
Beberapa hari berlalu namut Adit masih belum bisa menemukan keberadaan anaknya. Bahkan ponsel ibunya saja masih tidak aktif sampai sekarang. Adit merasa bingung harus kemana lagi ia mencari Aurel.
"Kamu dimana nak? ayah sangat merindukanmu," gumam batin Adit yang mulai putus asa.
Sudah beberapa hari ini Adit mencari keberadaan Aurel akan tetapi hasilnya nihil. Entah kemana lagi Adit harus mencari anaknya. Yang jelas akhir-akhir ini Adit merasa begitu bingung.
"Ada apa mas?" tanya Nisa yang melihat suaminya terdiam sejak tadi.
"Aku sedang memikirkan Aurel Nisa, aku merasa bingung harus mencari Aurel kemana lagi," jawab Adit lirih.
"Sabar mas, nanti juga Aurel pasti ketemu," ujar Nisa yang mencoba menenangkan suaminya.
"Aku buatkan kopi agar kamu merasa lebih tenang mas," timpal Nisa lagi yang segera bergegas menuju dapur.
Sementara Adit hanya menganggukan kepalanya. Adit benar-benar bingung harus mencari kemana lagi. Untuk beberapa saat Adit pun terdiam dan memikirkan cara lain untuk mencari keberadaan Aurel.
Tak berapa lama Nisa datang dengan membawa segelas kopi lengkap dengan kuenya.
"Ini mas minum dulu," ujar Nisa sambil meletakan kopi di atas meja.
"Ya Nisa terima kasih," ucap Adit sambil segera menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa hari beristirahat, kini kesehatan Nisa sudah jauh lebih baik. Mungkin mulai besok Nisa akan kembali bekerja karena sudah beberapa hari ia tidak masuk kerja.
Nisa mulai jenuh saat berada di rumah. Meski ada pekerjaan sampingan membuat sebuah novel tapi akhir-akhir ini Nisa sedang tidak bisa berkonsentrasi. Rasanya sangat sulit membuat cerita yang baru.
"Oiya mas, mulai besok aku akan kembali bekerja," ucap Nisa membuka pembicaraan.
"Memangnya kamu sudah sehat Nisa?" tanya Adit.
"Sudah mas. Seperti yang mas lihat aku sudah jauh lebih sehat sekarang," jawab Nisa.
"Jika kamu memang sudah merasa seperti itu ya boleh saja."
Sementara di tempat lain Dina ternyata sedang berada di kampung halaman ibunya. Sudah beberapa hari Dina sengaja mematikan ponselnya agar Adit tidak terus menelponnya.
__ADS_1
Dina sengaja melakukan hal ini untuk memberikan pelajaran pada Adit. Dina sebenarnya merasa kecewa karena di saat Dina meminta uang Adit justru tidak memberikannya.
"Aku tahu Dit kamu pasti sedang mencari keberadaan Aurel," gumam batin Dina.
"Mah sampai kapan kita akan berasa disini?" tanya Aurel di tengah lamunannya.
"Kita tinggal di sini sampai kapan ya? Kita tinggal di sini sampai kamu bosan berada disini saja gimana?" tanya balik Dina.
"Tapi aku sudah bosan berada disini mah, aku ingin bertemu dengan ayah," lirih Aurel.
"Boleh, tapi nanti ya," timpal Dina.
"Sampai nanti kapan mah? sudah lama aku tidak bertemu ayah," tambah Aurel.
"Pokoknya kalau mamah bilang nanti ya nanti!" pekik Dina yang mulai tersulut emosi.
Merasa sakit hati karena ibunya berbicara dengan nada tinggi Aurel akhirnya bergegas menuju kamarnya. Aurel berlari menuju kamarnya sambil menangis.
"Ada apa Dina? Kenapa lagi dengan Aurel?" tanya Sofia yang merupakan ibu dari Dina.
Dina pun menjelaskan apa yang terjadi kepada ibunya. Namun Sofia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Dina. Walau bagaimanapun Aurel berhak menemui ayahnya.
