
Beberapa bulan pun berlalu, semenjak Aurel masuk sekolah membuat Dina semakin sering meminta uang pada Adit. Hal itu membuat Nisa merasa risih dan tidak suka. Bukan berarti Nisa tidak mengerti kewajiban seorang ayah kepada anaknya.
Hanya saja menurut Nisa, Dina begitu berlebihan dan sangat sering meminta uang. Akan tetapi Adit justru tidak menyadarinya. Dia bahkan selalu memberikan uang berapapun yang Dina minta.
Hal itu tentu saja membuat Nisa merasa tidak nyaman dan risih karena ada wanita lain yang selalu meminta uang kepada suaminya. Akan tetapi Nisa tidak bisa berbuat apa-apa.
Terkadang apa yang Nisa minta tidak di turuti oleh suaminya. Padahal ia hanya ingin baju dan memakai perhiasan tapi Adit justru selalu memarahinya. Nisa sangat terluka dan sangat sakit hati atas perilaku suaminya.
Yang membuat Nisa sakit hati, Adit selalu lebih mementingkan anaknya daripada Nisa.
Terkadang ada perasaan menyesal yang Nisa rasakan. Terkadang Nisa merasa seperti di anak tirikan.
"Seandainya aku tidak menikah dengan Adit mungkin semuanya tidak akan seperti ini," gumam batin Nisa.
Ibarat buah simalakama itulah yang Nisa rasakan. Sempat berniat ingin mundur dari pernikahan ini tapi Nisa merasa bingung. Entah hal apa yang akan di katakan Nisa kepada keluarganya.
Terlebih kepada ayahnya. Dulu Nisa yang tetap bersikukuh untuk tetap menikah dengan Adit. Padahal sejak awal ayahnya tidak memberikan restu pada hubungan mereka.
"Maafkan Nisa yah, semua kata-kata ayah memang benar. Sekarang Nisa baru merasakannya," lirih Nisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sampai tak terasa air mata itupun akhirnya terjatuh juga. Namun jika Nisa tetap melanjutkan pernikahan ini, selama pernikahannya Nisa akan mengalami hal ini. Perhatian dan kasih sayang yang akan selalu terbagi, serta keuangan yang tidak seratus persen di berikan kepada Nisa.
Semua itu membuat Nisa begitu sulit dalam menghadapi semua kenyataan ini. Sudah beberapa hari ini Nisa dan juga Adit tidak saling bicara semenjak perdebatan nya tentang Aurel.
Merasa bingung dan mulai putus asa, Nisa mencoba mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Di akhir sholatnya Nisa menceritakan semua keluh kesahnya kepada Sang Maha Pencipta.
"Ya Tuhan sesungguhnya aku sudah mulai lelah dan tidak sanggup lagi menjalani ini semua. Tolong berikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menjalani semua ini," gumam batin Nisa lirih.
Air matanya mengalir begitu derasnya saat dia mengeluarkan semua unek-uneknya. Air mata itu seolah menjadi saksi atas ketidaksanggupannya dalam menghadapi semua ini.
Akan tetapi Nisa tidak bisa menceritakan masalahnya kepada siapapun juga. Jika ada masalah Nisa hanya bisa memendamnya sendiri. Jika saja ibunya masih ada mungkin hidupnya tidak akan seperti ini.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian Nisa sudah bisa menjalani hari-harinya lebih baik lagi. Kini Nisa tidak terlalu bersedih. Nisa pun mencoba menerima semua keadaan ini. Bahkan Nisa berencana jika ia akan bekerja saja.
Nisa mencoba membicarakan semua ini kepada Adit. Walau bagaimanapun ia harus tetap meminta izin kepada suaminya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan dit," ujar Nisa.
"Ya kenapa?" tanya Adit.
"Aku ingin bekerja, aku merasa jenuh berada di rumah seharian," tukas Nisa lagi.
"Oh jika itu membuatmu senang ya silahkan," jawab Adit datar.
