
''Tangan kita cuma ada dua. Kita tidak bisa menutup setiap mulut yang membicarakan kita. Jadi, kita hanya bisa menggunakan kedua tangan kita untuk menutup kedua telinga kita,''
...•••••••••••...
''Tanggal 20? Tanggal 20 kan tiga hari lagi. Eh benarkan? Tunggu dulu, kenapa bu Rossa ingin mengajakku juga? Nanti aku akan Berbicara_lah dengan Bu Rossa. Biar aku jaga rumah aja di sini,'' monolog Rena. Ia pun kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.
Di sisi lain.....
Selama di perjalanan Raka hanya diam saja dan fokus menyetir. Sesekali Jenny mencuri pandang ke arahnya. Namun Raka mengabaikannya begitu saja dan tetap fokus melihat ke jalanan.
''Ekhem... ehem...'' Raka, tidak bisakah kau membuka lagu? Rasanya sepi sekali. Bukankah sangat membosankan jadinya jika sepi seperti ini,''
''Kau saja yang menyalakannya,'' ucap Raka singkat.
''Ayolah Raka, tidak bisakah kita mengobrol seperti biasa? Aku sangat bosan,''
''Kau bisa bermain dengan ponselmu. Katanya tadi kau akan memutar lagu, kenapa tidak jadi memutar lagu saja? Jangan menggangguku kalau kamu tidak ingin pergi ke rumah sakit dalam keadaan terluka,'' ucap Raka. Dan setelah itu Raka benar-benar diam saja sampai mereka tiba di depan rumah sakit, tempat mereka bekerja bersama.
''Wah mas Raka sudah datang,'' ucap pak Yono juru parkir yang biasanya membantu Raka dalam memarkirkan mobilnya.
''Iya Pak. Oh ya, ini oleh-oleh untuk bapak dari mama,''
''Wah, seperti biasa. Bu Rossa baik sekali. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya kepada bu Rossa ya Mas,''
''Iya Pak,'' ucap Raka dengan tersenyum.
''Dih, kampungan. Gitu saja senang,'' guman Jenny. Namun meskipun pelan, Raka tetap masih bisa mendengar ucapan Jenny.
Ia pun hanya melirik tajam ke arah Jenny lalu menurunkan koper-kopernya dan pergi meninggalkan Jenny begitu saja yang masih berdiri mematung memandangi kepergian dirinya.
''Menyebalkan sekali. Selama di perjalanan diam saja, sekarang ditinggal begitu saja. Susah sekali sih dapetin hati kamu Raka,'' gerutu Jenny yang kesal sambil menendang bemper mobilnya.
''Hei, sedang apa kamu Jenny?'' Ucap Rose salah satu teman Jenny yang menepuk pundak Jenny.
Mendengar perkataan temannya, Jenny seketika langsung merubah ekpresi wajahnya menjadi senang dan pura-pura tersenyum.
''Wah sepertinya kamu berhasil mendapatkan hatinya Raka ya,''
''Hehehe... iya dong. Siapa dulu, Jenny...'' ucap Jenny dengan bangga.
''Hebat dong kalau begitu. Kapan nih traktirannya?''
''Traktiran? Traktiran apa?'' Ucap salah satu teman Jenny yang ikut datang juga.
__ADS_1
''Itu loh. Jenny sama Raka sekarang sudah berpacaran,''
''Oh ya? Benarkah Jenny?''
Jenny tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
''Tapi kenapa kamu sekarang malah ditinggal sendirian di sini dan dia pergi begitu saja,''
''Raka masih ada urusan. Makanya dia pergi duluan,'' jawab Jenny dengan nada gugup.
''Oh, benarkah?''
''Sudahlah Cindy. Kamu itu sepertinya tidak senang melihat teman kita akhirnya melepas masa lajangnya,''
''Bukan seperti itu mawar,''
''La terus? Eh tunggu dulu. Namaku itu Rose bukan mawar,''
''Kan sama saja. Rose bahasa Inggris, bahasa Indonesianya apa? Mawar kan?''
''Sudah lah! Terserah kamu.'' Ucap Rose menggerutu kesal.
''Lagian kita semua tahu bagaimana sifat Raka. Aku belum percaya jika Jenny ini benar-benar sudah resmi menjadi pacarnya Raka,'' ucap Cindy.
''Apa-apaan sih kamu Cindy. Gak asik banget, menyebalkan sekali,'' ucap Jenny dengan kesal lalu pergi meninggalkan kedua temannya itu.
