Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Rena


__ADS_3

...''Luka fisik memang bisa terlihat. Namun di hari berikutnya luka fisik itu mungkin akan mengering lalu sembuh. Tapi luka di hati, meskipun tak terlihat oleh mata namun rasa sakitnya bisa membuat seseorang terus merasakannya meski sudah bertahun-tahun lamanya.''...


...•••••••••••••♡••••••••...


Bryan perlahan melangkah maju mendekati Rena. Namun semakin Bryan menambah langkahnya, semakin bertambah gelisah hati Rena.


Keringat dingin mulai membasahi dahi Rena. Kedua tangannya semakin mengepal erat, sampai-sampai kuku-kukunya melukai telapak tangannya.


Bryan menjadi tidak tega melihat ekpresi Rena. Mamanya memang memaksa agar ia membulatkan keberaniannya agar cepat berbicara dengan Rena. Namun melihat keadaan Rena secara dekat seperti ini semakin membuat hati Bryan sakit dan sedih.


Begitu dalam luka yang ia torehkan. Menciptakan truma yang mendalam bagi perempuan yang saat ini berdiri di hadapannya itu.


Bryan mengangkat kedua tangannya.


''Tenanglah Ren, aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji, ah tidak. Aku bersumpah demi Tuhan aku tidak akan pernah menyakitimu lagi ataupun berbuat hal di luar batas lagi. Tenang ya,'' Bryan berusaha menenangkan psikis Rena.


Namun bukannya tenang, saat melihat Bryan mengangkat kedua tangannya malah membuat Rena berteriak ketakutan.


''Aaaaaak!'' Rena langsung berjongkok menyembunyikan kepalanya dibalik lipatan tangannya.


Raka yang tadinya sudah melangkah lumayan agak jauh sambil mendorong kursi roda milik mamanya. Mendengar suara teriakan Rena langsung membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Rena. Raka langsung berlari menghampiri Rena.


"Tenang... tenang...." Raka membawa Rena ke dalam pelukannya. perlahan mengusap pundak dan berusaha menenangkan Rena.


Bryan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia pun memutuskan untuk pergi menghampiri mamanya dan membawanya pulang.


POV Rena


Hari ini Mas Raka membawaku untuk menemaninya mengantarkan mamanya melakukan fisioterapi. Aku sangat bahagia, kata Mas Raka kondisi bu Rossa sudah mulai membaik.

__ADS_1


Perasaan bersalah mulai menyelimuti relung hatiku. Jika bukan karena aku, mungkin Bu Rosa saat ini masih sehat dan baik-baik saja.


Beberapa waktu yang lalu mas Raka mengajakku berbicara agar aku mulai bangkit lagi dan berusaha memaafkan masa lalu. Aku tahu maksud Mas Raka, yaitu memaafkan kakaknya. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Jika mengingat malam itu, benar-benar membuatku semakin takut dan mengingatkanku betapa hancurnya hidupku. Air mataku pun perlahan kini sudah membasahi pipiku. Aku teringat dengan ibuku di kampung. Aku rindu dengan keluargaku. Aku ingin pulang dan memeluk mereka.


Beberapa bulan ini aku hanya bisa menelpon atau melakukan panggilan video call saja. Tapi semua itu tidak bisa mengobati rasa rinduku kepada keluargaku. Aku juga tahu mas Raka masih sering mengirimi uang kepada keluargaku sebagai bentuk gajiku seperti dulu saat aku masih bekerja di rumah bu Rossa.


Tapi aku juga tidak enak jika seperti ini terus. Masalahnya aku sudah tidak bekerja di rumahku bu Rossa. Dan saat ini aku hanya menjadi pengangguran dan menumpang hidup di rumah mas Raka. pekerjaanku hanya makan tidur makan tidur dan jalan-jalan.


Mas Raka sangat baik dalam memperlakukanku. Aku tahu mas Raka sangat menyayangiku. Apalagi setelah ia mengatakan perasaannya kepadaku waktu itu. Tapi aku merasa diriku yang seperti ini benar-benar tidak pantas untuknya. Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mas Raka. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti hati mas Raka.


Setelah berpikir panjang aku memutuskan akan berusaha mencintai mas Raka. Aku akan berusaha membalas cinta mas Raka meskipun aku tahu seharusnya aku tidak melakukan ini.


"Kau sedang apa?"


