
"Sepertinya takdir benar-benar membenciku, bahkan kini dia merenggut duniaku. Kurang menderitakah diriku? Sampai-sampai engkau mengambil segalanya dariku. Bahkan warna duniaku, dan orang yang mencintaiku,''
...••••••••••••••♡••••••••••••...
Setelah selesai melihat pemandangan matahari terbenam, hari juga sudah mulai petang. Raka mengajak Rena untuk kembali pulang ke rumah.
Mereka kini sudah bersiap untuk melajukan motornya. Namun entah mengapa, tiba-tiba Rena seperti merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya. Entah hanya perasaan saja ataukah memang ini sebuah pertanda.
''Ada apa? Mengapa kamu melamun hemm?'' Raka melihat Rena yang berdiri diam seakan sedang memikirkan sesuatu.
''Tidak ada, hanya perasaanku saja seperti tidak enak,''
''Ya sudah, ayo kita cepat pulang biar lekas sampai rumah,'' ujar Raka.
Raka kemudian membantu Rena memakaikan helmnya ke kepala Rena, dan menyuruh Rena untuk berpegangan kepadanya dengan erat.
Raka pun mulai melajukan motornya menembus jalanan, meninggalkan pemandangan yang indah yang ia habiskan sesore tadi.
''Apakah kita akan mampir untuk membeli makanan dulu?''
Rena Mengingat bahwa makanan yang ia masak tadi sudah habis. Dan saat ia pulang nanti mungkin badannya sudah pegal-pegal dan kelelahan. Sudah pasti ia akan malas untuk melakukan kegiatan memasak.
''Baiklah, kita akan mampir untuk membeli makanan dulu nanti di tempat biasa,''
Namun siapa yang menyangka. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Padahal pada saat itu mereka masih di perjalanan yang jauh dari Perumahan para warga. Kanan dan kiri jalan dipenuhi dengan pohon-pohon besar karena mereka pas memasuki kawasan hutan.
Tentu saja mereka tidak bisa berhenti begitu saja di pinggir jalan. Sebab bukan hanya takut jika terjadi sesuatu yang membahayakan mereka, bisa juga ada hewan buas ataupun perampok dan begal yang manusia jahat lakukan.
Meskipun basah kehujanan, Raka tetap melajukan motornya. Sehingga hal yang tidak terduga terjadi kepada mereka. Karena hujan yang terlalu lebat pandangan juga kurang memadai. Sehingga Raka tidak melihat ada sebuah truk yang melintas dengan kencang dari arah yang berlawanan.
Raka tidak bisa mengendalikan motornya untuk menghindar karena waktu yang terlalu cepat. Dan pada akhirnya tabrakan pun tidak bisa terhindarkan. Tubuh mereka berdua terpental hingga terseret beberapa meter jauhnya dari motor mereka. Seketika itu Rena pingsan dengan beberapa pecahan kaca yang melukai tubuhnya.
Raka masih bisa menahan kesadarannya dan meminta tolong kepada siapapun yang melintas di jalanan itu. Untungnya Pak sopir truk masih bisa berjalan dan tidak terlalu parah lukanya. Pak sopir truk itu kemudian menelpon untuk meminta bantuan.
__ADS_1
Setelah itu tak lama kemudian beberapa orang juga melintas di jalanan itu dan membantu mereka. Mreka segera membantu Raka dan Rena untuk menyingkir dulu dari jalanan takut ada kendaraan lain lagi yang melintas.
Lalu beberapa saat kemudian ambulans juga sudah tiba dan mereka pun dibawa ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.
Setelah sampai di rumah sakit, ternyata luka yang dialami Raka sangatlah parah sekali. Padahal Ia tadi masih bisa mempertahankan kesadarannya. Tulang rusuknya ada yang beberapa patah bahkan ada yang sedikit menusuk jantungnya.
Sehingga kini Raka dalam keadaan koma dan harus segera melakukan operasi.
Di sisi lain Bu Rossa masih melakukan fisioterapi ditemani oleh Bryan.
''Iya Mah, sedikit lagi ayo!'' ucap Bryan yang memberikan semangat kepada mamanya.
