Bukan Niatku

Bukan Niatku
29. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Aurel harus pergi ke sekolah. Karena sudah sehat sebelum pergi ke kantor, Adit mengantar anaknya terlebih dahulu. Aurel kini bersekolah di sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah Adit.


Semenjak hak asuh pindah ke tangan Adit, semua keperluan Aurel Adit dan Nisa yang mengaturnya. Termasuk soal sekolah yang kini menjadi tanggungjawab Adit.


"Sudah sampai sayang, belajar yang baik ya," ujar Adit sesampainya di sekolah Aurel.


"Oke yah! Terima kasih ayah karena sudah mengantar ku," timpal Aurel.


"Sama-sama sayang, dadah!" tukas Adit.


"Dadah ayah!" ucap Aurel setelah turun dari mobil ayahnya.


Dengan penuh semangat Aurel bergegas menuju kelasnya. Aurel merasa senang saat dia bisa diantar oleh ayahnya. Saat Aurel sekolah di tempat yang dulu teman-temannya selalu mengejek Aurel karena ia di bully tidak memiliki seorang ayah.


Akan tetapi saat ini Aurel merasa begitu beruntung karena akhirnya ia bisa tinggal bersama ayahnya.


"Hai Aurel!" sapa Mala yang merupakan teman sebangku Aurel.

__ADS_1


"Hai juga Mala!" jawab Aurel antusias.


"Oiya apa kamu sudah mengerjakan pr? " tanya Mala."


"Ya sudah Mala, kamu sendiri?" tanya Aurel.


"Aku juga sudah," jawab Mala.


Mala sendiri merupakan teman Aurel saat pertama kali masuk sekolah. Sejak saat itu mereka berteman baik sampai saat ini. Mereka bak pinang dibelah dua. Kemana-mana selalu pergi bersama.


Sebagai anak-anak yang sedang tumbuh di usianya, mereka begitu aktif dan riang. Didalam kelas mereka berdua pun termasuk siswa yang cerdas. Setiap pertanyaan yang gurunya berikan, mereka selalu bisa menjawabnya.


Sedangkan Mela di jemput oleh supir pribadinya. Setengah jam kemudian akhirnya Mala tiba di rumah. Namun sesampainya di rumah Mala harus menyaksikan pemandangan yang tak biasa.


Di saat yang bersamaan ayah dan ibunya justru sedang bertengkar hebat.


"Aku tahu itu pasti selingkuhan mu kan?" pekik Alisa pada suaminya.

__ADS_1


"Tidak Alisa, ini semua salah paham. Aku hanya di jebak," ujar Reihan yang mencoba membela dirinya.


"Tidak mungkin! Lalu ini apa?" pekik Alisa sambil memperlihatkan foto antara Reihan dan juga teman sekantornya yang sedang berpelukan dengan begitu mesranya.


Melihat foto yang di perlihatkan Alisa membuat Reihan tidak bergeming. Setelah melihat foto dirinya sendiri membuat Reihan merasa malu. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang.


"Mala? Sejak kapan kamu berada disana nak?" tanya Alisa yang melihat anaknya terpaku di ambang pintu.


Namun tidak ada jawaban dari mulut Mala. Di usianya yang masih kecil Mala memang belum mengerti tentang pertengkaran mereka. Akan tetapi pemandangan yang di lihatnya tadi membuat Mala merasa begitu sedih.


Mala melihat dengan mata kepalanya sendiri ternyata orang tuanya selalu bertengkar. Mala seketika berlari menuju kamarnya. Dia menangis sejadi-jadinya.


"Mala!" panggil Alisa yang melihat anaknya berlari.


Spontan Alisa mengejar anaknya menuju kamarnya. Mala segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Mala sayang, buka pintunya nak!" ujar Alisa dari luar kamar.

__ADS_1


"Tidak, aku benci kalian! Kalian berdua selalu saja bertengkar!" pekik Mala dari dalam kamar.


Dikamar dia menangis sejadi-jadinua saat mengingat pertengkaran antara kedua orang tuanya.


__ADS_2