
...Me : ''Aku telah membekukan hatiku,''...
...Peri hati : ''Kenapa?''...
...Me : ''Kata orang dengan membekukan hati kita, kita bisa melindungi diri kita,''...
...Peri hati : ''Maaf, aku tidak bisa menolongmu.''...
...Me : ''Apakah ada cara lain, agar hatiku bisa mencair kembali?''...
...Peri hati : ''Bisa š, peluknya hatimu dan ucapkan mantra ajaibnya,''...
...Me : ''Mantra ajaib?''...
...Peri hati : ''Ya, katakan ''Aku mencintai diriku, semangat dan bangkitlah kembali,''...
...Me : ''š Aku mencintai diriku, semangat dan bangkitlah kembali,''...
...ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢<ā”>ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢...
Raka terbangun dari tidurnya. Ia mendapati dirinya di selimuti kain yang biasa Rena pakai ketika sedang duduk di sofa sambil menonton drama china kesukaannya. Namun ia tidak melihat Rena di mana-mana.
Raka segera beranjak bangun dengan pikiran gelisah.
"Di mana dia?''
Raka berlari ke arah dapur. Ia berpikir mungkin Rena sedang memasak. Namun setelah sampai di dapur Raka juga tidak mendapati keberadaan Rena.
Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Rena. Namun ia juga tidak mendapatkan jawaban apapun dari ponselnya.
"Jangan-jangan! Tidak...tidak..."
Pikirannya semakin kacau. Ia takut trauma Rena kambuh kembali. Raka segera menyambar jaket dan kunci motornya untuk mencari Rena.
Brum...brum....bruuuuuum....
Baru beberapa meter Raka melajukan motornya, matanya langsung menangkap sosok yang sejak tadi ia cari-cari.
Dari sebrang jalan terlihat Rena sedang memberi makan beberapa kucing jalanan. Raka menggelengkan kepalanya.
"Aku mengkhianatinya, dia malah asik bermain dengan kucing-kucing itu?''
Raka pun memarkirkan motornya di pinggir jalan begitu saja. Kemudian ia berjalan mnyebrang jalan untuk menghampiri Rena yang kini masih asik bermain dengan beberapa kucing liar yang ada di sekitar situ.
Raka berdiri di belakang Rena sambil melipat tangannya.
"Apakah kucing-kucing itu terlihat lebih tampan dan menyenangkan ketimbang diriku?" Ucapnya dengan berpura-pura cemberut.
Rena sedikit terkejut mendengar suara Raka yang tiba-tiba ada di belakangnya. Ia pun segera berdiri dan tersenyum.
"Kucing-kucing ini sangat lucu sekali. Bolehkah aku merawatnya?" ucap Rena sambil menunjukkan salah satu kucing itu ke hadapan Raka.
"Apakah dia benar-benar lebih lucu daripada aku?"
Rena menghela nafasnya lalu berbalik membelakangi Raka.
Tiba-tiba dari arah belakang, Raka memeluk Rena. Meletakkan kepalanya di ceruk pundak Rena.
__ADS_1
"Baiklah baiklah, kau boleh merawatnya. Jangan cemberut seperti itu."
Dipeluk dengan posisi seperti itu membuat jantung Rena berdegup semakin kencang. Entah perasaan apa yang mulai merasukinya. Ia pun dengan segera melepaskan pelukan Raka.
"Maafkan saya Mas,"
Raka tersenyum.
"Tidak perlu minta maaf, ini juga salahku. Aku yang terlalu lancang karena langsung memelukmu tanpa meminta izin dulu,"
Rena tersenyum kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Raka.
"Mau ke mana?" Raka bertanya saat Rena meninggalkannya begitu saja.
"Pulang," jawabnya dengan singkat.
"Pulang?"
"Ya, bukankah Mas Raka ke sini untuk menyuruhku pulang?"
Raka memiringkan kepalanya mendengar ucapan Rena.
"Sepertinya Gadis itu emosinya sedang baik hari ini," monolognya.
"Hei, jangan pulang dulu. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,"
Mendengar teriakan Raka, Rena menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya melihat Raka yang kini berlari menyebrangi jalan.
Raka segera berlari kembali menyeberangi jalan. Mumpung jalanan masih sepi, Ia kembali untuk mengambil motornya dan menghampiri Rena kembali.
"Kita akan ke mana?"
"Rahasia,"
Mendengar jawaban Raka membuat Rena kesal karena penasaran.
