
''Jika dalam keadaan emosi jangan berbicara, dan jangan melakukan hal apapun. karena sesungguhnya saat kita dalam keadaan emosi, pikiran dan hati kita tidak bisa berpikir jernih. Bisa saja tanpa kita sadari, kita bisa menyakiti hati orang lain,'' _Mala comel 🐰🐰
...••••••••••••☆☆☆♡☆☆☆••••••••••••...
Raka belum tahu apa yang sedang terjadi. Ia belum mengerti mengapa kakaknya begitu sangat emosi, sampai-sampai ingin menghajar orang. Tidak biasanya Bryan sampai hilang kesabaran seperti itu.
Raka kembali masuk ke dalam. Namun Panji sudah tidak ada di tempatnya tadi. Raka bertanya kepada seorang bartender yang tak jauh dari tempat mereka berkelahi tadi.
Sambil menunjukkan potret yang ada di ponselnya, Raka bertanya pada bartender itu.
''Di mana orang yang tadi berkelahi itu?'' Ucap Raka.
Awalnya bartender itu tidak mau menjawab, hingga Raka membisikkan sesuatu kepadanya. Dan akhirnya dia pun mengatakannya.
Ternyata Panji mabuk berat dan di bawa oleh seorang wanita kupu-kupu malam yang bekerja di Club itu. Saat ini mereka sedang berada di salah satu kamar hotel yang memang satu pt ( apa sih nyebutnya kalau club dan hotel milik orang yang sama?) dengan Club tersebut.
Raka berniat untuk menemui Panji dan bertanya padanya.
Dan saat sampai di depan kamar hotel, Raka malah mendengar hal-hal yang tidak seharusnya ia dengarkan. Namun ia malah dengan sengaja mendengarkannya sambil bersandar di depan pintu dengan santainya.
''Gila! Dia sudah membuat kakakku emosi sekarang dia masih berani menikmati hidup? Hehehe..,'' ucap Raka dengan senyum anehnya.
Raka kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Dan tak lama kemudian manager dan beberapa staff Hotel datang. Ternyata Raka saat itu menghubungi Manager yang bekerja di hotel tersebut. Raka meminta kunci serta meminta untuk membawa beberapa orang dengan alasan ia ingin memergoki tunangannya yang sedang berselingkuh dengan seseorang.
Brak!!!!
Pintu Hotel terbuka dengan sempurna. Terlihat dua orang yang tanpa busana sedang memadu kasih dengan ganas dan saling mencumbu di atas kasur. Semua orang yang hadir dapat melihat dengan jelas pemandangan tersebut. Bahkan ada staff perempuan yang langsung berteriak saat melihat adegan Panji.
Raka pun tak tinggal diam. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan merekam semua kejadian itu.
''Apa yang kalian lakukan! Berani-beraninya kalian masuk tanpa izin!'' ucap Panji dengan emosi. Bahkan ia masih dalam keadaan mabuk.
''Oh, ternyata saya salah orang,'' ucap Raka dengan entengnya. Ia juga sudah mematikan kamera ponselnya.
Pihak hotel langsung meminta maaf dan mengurusnya. Raka tersenyum melihat semua itu. Sebenarnya ia sudah berbicara dengan pemilik Hotel itu. Karena pemilik Hotel itu tak lain juga salah satu teman Raka. Tentu saja mereka sudah bekerja sama untuk mempermalukan Panji.
Semua orang kini sudah keluar. Panji masih emosi dan bahkan membanting beberapa barang yang ada di meja.
Brak...
''Sialan Raka! Berani sekali mereka mengganggu kesenanganku dan mempermalukan ku,'' ucap Panji. Karena kegiatannya terganggu oleh ulah Raka tadi.
__ADS_1
''Sayang, apakah kita masih mau melanjutkannya?''
Brak!!
Panji mendorong wanita itu hingga terbentur dan mengucur darah di kepalanya. Panji terkejut dan takut dengan kejadian itu.
''Gawat, apa aku membunuhnya?'' ucap Panji yang melihat wanita itu terkulai lemah di lantai dengan simbahan darah.
''Sialan! Ini semua gara-gara Raka. Awas saja kau, aku pasti akan membalasmu!''
