
Ketika doa yang kita minta bukan lagi tentang bahagia, melainkan minta di luaskan kesabarannya seluas lautan samudra dan seisinya. Agar kuat melalui ujian hidup dan pelajarannya,''
...••••••••••••••>♡<•••••••••••...
Selain terkena hipotermia, bu Rossa kini divonis terkena serangan stroke. Bahkan bu Rossa hanya bisa diam terbaring di ranjang tanpa bisa merespon sepatah katapun.
Bryan dengan telaten merawat mamanya. Ia juga tidak berani menghubungi Raka adiknya. Apalagi masalah kemaren belum kelar. Di tambah mamanya kini sakit karena. Bryan saat ini benar-benar merutuki kebodohannya. Dalam sekejap ia sudah membuat banyak orang menderita karena ulahnya.
''Makan dulu ya ma,''
Bryan menyandarkan tubuh mamanya di dipan. Perlahan menyuapi mamanya dengan bubur yang sudah ia masak tadi dengan susah payah. Selama ini Bryan belum pernah memasak. Jadi ia tidak tahu cara memasak.
Berbeda dengan Raka. Sejak kecil Raka suka melakukan hal-hal baru yang menurtnya menarik. Memasak, membersihkan rumah, menjahit bahkan bermain musik. Bryan sendiri sejak kecil lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar dan menekuni hobinya di seni peran dan musik. Jadi ia tidak tertarik dengan hal-hal di luar itu.
Sudah seminggu ini Bryan mengurus mamanya sendiri. Tentu saja ia harus belajar memasak dan hal-hal lainnya. Ia bahkan meniru setiap gerakan memasak yang di contohkan di media sosial yang ia tonton.
Setelah selesai menyuapi mamanya, Bryan kemudian membereskan tempat makan dan juga mencucinya. Ia sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan dan akan fokus mengurus, dan menjaga mamanya.
Meskipun Ia mendapatkan peringatan dan juga harus membayar denda yang jumlahnya tidak kecil. Namun ini sudah menjadi keputusan Bryan.
''Bryan, Apakah kamu yakin akan berhenti? Kami bisa mengirimkan seorang perawat untuk mengurus dan menjaga mamamu. Jika kamu berhenti seperti ini, nanti banyak fans yang kecewa kepadamu,'' manager Bryan masih berusaha membujuk Bryan agar mengurungkan niatnya.
''Maafkan aku mbak Andi. Tapi ini sudah menjadi keputusan ku. Aku ingin mengurus sendiri mengurus dan menjaganya mamaku sampai mamaku pulih kembali. Ini semua karena diriku, karena ulahku mama bisa sakit seperti ini. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku,'' Bryan menundukkan kepalanya menyesali atas perbuatannya itu.
Andina larasati adalah manager Bryan sejak ia pertama masuk di perusahaan yang menaunginya. Andi sangat baik kepada Bryan. Bahkan sudah menganggap Bryan seperti adiknya sendiri. Karena nasib mereka tak jauh beda. Ditinggal ayahnya selingkuh dan pergi demi bersama wanita lain.
''Ya sudah, mbak cuman bisa memberikan support dan dukungan untukmu. Kalau soal denda, kamu tenang saja. Perusahaan sudah membayarnya lunas. Jadi kamu untuk sementara ini fokus dulu merawat mamamu. Jika nanti kamu ingin kembali ke dunia hiburan, perusahaan kami akan terbuka lebar untukmu,''
__ADS_1
''Baiklah Mbak, itu pasti. Aku akan menghubungi mbak Andi jika nanti ingin kembali. Karena mbak Andi adalah manager terbaik yang pernah aku kenal.''
''Oke baiklah. Kalau begitu mbak pamit dulu ya. Ingat, kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa hubungi mbak. Mbak akan bantu kamu sebisanya. Untuk hari ini mbak harus cepat pulang, masih banyak pekerjaan yang harus Mbak lakukan. Terakhir kali mbak mendapatkan artis baru yang sangat sulit ditangani,''
''Oh, benarkah? Apakah Floren yang katanya pindahan dari Amerika itu?'' Bryan ingat sebelum ia memutuskan untuk keluar agensinya, Ia sempat mendengar desas-desus kedatangan artis pendatang baru yang baru pindah dari luar negeri.
