
''Aku ini orangnya sangat berprisip. jika orang lain tidak menyakitiku, aku juga tidak akan menyakiti mereka. Aku bukanlah dulu yang lugu lagi. Sekarang, semua pemikiranku, kupertimbangkan dengan logika juga,''
...••••••••••••••••...
''Enggak Mas, Rena tidak suka berdandan. Bagi Rena berdandan itu sangat ribet dan menghabiskan waktu dan tenaga. Jadi seperti ini sajalah,''
''Natural?''_ Raka.
''Ya bisa dikatakan seperti itu,'' ucap Rena.
''Ya, kau benar. Seperti ini saja sudah terlihat cantik, apalagi berdandan. Pasti nanti Natasha akan tambah insecure.''
''Eh, kenapa jadi larinya ke non Natasha?''
''Sebab kalau dilihat-lihat, dia kan yang selalu iri setiap ketemu kamu. Lihatlah ekpresi wajahnya itu. Jika dilihat dengan seksama sudah hampir menelan orang hidup-hidup,''
Rena jadi tersenyum canggung setelah mendengar ucapan Raka.
''Kenapa candaan mas Raka jadi garing gini ya. Kalau sampai non Natasha mendengarnya, aku bisa habis dibantai nanti,'' batin Rena.
Hari mulai petang saat Rena dan Raka baru pulang.
Ternyata Bu Rossa sudah ada di rumah. Terlihat Bu Rossa sedang menyirami beberapa tanaman bunga anggrek kesayangannya.
''Eh, kalian sudah pulang?'' ucap bu Rossa lalu menghampiri Raka dan Rena.
''Iya Mah,'' jawab Raka.
''Kalau tahu kalian akan pergi berbelanja, harusnya tadi Mama nitip Raka,''
''Apakah ibu ingin membeli sesuatu? Rena bisa belikan sekarang. Ibu ingin membeli apa?'' Ucap Rena yang langsung menaruh plastik belanjaannya di sebuah kursi.
''Tidak, tidak usah Ren. Tidak jadi kok. Lain kali saja kalau kamu pergi berbelanja lagi, baru nanti ibu nitip,''
''Ooooooo.... kalau begitu saya permisi dulu Bu,'' Rena kembali mengambil plastik belanjaannya.
''Ya sudah sana. Kamu bersih-bersih dulu, Setelah itu kita bersiap untuk makan malam,''
''Baik Bu,''
__ADS_1
Rena segera masuk ke kamarnya. Raka juga ingin pergi ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat mamanya langsung memegang salah satu tangan Raka.
''Mama, ada apa Ma?'' ucap Raka yang terkejut saat mamanya tiba-tiba menggenggam salah satu tangannya.
''Mama ingin berbicara sesuatu yang serius denganmu,''
''Berbicara sesuatu? Sesuatu apa Mah?'' Raka mengamati ekpresi wajah mamanya. Namun ia belum bisa membaca apa yang akan mamanya katakan.
''Duduklah dulu kalau begitu.'' Bu Rossa langsung menarik putranya itu untuk duduk di sebelahnya.
''Apa sih Mah? Jangan bikin Raka penasaran deh.''
''Raka, jawab dengan jujur pertanyaan Mama. Apakah kamu menyukai Rena?''
Uhuk uhuk uhuk.... Raka langsung batuk seketika saat mendengar pertanyaan dari mamanya.
''Eh! Jangan berpura-pura batuk. Kau ini tidak sedang makan ataupun minum ya Raka. Mana bisa orang yang tidak makan ataupun minum bisa tersedak?''
''Ma, secara... secara apa ya, susah juga menjelaskannya. Intinya tidak harus saat makan ataupun minum. Kalau kita sedang terkejut, kita bisa saja tiba-tiba tersedak Mah.''
''Oh, benarkah? Kenapa tidak tersandung saja, lalu terjungkal dan terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Mama pasti akan langsung memberikan tepuk tangan untukmu,''
''Apa! Apa mama..mama? Raka, kamu itu seharusnya yang menjadi artis deh. Bukan malah kakakmu yang menjadi artis. Di rumah ini setau mama, yang paling pintar berakting itu kamu Raka,''
''Kenapa Mama bicara seperti itu?''
''Habisnya kamu tidak mengakui perasaanmu kok,''
''Perasaaan yang mana mamaku sayang. Mah, Raka tidak sedang menyukai siapa-siapa. Raka hanya menyukai Mbak Rena, karena Mbak Rena itu baik dan juga... Bukankah Mama mengajarkan Raka supaya kita baik pada siapapun ya?''
