
...**Ya Tuhan**...
...**R***asanya sakit dan begitu sesak terasa. Langkahku kian berat*...
...Hatiku teramat kecewa...
...Keluhku tak memperbaiki keadaan...
...Air mata pun tak mampu menjadi pelipur lara...
...Ya Tuhan...
...Sebenarnya hadiah apa yang sedang engkau persiapkan?...
...Badai yang menerjangku begitu kuat terasa Ribuan jarum seakan menusuk setiap denyut nadiku ...
...Bolehkah aku meminta sedikit bahagia diantara ribuan derita ini?...
...Rasanya hampir menyerah raga ini...
...Andai aku tak menuruti kata hati...
...Pasti sudah kubawa pergi dari dunia raga ini...
...•••••••••••••••♡••••••••••••••••••...
Flashback on
Raka tiba dengan terburu-buru. Sebab rapat yang akan di adakan seharusnya sudah mulai sepuluh menit yang lalu. Namun karena ia mengantarkan Rena ke ruangannya dulu, makannya ia sedikit telat datangnya.
''Permisi,'' Raka menundukkan kepalanya meminta maaf kepada para dewan dan rekan kerjanya atas keterlambatannya.
''Raka,'' Jenny terlihat sangat bahagia melihat kedatangan Raka. Ia pun langsung menghambur dan bergelayut manja di lengan Raka.
Para tetua yang hadir termasuk papanya Jenny pun ikut tersenyum atas hubungan mereka bedua.
''Wah mereka memang pasangan yang serasi. Dokter bedah terbaik di rumah sakit ini dengan dokter berbakat kita Jenny putri kamu kak,'' ucap Dokter Salim paman Jenny yang juga berpropesi sebagai seorang dokter.
Raka yang merasa risih, ia pun segera melepas pegangan tangan Jenny.
''Rakaaa......'' Jenny merengek karena genggamannya di lepaskan oleh Raka.
''Jenny.... Duduk!'' Tuan Mario selaku direktur sekaligus papanya Jenny meminta putrinya untuk segera duduk bersama rekan-rekan lainnya.
''Baiklah, mari kita mulai rapatnya.''
__ADS_1
Dan mereka pun mulai membahas hal-hal serius. Seperti penyakit pasien yang langka dan apa-apa saja yang harus dilakukan agar memajukan kesejahteraan rumah sakit.
Setelah acara rapat selesai beberapa orang mulai meninggalkan ruangan tersebut. Raka juga ingin segera pergi untuk menemui Rena. Namun saat langkahnya mulai keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terhenti ketika Tuan Mario memanggilnya.
''Raka, tunggu sebentar. Ada hal yang harus kita bicarakan. Paman menunggumu di ruangan paman,'' ucapnya yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Meski sedikit kesak, namun Raka segera mengikuti langkah atasannya itu.
Terlihat pembicaraan mereka mulai serius. Bahkan terlihat ada sedikit perdebatan di antara mereka.
Jenny yang hanya bisa mengintip dari balik kaca pembatas yang ada di ruangan papanya, mulai tidak sabar dan geram saat mendengar pembicaraan papa dan orang yang sangat ia cintai itu.
''Papa! Bisakah papa tidak ikut campur dalam urusanku?'' Jenny menerobos masuk dan berteriak kepada papanya.
''Jenny! Tidak bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Apakah ini yang mamamu ajarkan kepadamu?'' Tuan Mario mulai emosi melihat tingkah putrinya itu.
''Mama? Jangan sebut-sebut mamaku dengan lidah kotormu itu!''
Plaak!
Satu tamparan melayang di pipi mulus Jenny. Pengalaman yang pahit membuatnya sangat membenci papanya. Namun di hadapan umum hubungan mereka seperti tidak ada masalah dan selalu terlihat baik-baik saja.
Orang tua Jenny sudah berpisah sejak Jenny lulus SMA. Papanya yang terlalu sibuk dengan urusan rumah sakit, sering kali tidak memiliki waktu bersama keluarganya. Sedangkan mamanya yang seorang model internasional, tentu saja mempunyai jadwal yang padat sehingga waktu kebersamaan mereka pun makin sulit
''Pa!''
