
''Balas dendam? Itu bukan tugas saya. Siapapun orang yang telah membuat saya terluka, suatu saat akan hancur dengan sendirinya. Dan jika saya beruntung, Tuhan akan mengizinkan saya untuk melihat kehancuran mereka.''
...••••••••••••••••••••☆☆☆♡☆☆☆•••••••••••••••••••••...
Raka kembali menghampiri mamanya dengan raut wajah yang lesu.
''Ada apa dengan kakakmu Raka? Dia mau ke mana?'' Tanya Bu Rossa ketika melihat Raka kembali menghampirinya.
''Entahlah mah. Katanya sedang ada urusan,'' jawab Raka.
''Mama khawatir jika kakakmu berbuat macam-macam di luar sana.''
''Tenanglah Ma, tadi kakak sudah bilang kok kalau dia tidak akan berbuat hal bodoh lagi,''
''Tapi mama tetap tidak tenang Raka. Mama takut, begini saja Raka, kamu ikuti kakakmu ya. Cepat sana,''
''Tapi mah, Raka gak tahu kaka kemana?--
"Mama gak mau tahu, pokoknya ikuti dulu sana. Mumpung belum terlalu jauh mobilnya,"
"Baiklah baiklah mah, Raka akan mengikuti kakak.'' Raka pun kemudian meminta Rena untuk mengambilkan kunci mobil. Rena segera kembali ke dalam dan mengambil kunci mobil serta jaket milik Raka. Lalu menyerahkannya kepada Raka.
Mobil pun kini melesat di jalanan dan dengan cepat Raka berusaha mengikuti jejak sang kakak. Untung saja iya pernah memasang sebuah GPS di handphone milik kakaknya. Jadi otomatis ia tahu keberadaan kakaknya.
''Ke arah mana dia pergi? Bukankah ini Club yang ada di pinggir kota. Kenapa dia pergi ke sana?'' Monolog Raka saat melihat GPS yang menunjukkan bahwa Bryan saat ini menuju ke tempat yang jauh yang berada di pinggiran kota.
Raka segera menancap gasnya agar mobilnya melesat lebih cepat.
Di rumah, Bu Rossa terlihat sangat cemas dan khawatir.
''Raka bagaimana sih? Kok nggak ngasih kabar apa-apa.''
''Tenanglah Bu, mungkin Mas Raka Masih menyetir. Kan tidak mungkin dalam keadaan menyetir sambil main handphone,'' ucap Rena sambil menyerahkan segelas air putih kepada bu Rossa.
''Kamu benar Ren, tapi perasaanku kok jadi enggak enak ya Ren. Firasatku mengatakan kalau akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi kepada putra-putraku,''
Rena juga bingung harus bagaimana untuk membantu Bu Rossa agar tenang. Karena ia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Di sisi lain, kini mobil Bryan sudah berada di depan sebuah Club yang jaraknya jauh sekali di pinggiran kota.
Brak!!....
Brian menjatuhkan jaket dan kunci mobilnya di atas meja.
Seorang pria tersenyum semirik melihat kedatangan Bryan yang emosi.
''Ada apa Kamu memanggilku ke sini?''
''Tenanglah Bro. Duduk dulu dan minum dulu,'' ucap pria itu sambil menyodorkan segelas wine ke arah Bryan.
''Ck...!''
Brian berdecak kesal melihat ekspresi wajah pria itu. Pria itu adalah Panji, mantan kekasih Natasha yang saat ini dikabarkan dekat kembali dengan Natasha. Bahkan videonya yang kemarin tersebar luas dan sedang viral di mana-mana.
''Jika tidak ada sesuatu hal yang penting, lebih baik aku pergi. Aku sedang banyak urusan!'' Ucap Bryan yang akan memutar badannya untuk meninggalkan tempat itu. Namun Panji langsung menahan lengan Bryan.
Bryan menatap tajam ke arah Panji.
''Baiklah baiklah. Aku tidak akan menyentuhmu,'' ucap Panji sambil mengangkat kedua tangannya melepaskan genggamannya dari tangan Bryan.
''Tidak usah kebanyakan basa-basi, cepat katakan atau Aku akan benar-benar pergi!'' ucap Bryan penuh penekanan.