''Rose sayang, kamu tidak tahu bagaimana sifatnya Raka. Dan kamu juga sudah hafal kan bagaimana sifatnya Jenny. Apa menurutmu mungkin kalau mereka berpacaran, tapi mereka masih bersikap dingin seperti itu?''
''Kau benar juga ya. Tapi, bukankah seharusnya kita mendukung. Apalagi ini kan teman kita,''
''Sudahlah, aku capek.''
''Kalau capek kenapa tidak istirahat? Malah ikut ke parkiran,''
''Kan kamu yang menarikku! Katanya untuk menyambut Jenny,''
''Oh iya ya..... Hehehe,''
Diantara mereka bertiga, Cindy _lah yang memiliki pikiran yang normal. Ia tidak memihak Jenny ataupun menyalahkan Jenny. Mereka bertiga sudah berteman sejak masih SMP dan bercita-cita untuk menjadi dokter. Kemudian mereka mewujudkannya mimpi mereka bersama-sama.
Cindy adalah tipe perempuan yang memilih untuk melihat keadilan. Jika memang salah, Ia juga akan menyalahkannya. Dan jika memang benar, dia juga akan mendukungnya.
''Tanpa terasa hari cepat berlalu. Dua hari sudah sejak kepergian Raka.
__ADS_1
Rena sudah berusaha untuk berbicara dengan Bu Rossa agar mengijinkannya untuk tetap tinggal di rumah saja, dan tidak ikut dengan Bu Rossa. Namun Bu Rossa tetap kekeh agar Rena tetap ikut bersamanya.
''Aduh Ren, Aku mau memeriksakan kesehatanku. Nanti kalau ada apa-apa denganku di jalan bagaimana? Kamu kan tahu sendiri, usiaku sudah tidak muda lagi. Nanti kalau membutuhkan sesuatu, kan tidak ada yang membantu kalau kamu ndak ikut,''
''Tapi Bu, nanti kalau saya ikut siapa yang menjaga rumah bu Rossa?''
''Rena, rumahku ini kokoh dengan semen dan bahan bangunan yang bagus juga pilihan. Rumah ini tidak mungkin dengan gampang digondol oleh orang. Lagi pula rumah ini bukan rumah keong, jadi kamu tidak perlu menjaganya,''
Rena ingin tertawa saat mendengar Bu Rossa menyamakan rumahnya dengan rumah keong. Kadang-kadang Bu Rossa menggunakan kata-kata yang menurut Rena sangatlah lucu. Seperti menyamakan calon menantunya dengan lebah, dan kini menyamakan rumahnya dengan rumah keong.
''Baik lah bu. Saya akan ikut,'' ucap Rena pasrah. Karena ia tidak mungkin membantahnya lagi. Hitung-hitung, anggap saja sebagai liburan.
''Baguslah kalau begitu. Besok kita berangkatnya pagi-pagi ya Ren. Karena sore harinya kita akan langsung pulang,''
''Oh, berarti kita tidak menginap ya Bu?''
''Kenapa? Kamu mau menginap? Kalau kamu mau menginap ya tidak apa-apa Ren. Nanti aku akan bilang dengan Raka,''
''Ah ibu. Saya kan ngikut Ibu. Kenapa malah bilang sama Mas Raka?''
''Ya kan rumahnya punya Raka. Jadi kalau kita bilang Raka, Raka bisa membereskan dulu beberapa kamar untuk kita. Eh bukan untuk kita deng, tapi untuk kamu,''
''Bu....''
''Iya iya. Ibu tidak akan menjahilihimu lagi.''
Rena tersenyum malu setiap bu Rossa menjahilinya.
''Ibu mau pergi dulu. Ada arisan ibu-ibu di komplek sebelah,''
''Oh baiklah Bu,''
''Kamu baik-baik jaga rumah ya Ren, soalnya nanti saya pulangnya malam. Kamu tidak perlu masak untuk makan malam. Paling nanti saya akan pergi bersama teman-teman saya,''
''Baiklah Bu,''
''Oh ya, nanti sore jangan lupa ada tukang AC yang akan datang,''
''Tukang AC? Memangnya ada AC yang rusak ya Bu?''
''Iya, AC yang ada di kamar tamu sepertinya kurang dingin. Beberapa hari yang lalu si Natasha menelpon Bryan dan mengeluh. Katanya ac-nya kurang dingin,''
''Oh, baiklah Bu. Nanti saya akan ingat pesan ibu.
__ADS_1
''Oke, kalau begitu ibu pergi dulu ya Ren,''
''Ya Bu, hati-hati,''