
Hari ini Dina merasa begitu senang karena ia mendapatkan sejumlah uang dari Adit. Dengan uang itu Dina bisa membeli semua barang-barang keinginannya. Sudah sejak lama Dina tidak bisa bebas berbelanja seperti yang dulu ia lakukan saat masih menjadi istri dari Adit.
Sekarang Dina harus menjadikan Aurel sebagai alasan agar ia mau mengirimnya sejumlah uang.
"Yes, akhirnya uang aku masuk juga," ujar Dina saat melihat notif ada uang masuk di dalam ponselnya.
Setelah menerima notif itu Dina segera bersiap untuk pergi ke sebuah mall. Namun ia tidak membawa serta anaknya. Aurel di tinggalkan di rumah seorang diri.
"Mamah mau kemana sudah rapi begini?" tanya Aurel yang melihat ibunya sudah bersiap akan pergi.
"Mamah ada perlu sebentar, kamu tunggu di rumah ya," jawab Dina yang segera bergegas pergi.
"Tapi mah, aku tidak mau sendirian di rumah," lirih Aurel.
"Mamah tidak akan lama, cuma sebentar," tukas Dina yang malah sengaja meninggalkan Aurel seorang diri meski ia menangis.
"Mah, mamah.. Jangan tinggalkan aku.." lirih Aurel yang mulai terisak menangisi kepergian ibunya.
Namun bukannya kembali karena melihat anaknya menangis, Dina justru tidak perduli. Dina malah mempercepat langkahnya dan segera menaiki taksi. Sementara Aurel tetap saja menangis dan segera masuk ke dalam rumahnya setelah ibunya pergi.
"Mah, kenapa mamah tinggalin aku," ujar Aurel yang terus terisak di dalam kamarnya. Untuk beberapa saat Aurel menangis hingga akhirnya ia tertidur karena lelah.
Sementara di tempat lain Dina justru sedang asyik menghamburkan uang pemberian Adit yang tadinya ia berikan untuk keperluan Aurel. Pertama masuk mall Dina langsung masuk ke dalam salon langganannya.
Dia merimbonding rambutnya serta mewarnai rambutnya agar terlihat lebih segar. Entah sudah berapa lama Dina berada di salon. Yang jelas untuk merimbonding memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Selesai mewarnai rambutnya Dina pun merasa lapar dan ingin bergegas pergi ke lantai atas yang khusus manual beraneka makanan.
"Senangnya hari ini bisa ke salon, tapi perutku sudah sangat lapar," gumam batin Dina yang segera bergegas menuju lantai paling atas.
Sesampainya di atas Dina merasa bingung karena terdapat banyak menu pilihan yang harus ia pilih. Merasa sudah sangat lapar akhirnya Dina memesan nasi beserta soto ayam yang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Mba! Mba!" panggil Dina pada seorang waitress yang berlalu di hadapannya.
"Iya bu silahkan mau pesan apa?" tanya waitress wanita itu yang segera menyodorkan sebuah buku menu kepada Dina.
"Aku pesan ini saja dan jus mangga ya," jawab Dina yang segera memilih menu pertama yang ia lihat di buku itu.
"Baik bu, mohon di tunggu sebentar," ujar waitress itu sambil bergegas menuju dapur.
Untuk beberapa saat Dina menunggu pesanannya. Sambil menunggu pesanannya datang Dina membuka ponselnya dan mengambil beberapa gambar dirinya. Dina merasa sangat senang saat melihat foto dirinya sendiri.
Wajah baru dan gaya baru rambutnya yang semakin membuat Dina semakin percaya diri.
"Wah, bagus-bagus fotonya. Warna rambutnya juga bagus," gumam batin. Dina yang memuji dirinya sendiri.
Dina sendiri memilih warna merah marun untuk mewarnai rambutnya. Dengan rambut yang terurai panjang dan lurus karena sudah di ribonding Dina mengibaskan rambutnya.
