Bukan Niatku

Bukan Niatku
17. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

"Ada apa Nisa?" tanya Adit yang melihat Nisa memegangi kepalanya.


"Tidak tahu mas, kepalaku rasanya pusing," jawab Nisa yang baru saja akan terbangun dari tempat tidurnya namun tidak jadi karena merasa pusing.


"Ya sudah kamu diam saja disini, memangnya mau kemana pagi-pagi begini sudah bangun?" tanya Adit lagi.


"Tadinya aku mau menyiapkan sarapan mas," lirih Nisa.


"Sudah kamu istirahat saja, biar nanti aku yang akan menyiapkan sarapan," timpal Adit.


"Iya mas," ujar Nisa yang kembali berbaring di ranjangnya. Entah mengapa hari ini rasanya begitu pusing dan merasa lemas.


Sementara sebelum berangkat bekerja Adit menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga untuk istrinya. Meski belum terbiasa tapi Adit bisa hanya menyimpan nasi dan menggoreng nasi.


Adit menuju depan rumah mencari tukang bubur untuk sarapan Nisa. Beruntung saat Adit keluar rumah ada seorang pedagang bubur. Adit pun segera membeli bubur untuk dirinya dan juga untuk Nisa.


"Ini makanlah dulu, kamu harus minum obat kan?" tanya Adit yang membawakan semangkuk bubur untuk Nisa.


"Terima kasih mas."


Dengan cekatan Adit segera menyuapi Nisa. Nisa yang memperhatikan Adit merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Adit bersikap seperti itu. Meski begitu Nisa merasa senang karena Adit begitu perhatian.


"Tidak biasanya mas Adit bersikap seperti itu, tapi aku senang karena dia begitu perhatian hari ini," gumam batin Nisa.


Nisa pun segera memakan bubur itu dengan suapan suaminya.


"Ini makan dulu Nisa," ujar Adit sambil menyuapi Nisa.


Nisa pun segera memakan makanan dari tangan suaminya. Sebagai seorang istri, Nisa merasa senang karena tidak biasanya Adit bersikap seperti itu. Tak berapa lama bubur itu habis dan Nisa segera meminum obat dari dokter.


"Nisa, tidak apa-apa jika aku harus pergi bekerja," ujar Adit sesaat sebelum pergi.


"Tidak apa mas pergi saja," ucap Nisa.


Akhirnya dengan berat hati Adit harus tetap pergi bekerja. Meski merasa tidak tega tapi Adit tidak mungkin tidak bekerja karena belum lama ini Adit sudah mengambil cuti.


Setelah kepergian suaminya, Nisa kembali berbaring setelah meminum obat. Namun saat akan memejamkan matanya tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.

__ADS_1


Ting.. tong..


"Siapa ya pagi-pagi begini ada tamu," gumam batin Nisa. Meski masih merasa sedikit pusing tapi Nisa mau tidak mau harus membukakan pintu. Dengan hati-hati Nisa mulai melangkahkan kakinya.


Nisa segera membukakan pintu dan ternyata Dina lah yang datang pagi-pagi seperti ini.


"Mana Adit?" tanya Dina saat Nisa membukakan pintu.


"Mas Adit sudah pergi kerja, ada apa mencari mas Adit?" tanya Nisa yang menautkan kedua halisnya .


"Biasa, aku ingin meminta uang," jawab Dina tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa? Uang lagi? Bukannya baru kemarin mas Adit mengirim uang," ujar Nisa yang merasa sangat kesal.


"Iya aku tahu, tapi uangnya sudah habis," timpal Dina tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Nisa merasa heran karena Dina terus saja meminta. Padahal baru kemarin suaminya mengirimkan sejumlah uang. Tapi hari ini Dia tiba-tiba datang lagi meminta uang. Jika terus-terusan seperti ini Nisa merasa tidak suka dan sangat merugikan dirinya.


"Ya sudah kalau begitu aku mau istirahat, kepalaku pusing," pamit Nisa.


"Hmm, syukurlah," ucap Nisa yang segera bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat lagi.


Sementara Dina memutar otak bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang dari Adit lagi. Akhirnya karena dia tidak berhasil mendapatkan uang di rumah Nisa, Dina pun bergegas menuju kantor Adit.


Dina pergi menuju kantor Adit dengan menggunakan sepeda motornya. Dengan kecepatan yang tinggi Dina segera melajukan kendaraannya. Satu jam kemudian akhirnya Dina sampai di kantor Adit.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Adit yang menautkan kedua halisnya karena Dina tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Aku kesini untuk minta uang," jawab Dina yang segera menyampaikan maksud kedatangannya.


"Apa? Uang lagi?" tanya Adit yang merasa geram.


"Iya yang kemarin sudah habis," jawab Dina tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Jika terus-terusan seperti ini lebih baik Aurel tinggal bersamaku saja," timpal Adit.


"Tidak! Tidak akan aku biarkan Aurel jauh dariku!" pekik Dina.

__ADS_1


"Tapi aku adalah ayahnya, aku juga berhak atas hak asuh Aurel," tukas Adit yang tidak mau kalah.


"Ya aku tahu, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi!" ucap Dina yang segera bergegas pergi dari kantor Adit.


Merasa ketakutan karena Aurel akan diambil oleh ayahnya, Dina pun segera bergegas pulang agar Aurel tetap aman bersamanya. Dina tidak mau jika Aurel sampai jatuh ke tangan Adit.


Sesampainya dirumah Dina segera menghasut Aurel agar jika ayahnya datang ia tidak akan mau ikut. Sepulang bekerja Adit benar-benar berencana untuk datang ke rumah Dina.


Adit sengaja datang agar ia bisa menemui Aurel dan membawanya pergi bersamanya. Dengan kecepatan tinggi Adit melajukan kendaraannya agar ia lebih cepat sampai di rumah Dina.


Beberapa saat kemudian akhirnya Adit sampai di rumah Dina.


Tok.. tok..


Entah sudah berapa kali Adit mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada orang yang membukakan pintu.


"Aurel! Aurel! ini ayah nak," pekik Adit yang merasa geram karena sejak tadi ia mengetuk pintu tapi tidak kunjung dibuka.


Hampir setengah jam Adit berada di teras rumah namun Dina masih belum membukakan pintunya.


"Pergi kemana dia? Apa dia ada di dalam atau Dina sudah pergi membawa Aurel," gumam batin Adit yang merasa lelah karena sejak tadi ia mengetuk pintu tapi masih belum dibuka.


Adit berkeliling jendela, melihat keadaan rumah namun ternyata kosong. Di saat yang bersamaan ada seorang tetangga yang berlalu di hadapannya.


"Permisi bu, apa ibu tahu pemilik rumah ini kemana ya?" tanya Adit sambil menautkan kedua halisnya. Adit setengah berlari ke arahnya.


"Maaf pak saya baru keluar rumah makanya saya kurang tahu," jawab seseorang itu.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih," timpal Adit yang kembali naik ke atas teras dan mencoba mengetuk pintu itu lagi.


Namun beberapa kali Adit mencoba tetap tidak ada yang membukakan pintu.


"Apa dina membawa Aurel pergi dari sini?" gumam batin Adit.


Sementara di tempat lain, Dina segera menyeret tangan Aurel agar ia bisa berjalan lebih cepat. Dina benar-benar merasa takut jika Adit akan datang ke rumahnya dan membawa serta Aurel.


Akhirnya Dina yang berfikiran pendek pun segera pergi membawa Aurel ke tempat yang lebih aman untuk sementara.

__ADS_1


__ADS_2