Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Kekesalan Raka


__ADS_3

Hari ini Raka Akan kembali bekerja dan meninggalkan rumah mamanya. Barang-barangnya pun sudah dikemas di koper dan sudah berjejer rapi di dekat meja ruang tamu.


''Dek, adek!'' Panggil Bu Rossa dari arah tangga sambil membawa sebuah tas kecil.


''Mah... Raka sudah besar, sudah dewasa. Kenapa Mama masih memanggil Raka dengan sebutan seperti itu. Bagaimana jika ada yang mendengarnya. Lihatlah Mbak Rena, dia tertawa cekikikan tuh di sana,'' ucap Raka sambil menunjuk ke arah Rena yang memang sudah menahan tawanya sejak tadi saat mendengar Bu Rossa masih memanggil Raka dengan sebutan adek.


''Lah kan itu memang panggilan kesayangan dari Mama untuk kamu. Kenapa kamu malah malu Raka? Baiklah baiklah, Mama tidak akan memanggilmu lagi dengan sebutan itu,''


''Nah gitu dong ma,'' ucap Raka dengan senang.


Panggilan adek, memang panggilan kesayangan Raka sejak masih kecil. Tapi semenjak kelas dua SMA, saat mamanya datang mengambil rapot kenaikan kelas. Ia jadi sering di ejek oleh teman-temannya gara-gara mamanya memanggilnya dengan panggilan adek.


''Oh iya Raka. Apakah nanti jadi Niko yang menjemputmu?''


''Iya Mah, tadi aku sudah memastikannya kalau Niko yang akan menjemputku di sini.''


''Baguslah kalau begitu. Mama jadi tidak khawatir lagi kalau sampai kamu yang menyetir sendiri,''


''Memangnya kenapa Mah? Kan Raka waktu datang juga nyetir sendiri,''


''Loh, katamu kamu diantar sama Niko.''


''Iya diantar. Tapi setelah sampai di rumahnya, Raka yang menyetir sendiri sampai ke sini. Kan tidak mungkin Raka merepotkan Niko terus mah,''


''Tapi Raka .....''


''Mamaku tersayang...'' Mama tenang saja. Raka pasti akan selalu berhati-hati kok. Raka tidak akan mengulangi kejadian yang sama lagi,'' ucap Raka mencoba menenangkan mamanya yang masih terlihat khawatir dengan putranya itu.


''Memangnya kejadian apa yang telah Mas Raka lakukan, sampai-sampai membuat bu Rossa khawatir seperti itu?'' batin Rena.


Meskipun ia sangat penasaran, namun Ia tetap memilih diam di pojokan sambil melihat interaksi pasangan ibu dan anak itu.


''Baiklah kalau begitu. Tapi kamu tetap harus berhati-hati Raka. Mama tidak mau kejadian yang dulu sampai terulang lagi,''


''Iya mama,'' ucap Raka sambil memeluk mamanya.


Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar.


Din...din....

__ADS_1


''Ya sebentar! Turunlah dulu Nik, bantu aku mengangkat kopernya!'' Teriak Raka.


Brak.....


Terdengar suara bantingan pintu mobil yang membuka lalu menutup kembali. Lalu terlihat sebuah langkah kaki seseorang yang mulai memasuki rumah Bu Rossa yang kebetulan pintunya memang sengaja dibuka.


Rena sedikit terpana saat melihat seseorang yang baru saja datang itu. Begitu pula dengan Raka dan juga Bu Rossa. Mereka Langsung terdiam seketika saat melihat seseorang itu yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.


''Jenny?'' Kok kamu yang ke sini?'' ucap Raka yang mulai menetralisir keterkejutannya.


''Oh, maafkan aku Raka. Tadi Niko bilang, ia tidak bisa menjemputmu. Makanya sekalian meminta tolong aku untuk pulang bersama denganmu. Karena kebetulan aku baru saja berkunjung ke tempat nenekku,'' ucap Jenny.


Raka terdiam tanpa berekspresi apapun. Ia hanya melihat datar ke arah Jenny yang saat ini tersenyum manis menatapnya.


Rena masih berdiri di pojokan sambil memandangi mereka bertiga. Bu Rossa menyenggol pelan pundak putranya itu dan memberi kode untuk mengikutinya.