Keesokan harinya Nisa sudah bersiap untuk bekerja. Hari ini rasanya begitu bersemangat karena sudah lama tidak bekerja. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya Nisa segera bersiap untuk berangkat.
Sedangkan Adit karena hari ini ada meeting, dia harus pergi lebih awal. Hal itulah yang membuat Nisa tidak terlalu sibuk menyiapkan untuk sarapan. Setelah bersiap Nisa segera pergi ke depan rumah.
Nisa segera menunggu ojeg online yang sebelumnya ia pesan. Akhirnya tak berapa lama ojeg online itupun datang dan Nisa segera bergegas naik. Dengan kecepatan yang tinggi ojeg itu segera melaju.
"Terima kasih pak," ujar Nisa saat turun dari motor.
"Ya sama-sama neng," ucap tukang ojeg itu.
Selepas turun dari ojeg online itu, Nisa segera bergegas menuju pabrik. Namun saat Nisa sedang berjalan tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Nisa!" pekik orang itu.
__ADS_1
"Hai Sin, apa kabar?" tanya Nisa saat melihat orang yang memanggil namanya.
"Harusnya aku yang tanya, apa kabar? Memangnya sudah sehat ya kok sudah masuk kerja?" tanya Sinta yang sangat mengkhawatirkan keadaan Nisa.
"Alhamdulillah Sin, aku sudah sehat," jawab Nisa.
Sambil terus berbincang mereka bergegas menuju ruangannya. Saat mereka bertemu begitu banyak cerita yang Sinta bagikan kepada Nisa. Termasuk mengenai seseorang yang sudah membuat Nisa celaka.
"Oiya Nis, apa kamu sudah tahu siapa orang yang susah menabrak kamu?" tanya Sinta.
"Belum sin, memang nya kenapa? apa kamu sudah tahu orangnya? tapi biarlah Sin, orang yang berbuat jahat pasti akan mendapatkan balasan atas kejahatannya," timpal Nisa.
"Iya aku tahu, tapi walau bagaimanapun kamu harus tetap tahu Nisa."
"Memangnya siapa orangnya?" tanya Nisa sambil menautkan kedua halisnya.
"Ternyata dia Mela, orang yang sudah lama menyukai Pak Arya. Jadi karena dia cemburu karena kamu dekat dengan Pak Arya makanya dia bertindak nekat seperti itu," jelas Nisa panjang lebar.
"Apa? Jadi karena cemburu? Bukan orangnya saja aku tidak tahu yang mana," ujar Nisa yang merasa heran karena ada orang yang seperti itu.
"Iya Nis, yang penting dia sudah mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan," tambah Sinta.
"Loh memangnya dia kenapa Sin?" tanya Nisa sambil menautkan kedua halisnya.
Flashback On
Sinta pun mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi saat Nisa tidak masuk kerja. Sinta memberitahukan semua yang terjadi saat Nisa tidak ada. Jadi sehari setelah Nisa pulang dari rumah sakit, Arya segera melihat cctv yang terpasang diluar.
Dari cctv itu Arya melihat kejadian saat Nisa kecelakaan. Jadi di dalam cctv itu Nisa ternyata sengaja di tabrak oleh seseorang. Arya pun segera mengecek plat nomor mobil yang menabrak Nisa serta segera mencari nama pemilik mobil itu.
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya beberapa hari kemudian Arya menemukan sang pemilik mobil itu. Dan betapa terkejutnya saat Arya tahu jika pemilik mobil itu adalah karyawannya sendiri.
"Jadi pemilik mobil itu adalah Mela?" tanya Arya dalam hati.
Setelah mengetahui pemilik mobil itu, Arya segera memanggil Mela ke dalam ruangannya. Di dalam ruangan Mela ditanyai beberapa pertanyaan.
__ADS_1
"Bapak memanggil saya?" tanya Mela saat ia masuk ke dalam ruangan Arya.
"Ya jadi kamu yang bernama Mela? Apa motif kamu mencelakai Nisa?" tanya Arya.