Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Ternoda


__ADS_3

''Hidup itu selalu berjalan pada jalurnya. Terkadang seberapa keras kita berusaha merubahnya, tetap saja kembali pada jalannya. Maka dari itu hidup itu bukan pilihan, tapi suatu keharusan,''


...••••••••••♡••••••••••••...


''Ada apa kau mencariku?''


Bryan kemudian menunjukkan beberapa lembar foto kepada Natasha.


''Oh, akhirnya kamu sudah tahu,''


''Apa maksudnya ini Natasha? Panji bilang kau sedang hamil. Apakah itu benar?''


''Benar, bukankah kamu juga sudah melihatnya,''


''Natasha, sebenarnya selama ini kamu menganggap ku apa?''


''Menganggapmu apa! Aku menganggapmu apa bukankah kamu sudah tahu sendiri.''


''Natasha kenapa kamu seperti ini? Jawab dengan jujur siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu?''


Namun Natasha malah tertawa histeris melihat ke arah Bryan.


''Bryan selama ini kamu terus berpura-pura munafik. Aku selalu mencoba mendekatimu tapi kamu tidak pernah mau meresponku. Tentu saja aku mencari kehangatan dari pria lain. Apakah aku salah?''


Bryan membuang nafasnya.


''Lalu kenapa Panji mengatakan kalau itu adalah anakku, padahal kamu jelas-jelas tahu aku tidak pernah menyentuhmu?''


''Jadi kamu bertemu dengannya? Apakah kalian itu bodoh! Saling mengadu domba,''


Bryan benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Natasha yang iya kenal selama ini tidak sama dengan Natasha yang ia lihat sekarang. Semua kelakuannya benar-benar terbuka di mata Bryan. Kenapa selama ini ia baru menyadari bahwa sifat baik yang selama ini Natasha tampilkan hanyalah topeng belaka.


''Natasha, kamu benar-benar berubah sekarang,''


''Berubah? Hello Bryan, Aku sangat benci dengan keluguan mu itu. Aku benci dengan dirimu yang tidak pernah peka dengan perasaanku. Kamu tuh selalu takut dengan mamamu. Kamu tahu kan gaya berpacaran anak zaman sekarang, tapi apa yang kamu lakukan? Gaya berpacaranmu itu sangat kuno bahkan ketinggalan zaman.

__ADS_1


''Apa-apa harus tunangan dulu, harus nikah dulu, bahkan cuma pegangan tangan saja kamu selalu bilang kita belum boleh ini belum boleh itu. Kita harus menikah dulu. Bullshit! Aku tidak suka dengan orang sepertimu yang selalu mengatasnamakan etika dan juga norma-norma agama. Ini zaman apa? Sudah modern, ini bukan lagi zaman kuno di zaman mamamu. Kamu selalu takut dengannya padahal kamu yang menjalani, bukan dia!''


''Cukup Natasha! Bagaimana dirimu aku sudah cukup tahu dengan jelas.'' Ucap Bryan.


''Lalu, memang apa hubungannya denganku? bukankah kita sudah putus? Jadi jangan mengganggu hidupku lagi,'' ucap Natasha.


Bryan menganggukan kepalanya.


''Baiklah, akan aku pastikan. Aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi.'' Ucap Bryan.


''Ok, kalau begitu pergi dari rumahku! Karena bagiku sekarang aku sudah menemukan pria yang lebih baik darimu, pria yang lebih kompeten. Bahkan lebih menyayangiku dan lebih kaya darimu,'' ucap Natasha yang lalu pergi masuk ke dalam rumah membanting pintu.


Pikiran Bryan semakin kalut. Ia kembali pergi ke Club dan minum-minum hingga larut malam.


Raka sudah mencarinya kemana-mana seperti orang gila. Namun belum juga menemukannya. Ternyata Bryan menyadari keberadaan GPS yang Raka pasang di handphonenya. Bryan pun sengaja mematikannya agar Raka tidak mengganggunya.


Disaat Raka masih masih pusing mencari keberadaan Bryan, Bryan malah sudah sampai di rumah dengan keadaan mabuk parah.


''Bryan! Apa yang kamu lakukan?'' Ucap Rossa saat melihat putranya sempoyongan sambil memegang sebotol minuman.


