
Beberapa tahun berlalu. Dina yang masih bekerja di pabrik itu memang masih bertahan hingga saat ini. Sampai akhirnya Dina dekat dengan seseorang yang ia kenal saat pertama kali masuk ke tempat ini.
Sebut saja Isan, dia merupakan teman satu pabrik dengan Dina. Baru beberapa hari bekerja di tempat itu, ada seseorang yang menyukai Dina. Isan yang baru pertama kali melihat Dina bekerja di tempat itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Siapa wanita itu? Sepertinya aku baru melihatnya," gumam batin Isan saat pertama kali melihat Dina.
Dari kejauhan Isan tetap memperhatikan Dina yang sedang bekerja pada saat itu. Di saat jam istirahat tiba tempat duduk itu penuh. Isan yang melihat Dina duduk sendiri pun segera menghampirinya.
"Permisi apa boleh aku duduk disini?" tanya Isan sesaat sebelum duduk.
"Silahkan," jawab Dina.
"Terima kasih," ujar Isan yang segera duduk di hadapan Dina.
"Ya sama-sama," ucap Dina.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Isan terdiam. Sesekali Isan memandang ke arah Dina yang berada di hadapannya. Isan begitu menyukai Dina saat pertama kali melihatnya. Dina yang terlihat begitu cantik.
"Oiya apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanya Isan sambil menyodorkan tangan kanannya.
"Aku Dina," jawab Dina sambil menyambut hangat tangan Isan.
Saat itulah awal perkenalan mereka. Sejak saat itu Dina dan Isan mulai berteman dengan baik. Awalnya mereka hanya berteman biasa, namun lama-lama mereka merasa nyaman satu sama lain.
Awalnya Dina memang tidak menyukai Isan. Sejak perpisahannya dengan Adit, Dina tidak pernah dekat dengan siapapun. Bahkan ia tidak pernah membuka hati untuk siapapun.
Sebab Dina memang masih memiliki perasaan untuk Adit. Hanya saja ia tidak terlalu menunjukkannya pada Adit karena perpisahannya dulu di karenakan kesalahannya sendiri.
"Terima kasih banyak Dina karena sampai saat ini kamu setia bersamaku. Oiya ada sesuatu yang ingin aku katakan," ujar Isan sambil memegang tangan Dina.
"Ya Isan, ada apa?" tanya Dina sambil menautkan kedua halisnya. Dina merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Isan karena kini dia terlihat begitu serius.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku ingin kita segera menikah Dina. Apa kamu bersedia menikah denganku?" tanya Isan sambil berlutut di hadapan Dina.
"Apa ini tidak terlalu cepat Isan?" tanya Dina balik.
"Aku rasa tidak, karena aku sudah merasa yakin dengan perasaanku. Aku sangat menyanyangi dan sangat mencintaimu Dina," jawab Isan yang berusaha meyakinkan Dina.
Mendengar kata-kata Isan membuat Dina terenyuh. Selama ini belum pernah ada laki-laki yang mencintai Dina seperti Isan mencintai Dina. Untuk sesaat Dina terdiam. Dia merasa jika memang Isan lah laki-laki yang tepat untuk dirinya.
Setelah beberapa saat terdiam dan memikirkan segalanya akhirnya Dina mengiyakan keinginan Isan.
"Ya Isan, aku mau kita segera menikah," ujar Dina malu-malu.
"Beneran Dina? apa aku tidak salah dengar?" tanya Isan meyakinkan.
"Iya Isan benar," jawab Dina sekali lagi.
__ADS_1
"Yes, akhirnya!" sorak Isan yang merasa sangat bahagia saat Dina bersedia diajak menikah.
Isan merasa bahagia karena wanita yang dicintainya akhirnya mau menikah denganya.