
Setelah hampir seharian berada di klinik, kini keadaan Nisa sudah semakin membaik. Nisa pun bersiap pulang karena jam kerja sudah berakhir. Arya yang melihat Nisa mencoba untuk mengantar Nisa pulang.
"Biar aku antar Nisa," ujar Arya yang setengah berlari mengejar Nisa yang sedang berjalan.
"Tidak usah repot-repot ya, aku bisa pulang sendiri," tukas Nisa sambil tetap berjalan.
"Tapi Nisa, aku khawatir. Aku takut kejadian yang tadi akan terulang kembali," timpal Arya.
"Tapi ya," ucap Nisa lagi.
"Ah sudahlah ayo!" tukas Arya yang segera membukakan pintu mobilnya.
Merasa tidak enak karena Arya yang sudah membukakan pintu mobilnya akhirnya mau tidak mau Nisa masuk ke dalam mobil Arya. Nisa tidak bisa menolak karena Arya selalu bersikap baik kepadanya.
Hampir setengah perjalanan namun tidak ada pembicaraan diantara mereka. Nisa merasa tidak enak karena Arya selalu saja memperhatikannya.
"Ada apa Nisa? Kenapa sejak tadi aku perhatikan diam saja?" tanya Arya yang melihat Nisa sejak tadi terdiam.
__ADS_1
"Ah tidak, aku tidak apa-apa," jawab Nisa.
Tak berapa lama akhirnya mereka tiba di rumah Nisa. Namun di saat yang bersamaan, Adit ternyata sudah pulang lebih dulu dan sedang berada di teras rumah. Adit pun merasa kesal karena melihat istrinya yang diantar pulang oleh seorang laki-laki.
"Terima kasih Arya," ujar Nisa sesaat setelah turun dari mobilnya.
"Ya Nisa sama-sama, kalau begitu aku pamit pergi," pamit Arya yang segera bergegas pergi kembali.
Nisa mulai berjalan menuju rumahnya dengan hati-hati. Ada perasaan tidak enak yang dirasakan Nisa karena sejak tadi Adit memperhatikannya. Nisa di buat salah tingkah dengan perilaku Adit.
"Ya, hari ini aku pulang lebih cepat. Ngomong-ngomong yang tadi itu mobil siapa? kok pake diantar segala?" cerca Adit yang mengajukan beberapa pertanyaan karena merasa tidak suka saat melihat istrinya diantar oleh laki-laki lain.
"Yang tadi bos aku mas, kamu tahu? ternyata bos aku itu dulu teman sekolahku," jawab Nisa sambil tersenyum.
"Dia hebat ya mas bisa sampai seperti itu," tambah Nisa.
"Mmh, pantes saja kalian terlihat akrab. Pantas juga kamu begitu bersemangat saat pergi bekerja," celetuk Adit.
__ADS_1
"Apa maksud kamu mas? Aku biasa saja, tadi dia mengantarku pulang karena aku sedang kurang sehat. Tadi aku pingsan mas, makanya dia mengantarku pulang,"tambah Nisa.
Mendengar hal itu membuat Adit tidak percaya begitu saja. Adit merasa jika itu hanyalah alasan Nisa saja.
"Apa itu benar? atau kamu hanya pura-pura sakit saja hah?" tanya Adit lagi.
"Maksud kamu apa mas? tadi aku memang sakit, bahkan aku pingsan saat di pabrik," lirih Nisa.
"Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku jika kamu sakit, aku kan bisa menjemputku pulang," tukas Adit yang merasa kesal.
"Maafkan aku mas, tapi aku tidak mau membuat mu merasa khawatir mas," lirih Nisa.
"Ah sudahlah, aku tidak percaya. Itu pasti hanya akal-akalan mu saja agar kamu bisa dekat dengan dia kan?" tuduh Adit seenaknya.
Merasa tidak seperti apa yang dituduhkan suaminya membuat Nisa merasa kecewa. Nisa tidak menyangka jika Adit akan menuduhnya yang tidak-tidak.
"Terserah apa yang ingin kamu katakan mas, yang jelas aku tidak seperti itu," lirih Nisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan segera bergegas menuju kamarnya.
__ADS_1