Mendengar kata-kata suaminya yang seperti itu membuat Nisa semakin yakin untuk bekerja. Meski saat ini Nisa memiliki penghasilan dari hasil menulisnya, tapi Nisa belum bisa membelanjakan uang itu.
Dari hasil menulisnya mungkin akan Nisa tabungkan untuk masa depannya. Setelah mendapat lampu hijau dari suaminya, Nisa segera membuat dan menyiapkan lamaran pekerjaan.
Tak lupa Nisa menanyakan kepada beberapa temannya juga yang masih bekerja. Nisa mencoba mencari beberapa nama temannya yang ada di dalam ponselnya.
"Hoam, rasanya ngantuk sekali. Tapi aku harus menyelesaikan semua ini agar besok bisa langsung di gunakan," ujar Nisa yang sesekali menguap saat sedang membuat lamaran pekerjaan.
Lumayan ada beberapa lamaran yang sudah di selesaikan. Tak lupa Nisa membereskan meja kerjanya agar tidak berantakan.
Keesokan harinya Nisa sudah bangun lebih awal. Dia segera melakukan tugasnya membereskan rumah dan memasak untuk sarapan suaminya.
"Makan dulu dit. Oiya setelah ini aku mau izin pergi ke luar untuk mencari pekerjaan," ujar Nisa yanh membuka pembicaraan.
"Baiklah tapi hati-hati di jalan," ucap Adit.
"Iya siap," jawab Nisa singkat.
Setelah suaminya pergi bekerja, Nisa segera membereskan piring yang berserakan diatas meja makan dan segera membawanya menuju washtafel untuk di cuci. Dengan cekatan Nisa melakukan semua pekerjaan itu.
__ADS_1
Nisa begitu bersemangat karena hari ini dia akan memulai mencari pekerjaan. Mungkin dengan bekerja Nisa tidak akan terlalu jenuh dan memiliki kegiatan. Setelah membereskan semua pekerjaannya Nisa segera bersiap.
Sesuai informasi yang di dapat dari temannya Nisa segera bergegas menuju sebuah pabrik yang cukup terkenal di kota itu. Sebuah pabrik yang khusus membuat baju-baju mulai dari baju anak sampai baju orang dewasa.
Nisa pergi menggunakan taksi online yang sebelumnya ia pesan. Tak berapa lama akhirnya taksi itu datang.
"Dengan ibu Nisa?" tanya supir itu.
"Iya benar,"jawab Nisa.
"Ke jalan abc ya Bu?" tanya supir itu memastikan.
"Iya. pa benar," jawab Nisa lagi yang segera bergegas masuk ke dalam mobil.
Perlahan tapi pasti mobil itu segera melaju sesuai permintaan Nisa. Sepanjang perjalanan cukup ramai oleh para pengendara mobil dan motor. Untuk menghilangkan rasa jenuh saat berada dalam mobil, Nisa memainkan ponselnya.
Nisa melihat status whatsapp dan membuka media sosial milik Nisa. Tak terasa karena asyik bermain ponsel Nisa pun akhirnya tiba di sebuah pabrik yang ia tuju.
"Sudah sampai Bu, apa benar ini tempatnya?" tanya supir itu.
"Iya pa benar, terima kasih!" ujar Nisa yang sebelumnya membayar ongkos taksi sesaat sebelum ia turun dari mobil.
Merasa ragu dan gugup, Nisa mencoba bertanya pada seorang security yang sedang berjaga.
"Permisi pak, apa benar di sini sedang membuka lowongan pekerjaan?" tanya Nisa pada seorang satpam yang sedang berjaga di pos satpam.
"Iya bu benar," jawab satpam itu yang segera menghampiri Nisa.
"Kalau begitu saya bisa menitipkan lamaran pekerjaan ini?"tanya Nisa.
"Tentu bu, silahkan!" jawab satpam itu yang segera mengambil lamaran yang diberikan Nisa.
__ADS_1
"Nanti beberapa hari ke depan akan ada orang yang menelpon untuk melakukan wawancara kerja," tambah dokter itu.
Merasa tenang dan senang karena bisa menitipkan lamaran pekerjaan akhirnya Nisa segera pamit untuk pulang.