Aku melihat mas Raka bersandar di pintu dan datang menyapa ku. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mas Raka.


Rasanya seperti sudah menjadi kebiasaan. Setiap aku selesai mandi dan duduk di depan meja rias, mas Raka selalu datang untuk menyisir rambutku. Rasanya memang sangat nyaman. Apalagi aku juga belum pernah merasakan hal seperti ini.


Dulu waktu bersama mantan Suamiku, aku belum pernah diperlakukan sebaik ini. Aku menoleh melihat ekspresinya wajahnya yang tampan itu. Wajah yang tenang dan damai itu selalu tersenyum setiap berada di sampingku. Hatiku semakin sakit memikirkannya.


"Ayo ikut aku mengantarkan Mama untuk melakukan fisioterapi," ucapnya sambil melihat ke arahku dengan senyuman yang tak lupa selalu Ia berikan kepadaku.


Aku pun mengangguk mengiyakan permintaan mas Raka. Lagi pula, aku juga ingin mengetahui keadaan bu Rossa saat ini.


Namun saat kami akan melangkah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba mas Raka memegang tanganku.


"Rena,"

__ADS_1


Hanya sepatah kata yaitu menyebut namaku dengan suara lembutnya, lalu membawaku ke dalam pelukannya.


Aroma ini aroma yang khas yang selalu bisa menenangkan pikiranku, yang selalu bisa membuatku nyaman dan seakan-akan ingin terlelap tidur di pelukannya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang Mamaku rencanakan. Tapi mungkin nanti kamu akan bertemu dengan kakakku,"


Saat mas Raka menyebut nama kakaknya, perasaan itu mulai timbul kembali. Rasa gelisah, rasa takut, rasa cemas seakan bercampur menjadi satu. Tanganku mulai berkeringat lagi. Aku memegang ujung bajuku dengan erat dan berusaha menenangkan hatiku.


"Jika nanti kakakku ingin berbicara denganmu, bisakah kamu mau berbicara dengannya? Sepertinya kakakku benar-benar menyesal dan ingin meminta maaf kepadamu. Mungkin masih banyak pembicaraan hal yang lainnya juga. Aku harap kamu bersedia ya, untuk bertemu dengan kakakku," Pintanya kepadaku.


Aku tidak tega menolak permintaan mas Raka. Apalagi selama ini Ia yang selalu menjaga dan merawatku dengan tulus. Aku tidak membenci mas Bryan, tapi aku membenci perbuatannya malam itu. Aku membenci Mas Bryen karena ia melampiaskan kegagalan cintanya kepadaku.


Ini bukan salahku. Bukankah tunangannya yang menghianatinya! Lalu mengapa ia menghancurkan hidupku. Aku pun perlahan mengangguk mengiyakan permintaan mas Raka.


"Baiklah, saat nanti kamu bertemu dengan kakakku, Kamu coba tenangkan emosimu ya, ingatlah! Aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu ada di sampingmu. Jangan khawatir jika dia berbuat hal yang di luar batas, langsung berteriak memanggil namaku. Aku akan langsung menghajarnya untukmu," ucap Mas Raka yang mencoba membujukku.


Aku pun tersenyum dan mengangguk perlahan.


Kami pun berangkat ke rumah sakit tempat Bu Rossa melakukan fisioterapi. Sesampainya di sana Aku melihat bu Rossa sendirian dan hanya berlatih menggerakkan badannya didampingi seorang dokter saja.


Mas Raka tersenyum ke arahku. Lalu perlahan meraih tanganku dan membawaku menghampiri mamanya.


"Mama!"


Fisioterapi selesai, kami pun berniat untuk mengantarkan Bu Rossa pulang. Namun tanpa diduga ternyata mas Bryan juga tiba di sana.


Sebelumnya bu Rossa sempat mengatakan kalau Mas Bryan sedang sibuk. Hatiku pun merasa tenang. Aku pikir pertemuan kami akan tertunda beberapa saat. Sampai saat Mas Bryan benar-benar berdiri di hadapanku. Aku sungguh tidak bisa mengontrol emosiku lagi.


Mas Raka dan Bu Rossa memintaku untuk berbicara dengan mas Bryan. Namun saat melihat ia semakin mendekat, semakin membuatku takut dan aku pun tidak tahu lagi apa yang terjadi.

__ADS_1


POV Rena selesai


__ADS_2