Bukan Niatku

Bukan Niatku
21. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Merasa takut akan terjadi hal seperti kemarin, Dina mencoba mencari cara agar ia bisa mendapatkan uang lagi dari Adit. Dina masih tetap memakai alasan Aurel untuk mendapatkan apa yang di mau.


Dina berencana untuk membuat perjanjian dengan Adit. Hari ini Dina dan Adit sudah membuat janji untuk bertemu. Sesuai kesepakatan mereka bertemu di tempat yang biasa mereka kunjungi.


"Maaf aku telat," ujar Adit yang baru saja tiba dengan nafas yang terengah. Adit langsung bergegas menuju tempat yang sudah mereka sepakati sepulang bekerja.


"Tidak masalah," jawab Dina ketus.


"Apa kamu sudah pesan makan?" tanya Adit yang melihat ke arah Dina namun masih belum ada makanan ataupun minuman di depannya.


"Belum," jawab Dina singkat.


"Ya sudah kamu pesan saja dulu. Aku lapar, aku ingin kita makan dulu," tukas Adit yang sudah merasa keroncongan sejak tadi. Seharian bekerja membuat Adit merasa begitu lapar.


"Oke!" timpal Dina.


Dengan senang hati Dina segera memesan makanan kesukaannya dan kesukaan Adit. Dina masih hafal benar makanan kesukaan mantan suaminya. Ya Adit sangat suka makan spageti saat berkunjung ke tempat ini.


Dina juga tidak lupa memesankan minuman kesukaan Adit yaitu orange jus. Selesai memesan makanan untuk Adit, kini Dina memesan makanan untuk dirinya sendiri. Tak berapa lama akhirnya Dina memilih steak ayam dan juga minuman rasa vanila latte.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan datang mereka pun membicarakan tentang Aurel.


"Oiya kenapa kamu tidak membawa Aurel kemari?" tanya Adit sambil menautkan kedua halisnya.


"Tidak, sudah aku coba ajak tapi Aurel tidak mau," jawab Dina datar, padahal yang sebenarnya Dina tidak pernah mengajak Aurel.


"Oh.." timpal Adit yang tak kalah datar.


Tak berapa lama akhirnya pesanan mereka datang. Mereka segera menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Terutama Adit yang merasa sudah sangat lapar sejak tadi.


"Selamat makan," ujar Adit yang segera menyantap makanannya.


"Aku hanya menebaknya saja dan ternyata tebakan aku itu benar," timpal Dina.


Untuk beberapa saat mereka berdua menikmati makanan yang mereka pesan. Rasanya tidak ada masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka kini terlihat begitu akrab.


Tak berapa lama akhirnya mereka selesai makan.


"Oiya Dina apa sebenarnya maksud kamu mengajak kita bertemu?" tanya Adit yang sejak tadi sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin di katakan Dina.

__ADS_1


"Sebenarnya maksud aku mengajak kita bertemu yaitu untuk membuat kesepakatan," timpal Dina.


.


"Kesepakatan? kesepakatan apa maksudmu?" tanya Adit yang lagi-lagi menautkan kedua halisnya karena masih merasa bingung.


"Kesepakatan jika biaya hidup Aurel akan bertambah. Aku tidak mau tahu jika Aurel harus mendapatkan uang 2 juta sebulan untuk keperluannya," timpal Dina asal.


"Apa 2 juta sebulan? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Adit meyakinkan.


"Iya kenapa? Apa kamu merasa keberatan?" tanya Dina balik.


"Bukan begitu, aku harus membicarakan ini dengan Nisa terlebih dulu," jawab Adit.


Walau bagaimanapun Nisa harus tahu soal ini. Adit tidak bisa mengambil keputusan secepat ini. Sebelum menyetujuinya Adit harus minta persetujuan dari Nisa terlebih dahulu sebab dia adalah istrinya.


Adit tidak mau jika Nisa akan kecewa dengan keputusannya. Adit benar-benar harus membicarakan semua ini terlebih dulu dengan Nisa.


"Mungkin beberapa hari kemudian aku akan memberikan kabar kepadamu," ucap Adit setelah beberapa saat berfikir.

__ADS_1


"Oke baiklah!"


__ADS_2