelahan."


Mendengar kata-kata Arya akhirnya mau tidak mau Nisa harus beristirahat. Memang benar apa yang di katakan dokter itu. Nisa merasa lemas dan kepala nya begitu pusing. Nisa pun akhirnya beristirahat di klinik itu.

__ADS_1


Arya segera bergegas mencari makanan untuk Nisa. Tak berapa lama Arya kembali dengan membawa semangkuk bubur yang masih hangat.


"Nisa, ini makanlah dulu," ujar Arya yang membangunkan Nisa saat ia tertidur.


"Arya, seharusnya tidak perlu seperti ini. Aku merasa tidak enak. Apa yang akan dikatakan karyawan lain nanti," tukas Nisa yang merasa tidak enak.


"Ah sudahlah, jangan memikirkan orang lain. Yang terpenting saat ini kesehatan kamu Nisa. Ini cepat makanlah dulu, lalu minum obat," titah Arya.


Arya pun mulai menyuapi Nisa. Akan tetapi Nisa justru mengambil alih sendoknya dan memakan buburnya sendiri.


"Biar aku saja ya," timpal Nisa yang segera mengambil sendok yang berada di tangan Arya. Nisa menyadari jika saat ini dia sudah menikah dan sudah memiliki seorang suami.


Untuk itu Nisa tidak membiarkan Arya menyuapinya.


"Maaf Nisa," ucap Arya yang merasa tidak enak.


"Seharusnya aku yang minta maaf ya. Tidak seharusnya kamu seperti ini kepadaku ya," lirih Nisa.

__ADS_1


"Aku begini karena aku masih perduli sama kamu Nis, aku masih.." ucap Arya yang tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa tidak seharusnya mengungkapkan perasaan nya.


Sementara Nisa hanya terdiam dan merasa bingung. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini.


__ADS_2