''Mama tahu, tapi kebaikanmu ini sangat di luar Nurul Raka,''
''Hah? Nurul?''
''Itu loh, kata-kata yang sering digunakan anak muda zaman sekarang,''
''Nalar Mama bukan Nurul,''
''Ya terserah mama lah,''
__ADS_1
Raka benar-benar sudah habis kesabarannya. Mamanya itu sangat pandai dalam hal berdebat apapun itu. Dan pada akhirnya ia yang selalu kalah. Dan jika dipikirkan lagi, sepertinya Raka juga belum pernah menang dari mamanya kalau soal berdebat.
''Mama, bukankah Raka selama ini baik kepada siapapun ya mah?''
''Kata siapa? Bahkan kepada calon Kakak iparmu saja kamu tidak bisa akur,''
''Itu beda Mama. Natasha itu rubah berbulu ular,''
''Raka, sejak kapan rubah berbulu ular? Yang namanya ular itu bersisik,''
''Iya deh iya, mama menang deh. Kenapa sih Raka selalu kalah bila berdebat dengan mama?''
''Tentu saja dong. Mana ada anak yang bisa menang dari orang tuanya. Kalau sampai menang, itu namanya anak durhaka,''
''Beeh... kata-kata Pamungkas ini,''
''Eh jawab dulu pertanyaan Mama tadi. Kamu belum menjawabnya. Malah mencoba memgalihkannya. Jangan coba-coba ya Raka. Mama paling hafal dengan sifatmu itu,''
''Mama, Raka kan sudah menjawab tadi,''
''Bu ada telepon,'' ucap Rena tiba-tiba yang membuat Bu Rossa dan Raka menghentikan obrolan mereka.
''Ya sudahlah, terserah kamu Raka. Mama tidak ingin mengurusi mu lagi. Tapi ingat ya kata-kata Mama, jika sampai nanti ada orang yang lebih dahulu menyatakan cintanya pada Rena, kamu jangan menyesal ya,'' ucap Bu Rossa yang kemudian pergi meninggalkan Raka begitu saja.
''Mama ini apa-apaan sih. Tiba-tiba menanyakan perasaanku. Dan lagi pula jika ada yang menyatakan cinta kepada mbak Rena terserah dia lah mau diterima atau tidak. Kenapa aku harus menyesal? Eh tunggu dulu, kenapa perasaanku jadi tidak enak ya. Tiba-tiba jadi kurang nyaman,'' Raka menggerak- gerakan lehernya, tangannya memegangi tengkuknya. Entah mengapa di dalam hatinya ada rasa ketidaknyamanan saat mendengar mamanya mengatakan tentang seseorang yang akan mendahuluinya.
''Sudahlah. Gara-gara mama sih,'' gerutu Raka. Raka pun kemudian melanjutkan niatnya yang sempat tertunda tadi.
...•••••••••••...
Tanpa terasa sudah satu minggu Raka tinggal di rumah mamanya. Rencananya ia akan kembali bekerja dua hari lagi. Kebersamaannya dengan Rena pun semakin dekat. Setiap harinya Raka semakin merasa nyaman setiap dekat dengan Rena ataupun mengobrol dengan Rena. Entah perasaaan apa yang merasukinya.
Bu Rossa selalu memperhatikan setiap gerak-gerik sang putra. Dan semakin ia mengamati, semakin ia yakin kalau putranya itu mulai tertarik dengan pembantu barunya itu.
Namun, di sisi lain Bu Rossa kepikiran dengan sesuatu yang sudah satu minggu ini mengganggu pikirannya. Beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan telepon saat ia sedang mengobrol dengan Raka. Dan seseorang yang menelponnya itu mengatakan kalau calon menantunya itu menghianati Putra sulungnya.
Bahkan sang penelpon mengatakan Ia memiliki beberapa bukti tentang kelakuan calon menantunya yang saat ini sedang berada di luar negeri.
Bu Rosa sangat bingung. Sebab Ia sangat tahu bagaimana perasaan Bryan terhadap calon menantunya itu. Cinta Bryan sudah terlalu dalam. Mungkin karena mereka sudah lama bersama. Namun Ia juga sangat hafal bagaimana sikap dan sifat Natasha.
__ADS_1
Sejak dulu, bu Rosa memang kurang menyukai Natasha. Namun karena Bryan sangat mencintainya, bu Rossa pun terpaksa menerima keberadaan Natasha.