''Baiklah kalau begitu. Kamu duduk dulu Jenny. Tante akan mengambilkanmu minum,'' ucap Bu Rossa yang berlalu pergi ke arah dapur.


Tak lama kemudian Raka pun mengikutinya.


''Raka!''


''Silakan duduk dulu non,'' ucap Rena yang mempersilahkan Jenny untuk duduk terlebih dahulu.


''Kamu siapa?''


''Saya asisten rumah tangga Bu Rossa non,''


''Oh, pembokat baru toh. Kupikir siapa,'' ucap Jenny dengan ketus.


''Heehehe....,'' Rena hanya tersenyum kikuk melihat ekspresi Jenny yang tak kalah jauh beda dengan ekspresi Natasha saat pertama kali mereka bertemu.


Di dapur


''Raka, apa-apaan ini? Katamu Niko yang akan menjemputmu. Kenapa malah jadi Jenny?''


''Raka juga tidak tahu Ma. Kan tadi Raka sudah bilang kalau Raka sudah mematikannya bahwa Niko yang akan menjemput Raka. Raka juga terkejut saat tiba-tiba Jenny yang datang ke sini. Raka benar-benar tidak tahu Ma,'' ucap Raka sambil mengedikkan kedua bahunya.


''Coba kamu telepon dulu tuh si Niko. Tanyakan kenapa malah Jenny yang menjemputmu,''

__ADS_1


''Baiklah. Raka mau menelepon Niko dulu mah,'' pamit Raka yang kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Niko.


''Halo? Eh Raka. Kenapa menelponku?'' ucap seseorang dari seberang sana yaitu Niko.


''Niko, kamu ini apa-apaan sih? Kan kita sudah sepakat kemarin kalau kamu yang akan menjemputku. Kenapa malah tiba-tiba Jenny yang datang?''


''Eh kamu ni Raka. seperti tidak tahu saja bagaimana sifat Jenny. Seharusnya kamu tahu dong Raka dia itu bela-belain menyusul ke tempatmu karena dia ingin jalan bersama denganmu.''


Raka menghela nafas....


''Sudahlah. Kan kamu juga tahu Jenny sudah menyukaimu sejak lama kan. Kalian itu cocok tahu' Sama-sama dokter yang berbakat. Anggap saja ini kesempatan yang bagus buat kalian. jadi tidak perlu berterima kasih denganku ya. Aku ini hanya ingin melihat kedua temanku ini bahagia. Nggak salah kan?'' ucap Niko.


''Niko, kamu kan tahu bagaimana perasaanku kepada Jenny. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Jika seperti ini bukankah malah akan menyakiti hatinya?''


''Memangnya apa kurangnya Jenny sih Raka? Dia itu udah cantik, berbakat, dokter yang hebat. Sama seperti dirimu. Kalian itu pasangan yang serasi,''


''Niko, berbakat, cantik dan juga sama-sama hebat. Itu tidak bisa dikatakan pasangan yang serasi. Mungkin bagi orang kita memang pasangan serasi. Tapi bagiku, itu tidak. Lagi pula, perasaan itu tidak bisa dipaksakan Niko.''


''Maafkan aku Raka. Aku juga bingung harus bagaimana. Pagi-pagi sekali Jenny menelponku lalu meminta tolong kepadaku agar mau membantunya bagaimanapun caranya agar bisa pulang bersamamu.''


''Lalu kenapa kamu tidak bilang dulu kepadaku?''


''Kan aku pikir kamu juga tidak akan keberatan,''


''Aku tidak akan keberatan kalau dia tidak memiliki maksud tertentu. Tapi kalau dia seperti itu, tentu saja aku keberatan.''


''Ya sudahlah. Sudah terlanjur juga. Untuk kali ini biarkanlah dia pulang bersamamu. Nanti lain kali aku tidak akan melakukannya lagi. Janji deh,''


''Ah kau ini Nik merepotkan saja,'' ucap Raka kemudian menutup teleponnya dengan kesal.


-


-


-


-


Trimakasih sudah mau membaca karya saya. jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like dan komennya. Dan juga di favoritkan ya🥰 Trimakasih

__ADS_1


__ADS_2