Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Melemah


__ADS_3

...Rumah yang paling mewah yang pernah ku tinggali adalah perut ibuku. Kendaraan yang paling mahal yang pernah kunaiki adalah bahu ayahku. Dalam setiap doa, bukan kekayaan untuk diri sendiri yang ku minta, tapi melainkan kesehatan dan umur panjang untuk orang tuaku,''...


...•••••••••••♡••••••••••••...


''Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Aku pasti bisa menyelamatkanmu,''


Gadis itu terlihat sedang merogoh ponsel yang ada di saku bajunya dan terlihat seperti sedang menghubungi seseorang. Setelah itu, gadis itu pun pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.


..............


'' Hari berlalu, tanpa terasa semakin bertambah waktu kondisi Raka semakin mengkhawatirkan. Yang sebelumnya masih bisa bercerita, mengobrol bersama, tertawa, kini sudah mulai melemah. Bahkan untuk mengangkat senyumnya saja Raka merasa sangat kesulitan.


Dengan kondisi seperti itu membuat Bu Rossa semakin sedih. Ia teringat akan permintaan Sang putra beberapa waktu yang lalu.


Flashback on


''Ma, Raka sudah memikirkannya dengan mata-matang. Raka akan mendonorkan kedua mata Raka untuk Rena.'' Ucap Raka dengan suara lemahnya.


''Raka, jangan berkata seperti itu sayang. Mama dan kakakmu, kami masih berusaha agar bisa membuat kamu segera pulih kembali,'' Bu Rossa meneteskan air matanya mendengar perkataan sang putra.


''Mah, Raka paling tahu bagaimana kondisi Raka saat ini. Raka tidak ingin membuat Mama selalu khawatir dan sedih setiap harinya. Raka sudah pasrah dengan takdir yang sudah Tuhan tentukan untuk Raka ma. Raka percaya, ini pasti sudah jalan yang terbaik untuk Raka.''


Bu Rossa menggenggam erat tangan Raka. Sesekali ia menciumnya dan menangis di atas genggaman tangan putranya itu.


''Mama, maafkan Raka. Raka sudah tidak bisa menjaga Mama lagi. Raka tidak bisa menepati janji Raka yang ingin menemani mama sampai mama tua nanti,'' lirihnya dengan menahan sesak di dada yang kian menderanya.


Bu Rossa menggelengkan kepalanya.


''Tidak Nak, kamu adalah anak yang baik. Anak yang berbakti. Jangan berkata seperti itu,''


''Mama, tolong jangan katakan hal ini kepada Kak Bryan ya. Jika Kakak mengetahuinya, pasti Kakak akan menentang keras rencana Raka,''


Bu Rossa menganggukkan kepalanya. Jauh sebelum anaknya berkata demikian bahkan saat Raka masih koma dan dokter berkata bahwa Raka tidak memiliki harapan untuk hidup lebih panjang lagi, Bu Rossa juga sudah memikirkan dengan masak-masak jika kelak hal yang buruk itu terjadi ia ingin mendonorkan kedua mata putranya untuk Rena.


Tapi niat itu ia segera urungkan saat Bryan berkata bahwa ia yakin kalau adiknya itu pasti akan sembuh. Namun yang ada saat ini kondisi Raka semakin parah dan melemah. Terlebih lagi Raka malah meminta sendiri kalau iya akan menjadi pendonor mata Untuk Rena.

__ADS_1


flashback off


''Dokter, cepat segera periksa adikku. Jantungnya berdetak lemah,'' teriak Bryan saat seorang dokter sudah tiba di ruangan adiknya itu.


Dokter segera mengambil peralatan dan memeriksa keadaan Raka. Suster meminta Bu Rossa dan Bryan untuk meninggalkan ruangan.


''Tapi di dalam itu adik saya sus,'' teriak Bryan.


''Sudahlah Bryan, tunggu saja di luar. Tolong jangan membuat dokter dan suster kesulitan,'' Mamanya merangkul pundak Bryan agar tenang dan mendudukkannya di kursi.


Bryan menangis sesenggukan di pelukan sang Mama. Ia sungguh tidak ingin hal buruk terjadi kepada adiknya.


