Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Pelukis wajah


__ADS_3

"Hanya dengan ujian hidup, banyak tokoh besar tercipta karena mereka berhasil melewatinya dan menaklukkan nya." _ Ricky_


...•••••••••...


Ke esokan harinya Bryan dan Natasha pamit untuk pulang ke rumah mereka dan melanjutkan pekerjaan mereka. Terlihat Bu Rossa sangat sedih atas kepergian putranya itu. Rasa rindunya belum sepenuhnya terobati. Namun apalah daya, karena putranya bersikeras untuk tetap pulang dan melanjutkan pekerjaannya.


Setelah kepergian mereka, Rena berinisiatif membawakan sebuah minuman dan juga cemilan yang baru saja ia selesai buat tadi.


''Bu, minum dulu tehnya. Dan ini ada cemilan yang baru Rena buat tadi. Maafkan Rena kalau cemilannya kurang enak ya Bu. Maklum, Rena masih belajar,'' ucap Rena sambil menaruh sepiring cemilan dan segelas teh di meja depan bu Rossa.


''Wah, kamu pintar sekali membuat makanan Ren. Padahal katamu, kamu sangat tidak menyukai memasak kan?''


''Iya Bu, bagi saya memasak itu sangat ribet. Dapur menjadi berantakan dan juga badan capek semua. Tapi masakan itu, bukankah sangat penting dalam kehidupan. Rena juga ingin belajar meskipun Rena sangat tidak menyukai kegiatan itu. Tapi sebenarnya dalam hati kecil saya, saya juga ingin memasak segala hal yang enak dimakan bu,'' ucap Rena. Yang terakhir dengan suara kecil dan didekatkan di telinga Bu Rossa.


''Kenapa suaramu, kamu pelankan Ren?''


''Hehehe... takut banyak orang yang mendengar Bu. Kan nggak lucu, masa orang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tapi tidak suka memasak. Bukankah itu akan sangat lucu dan akan ditertawai jika ada orang yang mendengarnya,''


''Kamu ini Ren, ternyata benar ya kata Raka,'' ucap Bu Rossa sambil menggelengkan kepalanya.


''Memangnya mas Raka ngomong apa Bu?''


''Tidak apa-apa. Lanjutkan saja kegiatanmu Ren. Ibu mau pergi sebentar. Oh ya, ini makanannya aku bawa ya, sepertinya enak. Aku tidak mau menyia-nyiakannya,'' ucap Bu Rossa mengambil piring dan minumannya.


''Ibu mau ke mana?''


''Oh, saya ada janji dengan teman saya. Nanti kalau Raka bertanya kamu katakan saja kalau saya ada urusan sebentar. Dan satu lagi, nanti kalau Raka mau makan kamu tolong masakan makanan kesukaannya ya Ren,''


''Makanan kesukaan Mas Raka? Kan tadi ibu sudah memasaknya.''


''Kamu belum tahu ya, makanan yang paling Raka sukai.''

__ADS_1


''Haaaah?''


Rena sedikit bingung sebab tadi pagi bu Rossa sudah memasak makanan berbagai kesukaan putra-putranya itu. Tapi kenapa Bu Rossa malah menyuruhnya untuk memasak lagi.


''Nanti kamu dengarkan saja permintaannya,''


Karena tidak ingin banyak bertanya lagi, Rena pun akhirnya mengangguk dan mengiyakan permintaan Bu Rossa meskipun masih belum mengerti.


Setelah kepergian bu Rossa, Rena memutuskan untuk mengambil beberapa pakaian kotor dan mencucinya. Sebab sejak pagi ia belum sempat mencuci pakaian, karena membantu memasak Bu Rossa dan mempersiapkan oleh-oleh untuk dibawa Bryan.


''Wah mbak Rena sepertinya sibuk sekali. Apakah perlu bantuan?''


Rena terkejut saat mendengar suara Raka yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Rena terlalu fokus saat menjemur pakaian, sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Raka.


''Eggak usah Mas Raka, ini sudah hampir selesai kok.''


''Oh, baguslah kalau begitu. Setelah ini tolong buatkan aku mie kuah ya,''


''Hah mie kuah? Sebentar,'' Rena teringat dengan pesan Bu Rossa. Ternyata makanan kesukaan mas Raka teh mie.


''Ok, aku tunggu di ruang tengah ya mbak.'' Raka pun pergi meninggalkan Rena dan melanjutkan kegiatannya.