''Natasha... Kenapa kamu tega sekali menghianatiku? Nana janjimu dulu?'' ucapnya dalam keadaan tidak sadar.


''Ada apa dengan mas Bryan bu? Kenapa Mas Bryan mabuk lagi?''


''Entahlah Rena. Cepat kamu hubungi Raka saja Suruh Raka cepat kembali,''


''Baik bu,'' ucap Rena. Namun sebelum Rena melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya langsung ditarik oleh Bryan.


''Kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri, perempuan ******. Berani sekali kamu menghianatiku. Bahkan hamil dengan laki-laki lain!''


Plaak!!!


Sebuah tamparan melayang tepat di pipi Rena.


Bu Rossa berteriak histeris melihat Rena mendapat tamparan dari sang putra.

__ADS_1


''Apa yang kau lakukan Bryan!'' Bu Rosa menampar Bryan.


Rena menahan perih di pipinya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Sebab tangannya masih digenggam erat oleh Bryan.


Bu Rossa berusaha bangkit untuk menolong Rena.


''Lepaskan Rena Bryan. Sadarlah! Dia bukan Natasha, tapi Rena!''


Namun Bryan hanya diam saja menatap ke arah Rena. Di dalam benaknya wajah Rena berubah-ubah. Kadang menjadi Natasha kadang menjadi Rena. Bryan mencoba menajamkan pandangannya. Namun sepertinya karena nafsu sudah di ubun-ubun, Ia pun menarik paksa Rena dan menguncinya di dalam kamar.


Rena dibanting di atas kasur hingga membuatnya menjerit kesakitan. Sebab pergelangan tangannya membentur pinggiran kasur.


''Mas, apa yang akan mas lakukan? Tolong lepaskan saya mas. Saya bukan Natasha, saya Rena! Pembantu Ibu Rossa. Tolong sadarlah Mas!'' Ucap Rena sambil memohon ia berusaha untuk meraih gagang pintu.


Namun dengan segera Bryan mengambil kuncinya sebelum Rena berhasil meraih kunci tersebut.


''Kamu tidak akan pernah bisa lari lagi Natasha! Tunggu, ini? Natasha?''


Bryan masih berusaha mengucek-ngucek kedua matanya. Wajah Rena terus berubah-ubah dan tanpa peduli lagi Bryan langsung mendekap badan Rena dan melancarkan aksinya. Bryan lalu menciumi Rena dengan ganas membuat Rena menangis ketakutan.


''Tolong lepaskan saya Mas,'' mohon Rena sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Bryan. Namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan, karena tangan Bryan satunya sambil mencekik lehernya Rena.


Rena tak mampu berbuat apa-apa lagi. Malam itu tubuhnya benar-benar remuk. Bukan hanya tubuhnya, bahkan hatinya ikut hancur juga. Dirinya sudah dijamah oleh anak majikannya sendiri yang mabuk dan dan tidak sadar akan perbuatannya.


Rena hanya bisa menahan tangis dan rasa sakit, sebab Bryan bermain dengan sangat kasar. Kali ini perbuatan Bryan sungguh benar-benar di luar batas. Bahkan ia tak segan mengikat kedua tangan Rena yang kini sudah tak berdaya. Sampai pada akhirnya, Rena tak sadarkan diri.


Bu Rossa masih menunggunya di depan pintu menangis histeris mendengarkan setiap teriakan dan permohonan Rena.


''Bryan....Mama mohon lepaskan Rena nak, Mama mohon. Jika kamu sampai menyakitinya, Mama pastikan Mama tidak akan pernah memaafkanmu Bryan,''


Tok...tok...tok...


Bu Rossa terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Bryan. Namun Bryan sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari sang Mama.


Hingga pagi harinya.... Rena tersadar dari pingsannya. Ia melihat Bryan masih tidur pulas membelakanginya. Rena melihat tubuhnya yang kini sudah ternoda. Ia kembali menangis, mengingat apa yang sudah terjadi. Tubuh dan hatinya kini sudah bertambah hancur dan penuh dengan tanda merah akibat ulah Bryan.

__ADS_1


Iya kemudian perlahan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya. Pandangannya kosong. Ia kembali menoleh ke arah Bryan.


''Aku sangat membencimu, Aku sangat membencimu!'' ucapnya penuh penekanan.


__ADS_2