''Mah, Raka pasti akan baik-baik saja kan Mah,''


Bu Rossa mengelus puncak kepala Bryan dan menganggukkan kepalanya.


''Maafkan Mama Bryan, maafkan mama dan adikmu. Jika nanti kami membuatmu kecewa,'' batin Bu Rossa.


Dokter masih berusaha keras agar keadaan Raka kembali stabil lagi. Hingga tak berapa lama, dokter yang tadi menangani Raka keluar.


Dokter menghela nafasnya dengan berat.


''Kondisi dokter Raka sudah stabil kembali. Tapi kita tidak tahu sampai kapan kondisinya akan seperti ini terus. Jika kami boleh memberi saran.....'' Namun ucapan sang dokter langsung Bryan potong.


''Tidak dok, kami tahu Raka pasti akan baik-baik saja dok. Tolong jangan berkata hal seperti itu lagi. Saya akan berusaha keras bahkan kalau perlu saya akan mencari dokter yang terbaik untuk adik saya,''


Dokter menggelengkan kepalanya lalu perlahan pamit undur diri meninggalkan bu Rossa dan Bryan.


Bu Rossa mendekati putranya lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang kini sudah membasahi pipi Bryan.


''Tenanglah nak, kamu harus belajar sabar dan belajar menerima keadaan ini. Kamu jangan mempersulit Raka lagi. Mama bener-bener tidak.....'' bu Rossa tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi karena ia langsung terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.


Bryan yang melihat itu pun terkejut dan panik.


''Mama!'' teriaknya. Dokter dan suster yang kebetulan belum terlalu jauh perginya, langsung berbalik dan kembali lagi memasuki ruangan tersebut setelah mendengar teriakan Bryan.

__ADS_1


Suster segera membawa bu Rossa ke ruangan lain yang tak jauh dari tempat Raka dirawat.


''Sepertinya Bu Rossa sangat kelelahan. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk menerima tekanan yang banyak. Saya harap Tuan Bryan memikirkan hal ini,'' ucap dokter.


''Baik dok, terima kasih.''


Dokter pun pamit meninggalkan Bryan yang saat ini lebih memilih duduk di samping sang mama.


Bryan melihat ke arah tangannya yang terdapat sebuah jam hadiah ulang tahun dari Raka dua tahun yang lalu.


''Hah jam 02.00! Ya Tuhan, aku lupa Rena belum makan,'' ucapnya terkejut saat melihat waktu yang kini sudah menunjukkan pukul 02.00 siang.


Bryan segera berlari pergi ke ruangan Rena.


Tapi setelah sampai di sana, ia melihat Rena sedang tidur dan di samping nakas terdapat sebuah nampan yang berisi dua piring serta satu mangkok yang kelihatannya sudah tandas.


''Sepertinya Ia baru selesai makan,'' batin Bryan.


''Eh, Tuan bra.....''


Bryan menaruh dari telunjuknya di bibir memberi isyarat kepada suster yang akan mengambil nampan tersebut, agar tidak bersuara.


Suster pun mengerti dan mengangguk. Bryan pun perlahan keluar dari kamar tempat Rena dirawat.


''Bagaimana keadaan sekarang sus?''


''Mbak Rena keadaannya sudah mulai membaik. Tapi rasa sakit di kepala dan di mata semakin sering terjadi. Dokter mengatakan mbak Rena harus segera mendapatkan donor mata. Karena jika sampai terlambat.....'' Suster itu menggelengkan kepalanya.


''Baik saya mengerti. Saya akan segera mencari donor mata untuk Rena. Meskipun harus ke belahan dunia sekalipun,'' ucapnya memantapkan diri.


Bryan berpesan kepada suster untuk berapa hari, ia mungkin tidak bisa menemani Rena dulu. Oleh sebab itu Bryan menitipkan Rena kepada suster tersebut. Ia akan pergi ke suatu tempat sekalian ia akan menemui temannya yang kemarin menghubunginya.


Katanya ada seorang pendonor yang siap memberikan matanya untuk Rena.


''Baik, nanti jika ada apa-apa kami akan segera menghubungi Tuan,'' ucap suster tersebut. Bryan pun pamit undur diri dan meninggalkan ruangan Rena.

__ADS_1


__ADS_2