Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Takut di Pecat


__ADS_3

''Orang lain tidak akan pernah tahu seberapa besar aku berusaha mempertahankan kewarasan dan akal sehatku. Di saat badai masalah terus menerus menghantamku bertubi-tubi. Mereka tidak akan pernah tahu itu. Yang mereka tahu hanya menilai dan mencari kesalahanku kemudian menghakimiku dengan pemikiran mereka.'' _ Rena


...•••••••••••••••☆☆☆♡☆☆☆••••••••••••••...


'' Baiklah, mama akan melanjutkan ceritanya lagi.''


''Pernikahannya itu selain mendapatkan penghianatan, Rena juga difitnah tidak melakukan kewajibannya sebagaimana layaknya seorang istri. Bahkan di sebarluaskan hingga sampai di luar desa,''


''Ya Tuhan,'' Bryan ikut terenyuh mendengar cerita dari mamanya.


''Bukan hanya dihancurkan masa depannya, tapi juga dihancurkan nama baiknya. Rena itu gadis yang baik. Selama menikah, ia dilarang berdandan dengan alasan takut menggoda pria lain. Ia juga menurut dan patuh. Di larang memegang ponsel, Ia juga patuh. Tapi Bryan, apa kau tahu terkadang cinta dan ketulusan yang murni tidak cukup bagi orang yang serakah dan juga egois seperti itu,''


Brayan menatap kedua mata mamanya yang kini terlihat berair di sudut matanya. Ia pun perlahan mengulurkan tangannya. Lalu perlahan mengusap ujung mata mamanya yang basah.


Bryan tahu, pasti mamanya saat ini teringat juga dengan masa lalunya. Seketika itu darahnya mulai mendidih. Ia teringat...


Di saat malam gelap gulita, hujan dan petir menyambar. Mamanya terdiam mematung melihat kepergian papanya bersama wanita lain. Saat itu Bryan masih kecil. Ia belum mengerti apa yang terjadi. Bahkan ia sampai mengira wanita selingkuhan Papanya itu adalah adik papanya.


Namun perlahan waktu membuatnya mengerti dan memahami, bagaimana kondisi keluarganya saat itu. Tangan Bryan mengepal penuh emosi jika mengingat semua itu.


Ia pun kemudian tersadar. Benar apa yang dikatakan oleh Rena. Tidak seharusnya ia bertindak bodoh hanya demi seseorang wanita yang sudah menyakitinya dan keluarganya.


Namun di sisi lain, Ia juga benar-benar mencintai Natasha sepenuh hati. Baginya Natasha adalah separuh jiwanya. Selain itu Natasha juga adalah penolongnya waktu dulu saat ia hampir mengalami kecelakaan. Oleh sebab itu seumur hidupnya Bryan berjanji akan menjaga Natasha dan mencintainya sepenuh hati, sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena sudah pernah ditolong oleh Natasha.


Di sisi lain, Rena saat ini duduk termenung di bangku taman. Ia baru menyadari bahwa apa yang dilakukannya tadi bisa saja membuatnya kehilangan pekerjaannya.


''Apakah aku tadi sudah gila! Bagaimana bisa aku berbicara seperti itu kepada majikanku? Bagaimana jika sampai mas Bryan memecatku karena sakit hati. Bodohnya aku,''


Tuk...tuk...tuk.. Rena memukul-mukul kepalanya merutuki kebodohan yang tadi ia lakukan. Namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang dari belakang.


''Hentikan. Apa kau ingin bunuh diri juga dengan melukai kepalamu itu?'' ucap seseorang itu yang tak lain adalah Raka.


''Eh mas Raka,''


Rena menggeser duduknya saat Raka ikut duduk di sebelahnya.

__ADS_1


''Maafkan saya mas, saya tadi benar-benar bodoh. Saya tidak tahu kenapa saya bisa segila itu dengan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dikatakan. Maafkan saya mas, tolong jangan pecat saya ya,'' ucap Rena.


Raka melihat ekspresi Rena penuh dengan ketakutan dan gelisah. Sebenarnya Raka berniat ingin menjahili Rena, namun Ia langsung tidak tega karena melihat ekspresi wajah Rena yang seperti itu.


''Tidak apa-apa kok. Kamu tidak salah Ren, apa yang kamu katakan itu benar. Tidak akan ada yang menyalahkanmu. Percayalah! Mama dan kak Bryan juga tahu dan bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, aku yakin itu. Dan jika sampai Bryan berani menyalahkan mu, percayalah aku akan membelamu, aku akan berada di garda terdepan untuk mempertahankanmu Ren,'' ucap Raka diselingi dengan senyuman dan mengepalkan tangannya seperti tanda penyemangat.


