Bukan Niatku

Bukan Niatku
20. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Akhirnya tanpa sepengetahuan Dina, Adit segera membawa Aurel pergi dari rumah ibu mertuanya. Sofia yang menyaksikan hal itupun hanya terdiam. Sofia juga tidak bisa menghalangi Aurel untuk pergi bersama ayahnya, sebab dia juga memiliki hak yang sama.


Sebelum pergi, Sofia mencium kening Aurel terlebih dahulu dan memeluknya terlebih dahulu. Begitupun Aurel yang berpamitan terlebih dahulu kepada neneknya. Aurel menyalami dan memeluk neneknya sebelum ia pergi.


"Aku ingin ikut dengan ayah nek," ujar Aurel sambil memeluk neneknya.


"Iya sayang hati-hati ya, pergilah sebelum ibumu datang," timpal Sofia.


"Ayo cepat Aurel!" ajak Adit yang ingin segera membawa anaknya.


"Iya yah," jawab Aurel.


Namun baru saja mereka melangkahkan kakinya beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara Dina. Dina sendiri baru saja pulang berbelanja.


"Aurel tunggu!" pekik Dina.


"Kamu mau kemana nak?" tanya Dina yang spontan menghentikan langkah Aurel.


"Aku mau ikut ayah," jawab Aurel yang segera mendekat kepada ayahnya dan memegang tangan ayahnya.


"Tidak bisa Aurel, kamu harus tetap bersama mamah!" pekik Dina yang kembali menarik tangan Aurel.


"Dina lepas kan Aurel, dia kesakitan," ujar Adit yang merasa kasihan kepada Aurel.


"Tidak! Aurel tidak boleh kemana-mana!" pekik Dina.


Untuk beberapa saat mereka pun beradu mulut. Sofia yang menyaksikan pertengkaran mereka pun hanya terdiam. Sofia merasa bingung harus membela siapa. Di sisi lain Dina adalah anaknya, namun di lain sisi Sofia juga merasa kasihan kepada Aurel.


Sofia juga tahu jika Aurel tidak ingin tinggal bersama ibunya. Sejak kemarin Aurel bercerita kepada Sofia jika ia ingin ikut bersama ayahnya. Maka dari itu dia membiarkan Aurel pergi bersama ayahnya.


Tapi sekarang entah apa yang akan terjadi karena tiba-tiba saja Dina datang mencegah kepergian mereka.


"Tapi mah aku ingin ikut ayah," lirih Aurel.


"Mamah bilang tidak ya tidak!" pekik Dina sambil menyeret Aurel menuju rumahnya.


"Dina jangan seperti itu, kasihan Aurel!" timpal Adit.


Adit yang tidak tega melihat Aurel mencoba mengalah. Adit akhirnya membiarkan Aurel dengan Dina lagi karena ia merasa kasihan.

__ADS_1


"Oke aku tidak akan membawa Aurel tapi biarkan aku berbicara dengan Aurel sebentar saja," ujar Adit.


"Baiklah kalau begitu," ucap Dina.


Setelah Dina setuju, Adit mencoba berbicara pada Aurel. Meski sebenarnya berat tapi Adit harus mengalah demi kebaikan Aurel.


"Begini Aurel sayang, besok ayah akan menjemput mu lagi kemari. Sekarang kamu tinggal bersama ibu dulu ya," ujar Adit dengan nada lembut.


"Iya yah," timpal Aurel yang mengerti dengan ucapan sang ayah.


Akhirnya dengan berat hati Adit pergi dengan tangan kosong. Adit harus pergi tanpa Aurel. Walau bagaimanapun Adit merasa tidak suka saat Aurel tidak di perlakukan dengan baik.


Tidak ingin Aurel disakiti akhirnya Adit mengalah juga.


"Dina apa kamu tidak kasihan dengan Adit sudah jauh-jauh datang kemari," ujar Sofia.


"Sudah biarkan saja bu, lagian siapa suruh dia datang kesini," timpal Dina ketus.


"Tidak apa bu, lagipula Aurel juga sudah mengerti. Kalau begitu saya permisi bu," pamit Adit yang segera bergegas pergi.


"Kamu itu tega sekali Dina," ujar Sofia sesaat sebelum masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Dina merasa tidak bersalah sedikitpun. Untung saja Dina bisa pulang lebih cepat. Jika ia terlambat sedikit saja maka Aurel pasti sudah pergi dengan Adit. Dina merasa senang karena Adit tidak bisa membawa Aurel pergi.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam batin Adit sambil mengacak rambutnya secara kasar.


