Bukan Niatku

Bukan Niatku
30. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Keesokan harinya Mala masih merasa bersedih atas kejadian kemarin. Mala masih tidak menyangka jika kedua orang tuanya selalu saja bertengkar. Sesampainya di sekolah ia tidak banyak bicara.


Tidak seperti biasanya hari ini Mala terlihat begitu murung. Padahal Mala di kenal sebagai anak yang ceria dan periang. Bahkan Aurel selalu di buat tertawa oleh tingkahnya yang kocak.


Aurel yang sejak tadi memperhatikan Mala pun merasa ada yang aneh.


"Ada apa dengan Mala? Kenapa dia terlihat begitu pendiam hari ini? Apa dia sedang sakit?" gumam batin Aurel yang bertanya-tanya.


Merasa bingung karena temannya terlihat tidak seperti biasanya. Aurel segera menghampiri Mala dan segera menanyakannya.


"Ada apa Mala? apa kamu sedang sakit?" tanya Aurel saat menghampiri Mala yang sedang duduk di kelas sementara teman-teman yang lainnya sedang asyik bermain.


"Tidak Aurel, aku tidak apa-apa," jawab Mala lirih.


"Apa kamu sedang sakit Mala? Apa yang kamu rasakan?" tanya Aurel sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak juga Aurel, aku hanya merasa sedih karena kedua orang tuaku," lirih Mala yang kini terlihat begitu sedih.


"Kalau boleh tahu kenapa dengan kedua orang tua mu Mala?" selidik Aurel.


Sebagai teman dekatnya Aurel tidak ingin melihat temannya terlihat sedih.


"Orang tuaku Aurel, mereka selalu saja bertengkar. Aku kira selama ini keluargaku begitu harmonis, akan tetapi ternyata di belakang ku mereka selalu saja bertengkar," lirih Mala dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Orang dewasa memang seperti itu Mala, selalu saja ada perdebatan diantara mereka," tukas Aurel.


"Sabarlah Mala, mereka pasti akan berbaikan lagi," tambah Aurel.


Meski mereka masih kecil tapi mereka seperti orang yang dewasa. Mereka selalu mencurahkan isi hati mereka satu sama lain. Setelah berbicara dengan Aurel kini Mala merasa lebih baik.


Mala kembali tersenyum dan tidak terlihat sedih seperti tadi. Tak terasa karena sejak tadi terus memikirkan kedua orang tuanya membuat perut Mala merasa keroncongan. Merasa kesal Mala pergi lebih pagi dengan diantar oleh supir.

__ADS_1


"Aku lapar Aurel, kita pergi ke kantin yuk!" ajak Mala.


"Ayo!" jawab Aurel antusias.


Mereka berdua pun segera bergegas pergi ke kantin untuk makan siang. Mala memesan 2 nasi goreng dan 2 jus mangga untuk dirinya dan untuk Aurel. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang.


Mala yang sejak kemarin tidak makan karena memikirkan kedua orang tuanya, segera menyantap makanan yang berada di hadapannya. Aurel yang melihat Mala seperti kesurupan pun merasa heran.


"Pelan-pelan Mala, kamu lapar apa doyan? nanti tersedak loh!" ujar Aurel mengingatkan.


"Hehe, habisnya aku lapar sejak kemarin tidak makan," ucap Mala.


"Kamu ini ya, jangan seperti itu. Kalau kamu sampai sakit kan yang rugi diri kita sendiri," timpal Aurel yang selalu berkata bijak.


"Iya deh iya," jawab Mala sambil melanjutkan melahap makanannya dengan lebih hati-hati.

__ADS_1


Sementara Aurel hanya tersenyum melihat tingkah temannya. Aurel merasa sangat senang karena kini Mala terlihat lebih baik lagi. Sebagai seorang teman yang baik, Aurel tidak suka melihat Mala yang terlihat begitu sedih.


Aurel juga merasa mengerti akan perasaan yang di rasakan Mala. Melihat kedua orang tuanya yang seperti itu pasti bukanlah hal yang mudah.


__ADS_2