''Baiklah baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa-apa yang membuatmu datang ke sini sia-sia. Lihatlah ini!'' Panji menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Bryan.
Bryan mengerutkan keningnya. Lalu perlahan tangannya mengulur dan mengambil amplop coklat tersebut.
Matanya langsung melotot dengan sempurna saat melihat isi di dalam amplop coklat tersebut. Rupanya di dalamnya terisi sebuah kamera record dan juga beberapa lembar foto serta sebuah kertas yang berisi hasil tes kandungan dan juga satu lembar hasil USG atas nama Natasha.
''Delapan minggu? Apa-apaan ini?'' Ucap Bryan sambil menunjukkan foto-foto itu ke hadapan Panji.
''Kau ini benar-benar pria yang lugu dan gampang dibodohi Bryan. Pantas saja Natasha mengatakan bahwa kau itu adalah pria terbodoh yang pernah ia jumpai,''
''Kau!'' Bryan mengangkat kerah kemeja yang Panji kenakan dan ingin menonjoknya. Namun Panji malah tersenyum melihat Bryan emosi.
''Sudah kubilang duduklah dulu dan redamkan emosimu. Kenapa kamu ini gampang sekali tersulut emosi? Hati-hati Bro, nanti kalau kamu sering emosi bisa-bisa kena serangan jantung dan darah tinggi. Apa kau mau mati sebelum menikah?''
__ADS_1
''Tutup mulut busukmu itu atau aku akan merobeknya sekarang juga!'' Ucap Bryan yang semakin kesal dibuatnya.
''Baiklah baiklah aku akan menjelaskannya. Itu adalah hasil USG Natasha. Dia sedang hamil, bahkan ia sudah hamil dengan usia kandungan delapan minggu. Tapi Bryan, apakah kau tahu siapa ayah dari anak itu?''
''Aku tidak tertarik dengan urusannya. Hubungan kami sudah selesai dan itu bukan urusanku lagi,'' ucap Bryan.
''Apa kau yakin tidak penasaran siapa ayah anak dalam kandungan Natasha Bryan?''
Karena sudah hilang kesabarannya, Bryan memutuskan untuk meninggalkan Club tersebut. Namun sebelum langkahnya keluar, tiba-tiba Panji mengatakan...
''Dia adalah anakmu Bryan,'' ucap Panji dengan senyuman anehnya.
Mendengar ucapan Panji, Bryan menghentikan langkahnya seketika. Rasanya dunianya seperti berhenti dan memutar di sekitarnya. Ia kemudian memutar badannya dan melihat ke arah Panji yang kini tersenyum melihat dirinya.
Ia pun segera kembali menghampiri Panji dan mengangkat kerah kemeja Panji kembali.
''Apa kau bilang? Kalau bicara jangan asal!'' Ucap Bryan.
''Kenapa? Apa kau tidak percaya dengan ucapanku? Kau bisa tanyakan sendiri kepada Natasha, bahwa anak yang ia kandung adalah anakmu atau bukan?'' Ucapan Panji.
''Kau!''
Buk...
Satu tinjuan melayang di wajah Panji. Namun Panji malah tertawa girang melihat Bryan semakin emosi. Brian kembali ingin melayangkan tinjunya, namun tangannya segera ditahan oleh Raka yang datang tepat waktu.
''Bryan! Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhnya!'' ucap Raka.
''Lepaskan aku Raka! Biarkan aku memukul pria brengsek ini.'' Bryan berontak dan ingin memukul Panji kembali.
''Apa kau sudah gila! Kau ingin masuk penjara karena memukul orang hah! Apa kau tidak lihat di sekitar banyak orang yang melihat dan memotretmu,''
Raka menarik paksa Bryan untuk meninggalkan club tersebut. Panji tersenyum melihat kepergian kakak beradik itu. Entah apa yang Panji rencanakan.
Di luar, Raka membuang nafasnya dengan kasar.
''Kau benar-benar sudah gila! Apa kau ingin jadi narapidana hah? Tidak sadar diri kau ini seorang entertain.''
__ADS_1
Bryan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Raka. Ia malah pergi mengambil jaket dan kuncinya dan mengendarai mobilnya lalu melesat kembali ke jalanan.