Adit benar-benar merasa frustasi karena hal ini. Entah apa yang harus dia lakukan, yang jelas Adit merasa begitu bingung.


Di tempat lain Nisa baru saja pulang bekerja. Namun saat Nisa tiba ternyata suaminya tidak di rumah.


"kemana mas Adit ya? Kenapa dia belum pulang?" gumam batin Nisa.


Nisa merasa khawatir karena tidak biasanya seperti ini. Biasanya saat Nisa pulang, Adit sudah berada di rumah lebih dulu. Tapi hari ini perasaan Nisa merasa tidak enak. Merasa khawatir Nisa mencoba menghubungi suaminya dan menanyakan keberadaan suaminya.


📱"Dimana mas? Kenapa masih belum pulang?"


📱"Mas masih dalam perjalanan, kamu istirahat saja. Pintunya juga kunci saja, mas bawa kunci cadangan kok."


Setelah menelpon suaminya membuat Nisa merasa tenang karena ia sedang dalam perjalanan pulang. Namun Adit tidak menceritakan jika ia sudah menemui Dina dan Aurel.

__ADS_1


Adit hanya diam saja tanpa bercerita apa-apa. Sedangkan Nisa merasa tenang setelah menghubungi suaminya. Sepulang bekerja membuat perut Nisa terasa keroncongan.


"Aduh rasanya lapar sekali," gumam batin Nisa.


Merasa lapar Nisa pun bergegas menuju dapur untuk membuat masakan. Namun saat dia membuka kulkas ternyata tidak ada stok sayuran. Nisa lupa belum belanja sayuran ketika dia sakit kemarin.


Akhirnya Nisa pun hanya memasak mie instan ditambah telur. Tidak lupa ia juga menambahkan irisan cabai kesukaannya.


"Apa mas Adit sudah makan ya?" gumam batin Nisa yang teringat akan suaminya saat sedang makan.


Merasa kenyang karena sudah memakan mie. Nisa pun segera bergegas untuk beristirahat. Selesai melaksanakan sholat Nisa segera membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Karena belum merasa mengantuk Nisa mencoba membuka aplikasi biru tempat ia menulis. Rasanya sudah beberapa hari ini Nisa tidak membuat cerita. Mumpung masih ada ide, Nisa mencoba mencurahkan perasaannya lewat sebuah tulisan.


Nisa mencoba membuat cerita yang baru. Meski belum terlalu mahir tapi Nisa mencoba untuk merangkai kata-kata. Meski masih banyak kekurangan tapi Nisa berusaha keras untuk membuat cerita itu.


Merasa kelelahan sebab sejak tadi matanya menatap layar ponsel, Nisa tiba-tiba saja tertidur. Tak berapa lama Adit datang, ia langsung membopong istrinya ke atas ranjang.


Karena Nisa tertidur dengan posisi yang tidak mengenakan.


"Kasihan kamu Nisa pasti kelelahan setelah seharian bekerja," gumam batin Adit sambil membetulkan posisi tidur anaknya.


Di saat Adit membetulkan posisi tidurnya,Nisa tidak berkutik sedikitpun. Dia justru tersenyum sendiri mungkin karena sedang bermimpi.


"Mimpi indah Nisa," ujar Adit yang mencium kening Nisa sesaat sebelum pergi untuk mengganti pakaian.


Tidak ada jawaban, karena Nisa tertidur begitu pulasnya karena kelelahan.


Keesokan harinya saat Nisa terbangun, Nisa merasa begitu tenang.


"kenapa aku ada disini?" tanya Nisa dalam hati.


Saat Nisa melihat ke arah samping ternyata suaminya sedang tertidur begitu pulasnya.


"loh mas Adit kapan pulang? apa mas Adit yang memindahkan aku," gumam batin Nisa.


Nisa pun segera bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan. Seperti biasa setelah memasak Nisa membereskan pekerjaan rumah dan segera bersiap untuk bekerja.


"Semalam pulang jam berapa mas? Aku ga tau mas pulang jam berapa," tanya Nisa.

__ADS_1


"Jam berapa ya mas juga lupa, soalnya mas ga lihat jam," jawab Adit.


"Oh ya sudah makan dulu mas," tawar Nisa.


__ADS_2