"Katakan dulu! Aku tidak akan naik sebelum mas Raka mengatakannya,''
''Jika mengatakannya, itu bukan rahasia lagi namanya,''
''Terus apa namanya?''
''Rahasia umum dong,''
''Hahahahaah.......''
Rena tertawa lepas mendengar setiap ucapan Raka yang terdengar lucu itu.
''Ayo cepat naik, Nanti keburu petang,''
''Baiklah baiklah. Awas Saja, asal jangan diajak ke tempat yang aneh-aneh,'' ucap Rena.
''Tidak akan, percayalah,''
Rena segera naik ke atas motor Raka.
''Baiklah, pegangan yang erat dan pakai helmnya,'' Raka menyerahkan Helmnya dan membantu Rena untuk memakainya.
__ADS_1
Rena tersenyum dan mengganggukan kepala.
''Sudah siap?''
''Siap!'' sahut Rena dengan gembira sambil memgangkat kedua tangannya ke atas.
Raka segera menstaterkan motornya kembali dan melaju menembus jalanan ibukota. Rencananya ia akan membawa Rena berjalan-jalan di pantai untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.
Kebetulan Ia baru menemukan referensi tempat yang bagus untuk melihat matahari terbenam di pantai itu.
''Wah, apakah kita akan pergi ke pantai?''
Raka menoleh ke arah Rena dan tersenyum sambil mengangguk.
''Kenapa tadi tidak pulang dulu? Seharusnya aku berganti baju dulu,'' gerutu Rena.
''Tidak apa-apa. Lagi pula kita hanya melihat matahari terbenam saja. Jadi tidak perlu berganti pakaian. Pakaian yang kau pakai saat ini bagus juga kok, dan terlihat cantik,''
''Benarkah?''
''Ya, tentu saja. Wanita yang aku cintai akan selalu terlihat cantik di mataku,''
Jawaban Raka membuat pipi Rena merah merona menahan malu akibat ulah gombalan Raka. Rena segera memalingkan wajahnya menutupi rasa gugup yang kian menderu di hatinya.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah batu karang dekat tebing yang tak jauh dari pantai. Di sana mereka bisa melihat jelas pemandangan yang indah yang Tuhan lukiskan agar menjadi gambaran yang sempurna di mata manusia.
''Wow, langitnya terlihat indah sekali ya....'' Rena sangat kagum melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Raka sangat senang melihat Rena menyukai kejutan darinya.
''Kau benar sekali. Saat Matahari mulai tenggelam, bahkan cahayanya pun terlihat indah di langit,''
''Mas Raka, Bukankah itu yang disebut senja?'' Tanya Rena penasaran. Sebab ia sempat beberapa kali membaca novel atau mendengarkan beberapa orang yang sering mengaitkan matahari tenggelam dengan senja.
''Mungkin, aku juga kurang paham,'' jawab Raka. Karena memang ia tidak mengetahuinya.
''Apa? Kukira mas Raka sudah paham saat mengajakku untuk melihat matahari terbenam.''
''Aku hanya mendapatkan ide dari temanku saja. Katanya untuk membawa seseorang yang kita cintai agar menjadi kesan terbaik di hatinya, ya baiknya kita mengajaknya untuk melihat matahari terbenam,'' jawab Raka dengan polos.
''Hais... teman mas Raka ini tidak baik untuk dijadikan teman,''
''Kenapa?''
''Pasti dia bukan tipe yang romantis,''
''Hei, bukankah itu terlihat romantis malahan?''
''Tentu saja tidak romantis. Mas Raka, romantis itu ketika seorang laki-laki tanpa harus bertanya langsung mengatakan ''Hei gadisku, kenapa kamu cemberut seperti itu? Plak... ini uang tiga gepok untukmu. Belanjalah sepuasnya, jika habis datanglah kembali kepadaku,'' Begitu harusnya Mas Raka,'' ucap Rena menirukan sebuah drama yang sempat ia tonton sebelum ia pergi tadi.
''Astaga... kamu terlalu banyak menonton drama. Sampai-sampai kau hafal menirukannya,''
''Tentu saja. Drama itu sangat bagus sekali lho Mas, nanti ketika kita pulang aku akan menunjukkannya kepada mas Raka.
''Baiklah, akan ku tonton nanti''
Dan mereka berdua pun menikmati matahari terbenam hingga tidak lagi menampakan sinar cahayanya.
__ADS_1