''Ren? Kenapa mas Raka hanya memanggilku dengan nama? Kenapa tidak dengan sebutan mbak?'' batin Rena.


''Ah Mas Raka ini. Saya benar-benar khawatir ini,'' ucapkan Rena. Ia bahkan merantukkan kedua kakinya pertanda saat ini bahwa ia benar-benar sedang gelisah.


Dan tanpa di duga, tiba-tiba Raka memegang kedua tangan Rena.


''Tenanglah, mereka tidak akan menyalahkanmu. Dan ku mohon percayalah padaku. Aku akan membelamu jika mereka sampai menyalahkanmu,''


''Tapi.......''


''Aku jamin deh. Mereka tidak akan menyalahkanmu Ren,'' ucap Raka.


Menyadari ada sesuatu yang aneh, Rena menatap kedua tangannya yang saat ini di genggam oleh Raka. Ia pun spontan langsung melepaskan kedua tangannya dari genggaman Raka.


''Maafkan aku. Aku tidak bermaksud......''


''Sudahlah Ren, jangan selalu menyalahkan diri sendiri.'' Raka juga tiba-tiba mengusap-usap puncak kepala Rena, membuat Rena semakin tercengang lalu memundurkan badannya agar sedikit menjauh dari Raka. Namun Raka malah tersenyum menatapnya.


''Tadi aku sangat terpukau loh Ren. Semua yang kamu ucapkan itu benar-benar keren sekali. Aku merasa kamu sudah mewakili apa yang ingin aku katakan kepada Kakakku itu.''


''Benarkah?'' ucap Rena.


''Ya tentu saja. Bryan itu memang bodoh. Dia itu terlalu buta akan cinta. Padahal jelas-jelas selama ini ia selalu dimanfaatkan oleh Natasha. Selalu dibohongi, di selingkuhi. Tapi ia selalu menutup mata akan kesalahan Natasha, dan selalu memaafkannya. Aku juga heran, apakah orang yang jatuh cinta bisa sebodoh itu?''


''Tidak juga kok mas, itu semua tergantung bagaimana kita menyikapinya saja,''


''Ya, kau benar,''


Raka dan Rena mengobrol dan tertawa bersama. Tanpa mereka sadari Bu Rossa sejak tadi sudah berada di belakang mereka.

__ADS_1


Tadinya bu Rossa ingin meminta maaf sekaligus ingin berterima kasih kepada Rena. Sebab karena ucapan Rena, kini putranya sudah mulai bisa mengontrol emosinya.


''Ya Tuhan, aku berharap Rena benar-benar akan menjadi menantuku. Tolong kabulkanlah doaku ini Tuhan. Selama ini aku jarang meminta sesuatu hal untuk diriku sendiri. Untuk kali ini, biarkan aku meminta restumu untuk merestui keinginanku ini Ya Tuhan,'' batin Bu Rossa.


Tak lama kemudian terlihat Bryan berjalan terburu-buru membawa kunci mobil.


''Kamu mau ke mana Bryan?''


Mendengar suara Bu Rossa, Raka dan Rena pun berdiri dan menoleh ke arah mereka.


''Mas Bryan mau ke mana?'' Ucap Rena.


''Entahlah. Tunggu sebentar, aku akan menyusulnya,''


Raka berusaha menyusul Bryan yang saat ini sudah duduk di dalam mobilnya.


''Bryan, kau mau ke mana?''


''Aku sedang ada urusan. Lepaskan tanganmu,'' ucap Bryan yang pintu mobilnya ditahan oleh Raka.


''Tidak, sebelum kamu mengatakannya,''


''Tenanglah, Aku tidak akan berbuat hal bodoh lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku benar-benar sedang ada urusan,''


''Katakan dulu kau mau kemana, baru aku akan melepaskannya,''


''Raka! Aku tidak ingin mengucapkannya dua kali. Lepaskan!''


Kali ini Bryan terlihat serius. Raka pun terpaksa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan kakaknya pergi meninggalkan rumah.


-


-


-

__ADS_1


-


Ada urusan apa sehingga membuat Brian terburu-buru untuk pergi keluar rumah? nantikan kisah selanjutnya jangan lupa subscribe dan tinggalkan jejak ya like dan komennya kritik dan saran boleh kok kalian sampaikan siapa tahu ada tulisan author yang kurang berkenan atau ada kata-kata yang salah atau typo kalian boleh menuliskannya dan memberikan saran supaya kedepannya autor bisa menulis lebih baik lagi Terima kasih untuk semuanya sehat selalu


__ADS_2