''Ya, kau benar. Florentina, Ya Tuhan menyebalkan sekali sikapnya itu. Artis pendatang baru tapi sok banget. Sombong dan angkuhnya itu loh melebihi artis lama. Minta ini minta itu harus cepat dilayani.''
''Lalu, apakah perusahaan tidak menegurnya Mbak?''
''Sudah, tapi ya tetap seperti itu. Apalagi sama bawahannya, semena-mena. Mungkin karena ia keponakan direktur kali. Makanya itu Bryan, Mbak itu masih memberatkan dirimu, Mbak masih menyayangkan kalau kamu beneran keluar dari dunia entertainment,''
Bryan tersenyum mendengarkan perkataan Andi. Ia mengantarkan kepergian Mbak Andi managernya yang sudah membantunya selama ini.
................
Di sisi lain Raka mendapat panggilan penting dari pihak rumah sakit tempat ia bekerja. Mungkin mereka akan membahas tentang cuti Raka yang tak kunjung usai. Sebab banyak pasien yang menunggu dirinya meskipun ada banyak dokter penggantinya.
''Apa aku mengajaknya saja,'' Raka berpikir nanti saat ia rapat, ia bisa meminta tolong kepada Niko untuk menjaga Rena sementara.
''Kita mau pergi kemana?''
Rena terlihat bingung saat tiba-tiba Raka memintanya untuk berganti pakaian dan di dandaninya.
''Aku ada rapat penting di rumah sakit. Nanti kamu ikut ya. Kamu bisa menungguku di ruanganku. Nanti biar Niko sahabatku yang akan menjagamu,'' Raka menjawab sambil tangannya masih sibuk menyisir rambut Rena.
''Aku tidak apa-apa di rumah saja. Mas Raka masih banyak kesibukan. Jangan terus menjaga Rena mas. Rena tidak apa-apa kok. Nanti Rena akan menunggu mas Raka pulang saja,''
__ADS_1
Raka berpikir apa lebih baik Rena di rumah saja. Tapi di sisi lain, ia takut jika Rena kambuh lagi dan akan melakukan hal yang tidak terduga.
''Tidak apa-apa ikut. Rapatnya mungkin nggak terlalu lama juga. Nanti setelah selesai rapat, aku akan membawamu jalan-jalan,''
''Mas Raka, aku sungguh......''
''Sudah jangan berdebat lagi. Ayo,''
Raka menarik tangan Rena dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Mobil mereka pun melaju dan melesat di jalanan hingga kini sudah terparkir cantik di parkiran khusus dokter yang ada di rumah sakit.
''Wah Raka, akhirnya kamu datang juga. Sudah seminggu kita tidak bertemu. Aku rindu sekali padamu,'' Niko langsung menghambur ke pelukan Raka.
Raka mendorong jidat Niko dengan telunjuknya agar sedikit menjauh darinya. Tapi genggamannya tidak ia lepaskan dari tangan Rena.
''Wah siapa ini? Eh, bukankah ini mbak yang dulu pernah ke sini itu ya?'' Niko ingat dulu Rena pernah datang bersama mamanya Raka.
''Ya, itu dia.''
''Kenapa kamu membawanya Raka? Ini rapat besar di rumah sakit. Apa direktur akan mengizinkan dirimu membawa gadis ini?''
Niko memberi peringatan kepada Raka, sebab selain itu ada Jenny yang notabenya putri dari direktur rumah sakit yang saat ini sangat menyukai Raka. Apa jadinya jika Jenny melihat Raka membawa gadis lain.
''Rena akan menunggu di ruanganku. Kamu tolong jaga Rena baik-baik.''
''Baiklah, aku akan menjaganya deh. Rena, Rena ya namamu?''
''Ya,'' Rena tersenyuman menjawab pertanyaan Niko.
__ADS_1
''Wah, Senyumnya manis sekali. Tidak heran dia bisa membuatmu siang malam seperti orang gila,''
Niko mengingat bagaimana Raka seperti orang gila mencari keberadaan Rena yang saat saat itu menghilang dari rumah mamanya. Saat itu Niko ditelepon hampir ribuan kali oleh Raka, agar ia membantu mencari keberadaan Rena.