Bukan Niatku

Bukan Niatku
36. Bukan Niatku (BN)


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa bulan terakhir Nisa berada di rumah. Rasanya masih tetap sama, dia merasa jenuh dengan aktifitasnya sehari-hari. Bahkan Nisa ingin kembali bekerja, namun Adit tidak memberikannya izin.


Nisa juga ingin membeli barang yang diinginkannya. Ia mencoba meminta uang kepada Adit.


"Mas aku ingin membeli pakaian baru karena pakaianku sudah kecil dan tidak ada yang muat," ujar Nisa membuka pembicaraan.


"Apa pakaian? tapi bukannya pakaian mu sudah banyak," timpal Adit yang segera menjawab pertanyaan Nisa.


"Iya mas tapi pakaianku sebagian sudah kecil,"lirih Nisa.


"Tidak Nisa, aku tidak bisa memberikan uang karena uang ini untuk keperluan Aurel sekolah dan keperluan Aurel sehari-hari," tegas Adit.


Mendengar kata-kata suaminya itu membuat Nisa merasa sakit hati. Jika Aurel yang meminta sesuatu maka dia akan langsung membelikannya. Namun jika saja Nisa yang meminta sesuatu maka Adit akan menolaknya.

__ADS_1


Entah mengapa Nisa selalu merasa jika Adit tidak pernah mencintainya. Karena apapun yang Nisa minta tidak pernah Adit berikan. Selalu saja ada alasan yang ia ucapkan.


"Lagi-lagi kamu menolak keinginanku mas," lirih Nisa yang merasa keceea.


Nisa yang merasa kecewa memang tidak pernah banyak bicara. Dia hanya selalu menelan kepahitannya saja. Nisa bahkan tidak pernah mengeluh. Nisa hanya bisa terdiam saat Adit bersikap seperti itu.


"Ayah, ayah aku mau tas seperti ini," ujar Aurel yang tiba-tiba datang memperlihatkan sebuah gambar tas keluaran terbaru.


Mendengar permintaan Aurel yang yang langsung di kabulkan oleh Adit membuat Nisa semakin merasa sakit hati. Nisa sebagai istrinya tidak pernah diperlakukan secara baik.


Jangankan keinginan, kebutuhannya saja tidak pernah Adit perhatikan. Sebagai seorang ayah Adit memang begitu baik. Akan tetapi sebagai seorang suami, Adit benar-benar tidak pernah bersikap layaknya seorang suami.


Terkadang asa perasaan menyesal yang di rasakan Nisa. Dia selalu berfikir jika seandainya dia tidak menikah dengan Adit mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Akan tetapi ibarat buah simalakama ia tidak bisa maju ataupun mundur dalam pernikahan ini.

__ADS_1


"Seandainya aku tidak menikah denganmu mas, mungkin saat ini hidupku sudah bahagia," gumam batin Nisa.


Lagi-lagi di tengah lamunannya Nisa selalu berfikiran kesana kemari. Sebenarnya Nisa tidak mau terlalu memikirkan hal ini, tapi selalu ada saja yang membuat ia menjadi kepikiran.


Untuk menghilangkan rasa sakitnya Nisa kembali membuka aplikasi biru. Kali ini dia ingin membuat sebuah cerita yang baru. Mungkin dari apa yang dirasakannya saat ini akan menjadi sebuah inspirasi.


Terkadang cerita yang dia buat memang berasal dari pengalaman pribadinya sendiri. Sehingga tidak sulit bagi Nisa untuk menciptakan sebuah ide baru. Entah sudah berapa cerita sedih yang ia ciptakan. Namun karena kesedihanya itu yang membuat Nisa menghasilkan pundi-pundi rupiah ke dalam kantongnya.


"Aku tidak mau terlalu memikirkan hal ini. Aku hanya ingin membuat banyak cerita saat ini," gumam batin Nisa.


Tak terasa karena sejak tadi Nisa membuat cerita, akhirnya ia merasakan kantuk yang teramat dalam. Pantas saja jika Nisa sudah merasakan kantuk karena waktu menunjukan tengah malam.


Rasanya tidak sanggup lagi bagi Nisa untuk merangkai sebuah kata. Nisa pun akhirnya segera beristirahat di atas ranjang miliknya.

__ADS_1


__ADS_2