Panji dengan segera memunguti baju-bajunya lalu perlahan diam-diam keluar dari kamar dan meninggalkan hotel tersebut.
Raka mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ia menghubungi Niko untuk menyelidiki sesuatu.
''Ada apa kau menghubungiku?'' ucap Niko dari seberang sana.
''Aku sudah mengirimkan beberapa file kepadamu. Kamu tolong bantu selidiki dan cari tahu di mana rumah sakit tempat Natasha memeriksakan kandungannya. Dan periksa juga siapa dokter yang menanganinya,''
''Ini apa? Eh! Natasha benar-benar hamil anaknya kakakmu Raka?'' ucap Niko saat melihat file yang sudah Raka kirimkan.
''Bodoh, mana mungkin kakakku melakukan hal seperti itu. Meskipun mereka berpacaran sudah lama, aku yakin kakakku masih tahu batasan-batasannya,''
''Ya, aku juga yakin kakakmu tidak akan berbuat hal seperti itu. Aku tidak percaya Bryan berani melakukan hal yang bisa mengecewakan Mamamu,''
''Baiklah, aku akan mencari tahunya,''
''Oke. Nanti kalau kamu sudah mendapatkan informasinya segera kirimkan kepadaku,''
''Baiklah. Kamu ini datang-datang cuma kalau lagi membutuhkan ku saja. Dasar sahabat tidak tahu diri,'' gerutu Niko.
''Okke-oke, jika nanti kamu berhasil mendapatkan informasinya aku akan mentraktirmu selama 1 bulan,''
''Benarkah?''
''Tentu saja,''
''Baik, Deal ya kalau begitu.''
''Ok, tapi aku masih ada satu permintaan,''
''Apa lagi?''
''Sebagai bayarannya, aku minta kamu berikan nomor ponsel milik dokter Rita,''
__ADS_1
''Dokter Rita?''
''Ya, yang minta nomor ponselmu waktu di kantin kemarin,''
''Kapan? Kenapa aku tidak ingat?''
''Ya ampun Raka. Bukankah saat di kantin kemarin ada seseorang wanita yang meminta nomor ponselmu,'' ucap Niko dengan kesal.
''Oh, aku ingat sekarang. Ya ya, dia minta katanya karena ada seorang pasien yang ingin konsultasi denganku ya,''
''Bodoh! Itu cuman alasan dia itu. Dia ingin mendekatimu,''
''Benarkah?'' Ucap Raka dengan polosnya.
''Dasar kulkas 5 pintu. Ya sudahlah, aku akan mengerjakan pekerjaanku dulu. Nanti aku akan menghubungi lagi,''
''Baiklah''
Mereka pun mematikan teleponnya masing-masing. Niko tidak heran melihat kelakuan Raka. Sudah banyak beberapa wanita baik dokter maupun suster ataupun beberapa keluarga pasien yang mencoba mendekati Raka.
Namun si kulkas 5 pintu itu sama sekali tidak pernah menyadarinya bahkan Jenny yang jelas-jelas mengejarnya saja tidak pernah ia tanggapi.
''Entah perempuan seperti apa yang Raka cari,'' gerutu Niko.
Di sisi lain, Bryan saat ini sudah sampai di depan rumah Natasha. Namun rumah itu tampak sepi dan tertutup rapat.
Tapi di depan, terlihat ada mobil yang tak asing bagi Bryan. Ia seperti mengenali mobil tersebut.
''Bukankah ini mobilnya Hanzo?''
Ia ingat betul mobil itu. Sebab dulu Hanzo pernah ingin menjual mobilnya kepada Bryan. Namun Bryan tidak berniat ingin membelinya.
Tok tok tok tok....
Tak ada sahutan dari dalam. Bryan mencoba mengetuk pintu beberapa kali, namun tetap tidak ada orang yang membukakannya.
Saat Bryan akan pergi, tiba-tiba terlihat Natasha keluar dengan pakaian seadanya bahkan terlihat berantakan keuar dari arah balkon.
''Bryan? Untuk apa dia ke sini?'' Batin Natasha saat melihat mantan tunangannya itu sudah berdiri di depan rumahnya.
''Aku ingin berbicara denganmu sebentar,'' teriak Bryan dari bawah.
Natasha pun segera turun ke bawah dan menghampiri Bryan.
__ADS_1