Tak berapa lama kemudian akhirnya pesanan Dina datang juga. Merasa sudah keroncongan sejak tadi akhirnya Dina langsung menyantap makanan yang berada di hadapannya.
Di seberang Dina, secara bersamaan Adit dan Nisa sedang pergi jalan-jalan ke sebuah mall yang sama dengan Dina. Namun saat akan melangkahkan kakinya Nisa seperti melihat Dina.
"Mana? Mungkin kamu salah orang," tukas Adit yang belum melihat keberadaan Dina.
"Itu mas yang lagi duduk, tapi warna rambutnya berbeda. Sepertinya dia habis mewarnai rambutnya," tambah Nisa yang merasa yakin jika orang yang di lihatnya memang beneran Dina.
"Iya ya orang itu mirip sekali dengan Dina, tapi kenapa Aurel tidak bersamanya," ucap Adit yang tidak melihat keberadaan Aurel di dekat Dina.
"Ya sudah kita kesana mas buat memastikan," ajak Nisa.
Setuju dengan ajakan Nisa, mereka berdua pun segera bergegas menghampiri Dina yang sedang asyik menyantap minumannya.
"Mba Dina!" panggil Nisa yang berada di belakang Dina.
__ADS_1
"Loh kamu lagi apa disini?" tanya Dina yang menautkan kedua halisnya. Dina benar-benar terkejut dengan kedatangan Nisa.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu sedang apa disini? Dimana Aurel?" tanya Adit yang mulai penasaran sejak tadi karena tidak melihat keberadaan anaknya bersama ibunya.
"Mmh, Aurel ada di rumah," jawab Dina gugup.
"Apa? di rumah? tapi dengan siapa? Kenapa kamu tidak mengajak nya ikut bersamamu ke sini," cerca Adit yang menanyai Dina dengan beberapa pertanyaan.
Dina merasa gugup saat Adit menanyai tentang Aurel. Dia merasa bingung harus mengatakan apa pada Adit jika Aurel di tinggalkan sendiri di rumah. Untuk beberapa saat Dina terdiam.
"Dina apa kau mendengar ku?" tanya Adit.
"I, iya. Aurel di rumah dengan asisten rumah tangga ku," jawab Dina asal. Padahal sejak lama tidak ada asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Dina justru meninggalkan Aurel seorang diri di rumah.
Mendengar hal itu membuat Adit merasa lega. Awalnya Adit merasa tidak tenang karena ia pikir Aurel di tinggal di rumah seorang diri. Namun setelah Dina mengatakan hal itu membuat Adit merasa tenang.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi mba," pamit Nisa dan Adit yang segera meninggalkan Dina.
"Huft, untuk mereka percaya dengan kata-kata aku," gumam batin Dina.
Selesai menghabiskan minumannya Dina pun segera meninggalkan tempat itu karena mulai tidak tenang setelah bertemu dengan Adit dan Nisa. Dina takut jika kebohongannya akan terbongkar.
Dina pun akhirnya segera memesan taksi online dan segera bergegas pulang. Satu jam kemudian Dina tiba di rumah. Sesampainya di rumah Dina langsung mencari keberadaan Aurel.
"Dimana anak itu?" tanya Dina dalam hati.
"Aurel, Aurel, kamu dimana?" pekik Dina yang mencari Aurel di seluruh ruangan.
Dina pun mencari Aurel kemana-mana. Namun saat masuk ke dalam kamar Dina melihat Aurel yang sudah terbaring di pinggir ranjang.
"Aurel, Aurel, kamu kenapa?" tanya Dina sambil membangunkan Aurel.
__ADS_1
"Aku lapar mah, perutku sakit," lirih Aurel yang hampir tidak sadarkan diri karena sejak tadi merasa kelaparan. Hingga akhirnya Aurel benar-benar tidak sadarkan diri.
"Aurel, Aurel, apa yang harus aku lakukan? Aurel sekarang benar-benar pingsan," gumam batin Dina yang merasa kebingungan harus melakukan apa lagi.