''Bukankah kata dokter terlalu sering makan mie juga tidak boleh ya? Tidak bagus buat kesehatan. Kenapa mas Raka malah sangat menyukainya? Dia kan juga seorang dokter. Tidak mungkin kan kalau dia tidak tahu. Ah ngapain aku memikirkannya, terserah dia lah mau makan apa. Kenapa aku malah jadi sok tahu,'' monolog Rena.


Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah itu memasakkan mie kuah untuk Raka. Setelah mienya siap, Rena segera memanggil Raka. Karena setelah itu ia berniat untuk pergi berbelanja kebutuhannya di minimarket depan.


''Mas Raka, mienya sudah saya taruh di meja makan ya,'' ucap Rena dari luar pintu.


''Ya, terima kasih mbak. Eh tunggu dulu. Kamu mau ke mana?'' tanya Raka saat melihat Rena membawa sebuah tas dan sudah berdandan rapi.


''Oh, saya mau ke minimarket depan Mas Raka. Mau beli kebutuhan saya. Soalnya saya belum sempat membeli barang-barang yang harus saya pakai untuk selama tinggal di sini,''

__ADS_1


''Kalau begitu tunggu aku dulu. Aku akan mengantarkanmu,''


''Tidak usah Mas Raka. Lanjutkan saja kegiatannya Mas Raka. Bukankah Mas Raka juga ingin makan mie. Nanti kalau mas Raka tinggal mienya akan menjadi besar-besar seperti cacing lo mas. Jadi tidak enak,'' Rena berusaha membujuk Raka supaya tidak jadi ikut dengannya.


''Kau ini. Itu makanan, kenapa kamu samakan dengan cacing. Terdengar sangat menjijikkan,'' ucap Raka.


''Maafkan saya mas, saya tidak bermaksud membuat Mas Raka jijik. Tapi memang seperti itu nanti jadinya,''


''Benarkah? Baiklah kalau begitu, tunggu aku sebentar. Aku akan memakannya dengan cepat,'' Raka langsung berlari masuk meninggalkan Rena.


Rena menggaruk tengkuk lehernya. Ia tidak habis pikir, kenapa anak majikannya ini sangat keras kepala. Ia sudah berusaha untuk menolaknya,bkenapa malah dia ingin bersikeras ikut.


Setelah selesai makan, Raka pun segera mengambil kunci mobil dan mengantarkan Rena. Padahal jarak minimarket dan rumah Bu Rossa tidaklah jauh. Tapi karena Raka memaksa, Rena pun dengan terpaksa menyetujuinya. Meskipun agak kesal, karena jika dilihat orang, seperti apa ya? Pokoknya susah menjelaskannya.


Intinya masa iya majikan malah ngintilin pembantunya. Kan nggak lucu ya.


''Sudah selesai belanjanya?'' tanya Raka saat melihat Rena sudah keluar sambil membawa beberapa kantong kresek yang berisi belanjaannya. Raka akan mengambil belanjaan Rena, namun Rena segera menyembunyikannya di belakang badannya.


''Kenapa kau menyembunyikannya? Apa jangan-jangan kau membeli sesuatu yang tidak boleh dilihat?''


''Enggaklah Mas, Rena cuma tidak ingin kalau mas Raka repot-repot membantu saya.''


''Aku tidak percaya, kau pasti membeli sesuatu yang tidak boleh dilihat. Ayo apa ayo? Coba sini aku mau melihatnya,''


''Saya tidak membeli sesuatu yang dilarang kok mas. Saya hanya membeli kebutuhan saya sendiri,'' Rena berusaha untuk menghindari tangan Raka. Namun Rena tetap kalah cepat saat Raka sudah berhasil merebut salah satu kantong belanjaan Rena.


Setelah berhasil merebutnya, Raka segera melihat isi belanjaan Rena. Tentu saja isinya cuma kebutuhan bulanan wanita. Tau sendirilah seperti shampo, pembalut, sabun, pasta gigi dll.


''Eh tunggu dulu! Kenapa kamu tidak membeli make up?''


''Make up? Untuk apa Mas?''

__ADS_1


''Bukankah setiap wanita kalau pergi berbelanja mereka pasti membeli make³ up ya? Seperti bedak, lotion, atau pensil yang buat melukis wajah tuh,''


Rena tertawa terbahak-bahak saat mendengar Raka menyebut pensil alis sebagai pensil pelukis wajah.


__ADS_2