''Diam! Lebih baik sekarang kamu kemasi barang-barang kamu dan segera pergi ke bandara!''
''Papa! Aku sangat mencintai Raka. Kenapa papa sangat menentang hubungan kita?''
Brak.....
Tuan Mario menggebrak mejanya hingga kopi yang ada di meja tumpah berserakan.
''Jika dia mencintaimu, tentu aku tidak akan menentangnya.'' Ucapnya dengan wajah menahan emosi.
''Apa yang papa katakan? Aku dan Raka, kami saling mencintai,'' Jenny terus berusaha meyakinkan papanya.
''Cukup Jenny! Harus berapa kali aku katakan, aku tidak pernah mencintaimu, tolong jangan membuatku di posisi yang membuatku tidak bisa memilih,''
Raka tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut. Ia ingin segera menyelesaikannya agar ia bisa hidup tenang bersama dengan Rena.
''Raka......'' Air mata Jenny mulai tumpah membasahi kedua pipinya yang mulus itu. Hingga yang tersisa hanya isakan tangis yang tertahan-tahan.
''Raka, sebenarnya apa kurangnya diriku? Kita pun sudah saling mengenal sejak lama. Hubungan orang tua kita juga teman dekat. Lalu kenapa kamu tidak bisa mencintaiku dan menerima cintaku?''
__ADS_1
''Jenny cuku!'' Tuan Mario berusaha menghentikan putrinya agar tidak bersikap seperti anak-anak.
''Diam! Kamu tidak berhak mengatur urusan percintaanku. Urus saja jalangmu itu!''
Plak....
Dua kali Jenny mendapat tamparan dari tangan papanya. Hingga kini bekas merah mulai terlukis di wajah cantiknya itu.
''Kau! Kau berani menamparku lagi!'' Jenny berteriak histeris dan menunjuk wajah papanya.
''Cukup Jenny! Raka sudah memiliki gadis yang ia cintai. Jadi lebih baik kamu mulai move on dan melepaskan cintamu itu.''
Jenny mengerutkan keningnya. Sebab selama ini yang ia tahu, Raka tidak pernah terlihat dekat dengan gadis lain selain dirinya. Namun tiba-tiba ia teringat dengan perkataan pamannya semalam yang bercerita tentang keluarga Raka.
''Apakah pembantu kampungan itu yang kamu maksud Raka?''
''Dia memiliki nama. Jadi jangan menyebutnya dengan sebutan pembantu kampungan lagi!'' Raka menekankan setiap kata-katanya.
''Hahahahhaha.....''
Tiba-tiba saja Jenny tertawa bak ketiban rezeki nomplok yang membuat Raka dan papanya bingung melihatnya.
''Raka... Raka. Kamu menolakku hanya karena gadi kampungan itu. Bahkan sampai membuat mamamu terkena serangan Struke dan kakakmu meninggalkan dunia intertaiment?''
Plok...plok...plok...plok
Jenny memberikan tepuk tangannya.
Raka sangat terkejut saat mendengar ucapan Jenny yang mengatakan kalau mamanya sakit struke? Kalau soal Bryan, ia sudah tidak peduli lagi.
''Melihat ekpresimu, sepertinya kamu belum mengetahui semua itu?''
Raka segera meninggalkan ruangan tersebut dan berusaha menghubungi mamanya. Namun tidak ada hasil walau ia sudah melakukan panggilan ratusan kali. Bahkan pesan-pesannya tak satupun mendapatkan balasan.
''Sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mama bisa sakit tapi tidak ada yang datang memberitahuku?'' Raka menendang pijakan tangga melampiaskan setiap emosi yang ia pendam.
Raka ingin menghubungi Bryan untuk menanyakan kondisi mamanya, namun ia segera mengurungkan niatnya.
Raka berlari lagi menuju ruangannya. Hari ini ia akan mengajak Rena pulang dulu untuk menemui mamanya.
Namun hatinya langsung bergetar saat melihat Rena berjongkok di lantai dan menangis histeris. Ia pun segera berlari untuk menenangkan Rena.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Rena bisa menangis seperti itu?'' tanya Raka menatap tajam ke arah Niko. Niko yang ditatap demikian ia pun menelan ludanya dengan kasar.
Flashback Off
__ADS_1