Namun tak lama kemudian ponsel yang ada di saku Bryan berdering.
''Halo?''
''Iya saya sendiri,''
''Apa!''
''Ada apa Bryan?''
Bu Rossa terlihat cemas dan khawatir setelah melihat ekspresi putranya yang tiba-tiba diam meneteskan air mata.
''Raka mah,'' Bryan tidak sanggup menyampaikan keadaan Raka kepada mamanya.
''Ada apa dengan adikmu nak?''
Bu Rossa kini menghentikan langkahnya dan terlihat ikut cemas setelah Bryan mengucapkan nama putra bungsunya itu.
''Raka mengalami kecelakaan bersama Rena mah,''
''Apa? Bagaimana bisa? Kapan terjadinya?''
__ADS_1
''Ayo Mah, sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit. Raka saat ini sedang kritis dan ia harus melakukan operasi secepatnya,''
Bu Rosa menjatuhkan tongkatnya satu tangannya menutup mulutnya. Air matanya berderai membasahi pipinya. Dokter pun membantu Bu Rossa untuk bergegas menaiki mobil bahkan tanpa berganti baju terlebih dahulu.
Bryan segera mengambil jaket dan dompetnya. Mereka pun segera bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Raka dan Rena.
Setelah sampai di rumah sakit....
''Bagaimana keadaan Putra saya dok bagaimana keadaannya?''
''Tenang mama, tunggu dokter menjelaskannya dulu,'' Bryan berusaha menenangkan mamanya tapi bagaimanapun bu Rossa seseorang ibu yang saat ini mencemaskan putranya yang belum tahu bagaimana keadaannya saat ini.
''Maafkan saya Bu, sepertinya keadaan dokter Raka sangat parah. Mungkin kami akan kesulitan untuk menyelamatkannya.''
Badan bu Rossa luruh ke lantai. Bak petir di siang bolong dunianya serasa hancur seketika.
Bagaimana bisa ini terjadi kepada Putra bungsunya? Bukankah kemarin Raka baik-baik saja. Bagaimana bisa Ia seperti ini?
''Mah, tenanglah mah,'' Bryan memapah mamanya untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan tempat Raka saat ini si rawat.
''Dokter, cepat lakukan operasi. Saya tidak mau tahu berapapun biayanya pasti akan saya bayar. Tolong selamatkan adik saya dok,'' mohon Bryan sambil mengatupkan kedua tangannya.
Dokter mengegelengkan kepalanya.
''Kami akan berusaha semaksimal mungkin,'' dokter pun segera melakukan tindakan operasi meskipun mereka sudah tahu bahwa operasi ini juga belum tentu bisa menyelamatkan nyawa Raka. Sebab kondisi Raka sudah sangat fatal, apalagi benturan di kepalanya sudah memecahkan tengkorak kepala yang menutupi bagian otaknya.
''Rena? Bagaimana dengan kondisi Rina?'' Bu Rossa tiba-tiba teringat dengan Rena. Bukankah tadi katanya Raka mengalami kecelakaan bersama Rena.
Bryan pun segera sadar dan menanyakan keberadaan Rena. Rena juga mengalami kecelakaan yang sangat parah kedua matanya terkena pecahan kaca yang ada di depan truk yang menabrak mereka. Sehingga kedua mata Rena saat ini bisa dipastikan mengalami kerusakan parah dan akan mengakibatkan kebutaan.
''Ya Allah ya Tuhanku, kesalahan apa yang sudah saya perbuat? Sehingga engkau menghukumku seperti ini,'' tangis bu Rossa. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Bryan sendiri juga ikut menangis. Belum sempat ia membahagiakan perempuan itu, belum sempat ia menebus kesalahannya, kini perempuan yang niatnya akan ia nikahi malah mengalami hal seburuk ini. Bryan segera berlari ke ruangan dimana Rena saat ini sedang melakukan operasi.
__ADS_1
Ia terlihat cemas dan mondar-mandir di depan ruangan tempat Rena sedang di operasi. Sedangkan Bu Rossa, Bu Rossa saat ini masih menangis di depan ruangan tempat Raka yang juga sedang melakukan operasi.