
''Mental seseorang itu berbeda-beda kita tidak bisa menyamaratakan satu orang dengan yang lainnya jadi kita harus menghargai setiap perbedaan masing-masing. kita tidak boleh memaksa agar orang lain memiliki mental yang sama seperti kita,''
...•••••••••••♡•••••••••••...
Raka melajukan mobilnya menuju ke kediaman sang mama setelah ia mendapat kabar jika mamanya sedang sakit parah. Di sepanjang perjalanan Raka terlihat gelisah. Berulang kali ia mencoba menghubungi ponsel mamanya. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
''Apakah aku harus menghubunginya?''
Raka membolak-balik pikirannya. Ia ingin segera tahu kondisi mamanya, namun ia enggan untuk menghubungi ponsel Bryan sang kakak.
Dan di sepanjang perjalanan, ia berulang kali menoleh ke arah Rena yang saat ini tertidur lelap di kursi sampingnya.
''Bagaimana ini? Jika aku membawa pulang Rena, aku takut Rena akan syok kembali,'' monolognya.
Hingga tanpa sadar kini mobilnya sudah berada di halaman rumah mamanya. Raka masih belum turun dari mobilnya. Kedua matanya masih mengamati keadaan sekitar.
Hingga ia memutuskan...
''Pergilah sembunyi sejauh mungkin. Aku sudah berada di halaman rumah. Jangan sampai Rena melihatmu. Jika kamu berani muncul, akan ku pastikan hubungan kita benar-benar akan berakhir,''
Sambungan telepon pun langsung ia putuskan seketika.
Raka perlahan mengusap puncak kepala Rena pelan-pelan untuk membangunkannya setelah ia melihat mobil milik Bryan meninggalkan garasi.
''Hoaaam.....''
Rena menggeliat setelah ia merasa tidurnya terusik oleh seseorang.
''Ada di mana kita?'' Tanyanya sambil melihat keadaan sekitar yang nampak tidak asing baginya.
Perlahan pandangannya mulai berkabut. Ada deraian air mata yang mulai membasahi ujung kelopak matanya.
''Tidak apa-apa, tenang ya.'' Raka berusaha menenangkan Rena di pelukannya.
Hal seperti inilah yang selalu ia takutkan. Namun ia harus melakukannya, mau tidak mau karena ia harus tahu bagaimana kondisi mamanya saat ini.
__ADS_1
''Ayo turun,'' Raka menggandeng tangan Rena.
Namun Rena seakan enggan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit dan kelam yang membuat hidupnya semakin hancur.
Rena semakin merasa gelisah. Air matanya kian deras membasahi pipinya. Raka benar-benar tidak sanggup melihatnya. Ia tidak tega melihat Rena seperti itu.
''Mamaku sedang sakit. Bisakah kita melihatnya sebentar? Pria itu tidak ada di rumah ini. Aku sudah mengusirnya jauh-jauh. Aku pastikan dia tidak akan mengganggumu atau menyakitimu lagi,''
Raka berusaha menenangkan Rena, dan akhirnya Rena mengangguk pelan dan mempercayai ucapan Raka. Raka tersenyum dan kembali menggandeng tangan Rena lalu membawanya naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar mamanya.
Raka melihat mamanya sedang tidur terlelap. Ia memanggil pelan mamanya. Tapi mamanya tidak merespon panggilannya. Hal itu membuat Raka semakin panik.
''Bu Rossa....'' Suara panggilan Rena membuat Raka seketika menoleh ke arahnya.
''Apakah mama mendengarnya? Rena memanggil mama.''
Entah keajaiban dari mana sehingga membuat kedua mata bu Rossa perlahan mulai terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada sesosok perempuan yang saat ini berdiri di sampingnya dengan deraian air mata. Tangannya perlahan mulai ia gerakan untuk meraih tangan perempuan itu.
''Re...na,'' ucapnya terbata-bata.
Rena memberanikan diri untuk mendekati Bu Rossa.
''Tenanglah Ma, jangan terlalu banyak pikiran dulu,'' Raka menggenggam tangan mamanya dan mengusap air mata yang kini mulai membasahi kedua mata bu Rossa.
Tiba-tiba Rena melepaskan genggaman tangan bu Rossa, saat mendengar nama Bryan di sebut oleh bu Rossa. Rena langsung berlari keluar dan masuk kembali ke dalam mobil. Raka berusaha mengejar Rena dan mengetok-ngetok pintu mobilnya.
Tok tok tok tok....
''Bukalah sebentar,''
Tok tok tok tok...
''Izinkan aku berbicara sebentar,'' ucapnya yang berusaha membujuk Rena. Rena perlahan menurunkan kaca mobilnya.
''Hai, tenanglah. Mama sedang sakit. Kan kita hanya datang untul menjenguknya saja. Setelah ini kita akan kembali pulang,''
__ADS_1
Rena menganggukkan kepalanya lalu perlahan keluar dari mobil dan mengikuti langkah Raka untuk masuk ke dalam kamar Bu Rossa kembali.
Tak jauh dari tempat mereka, ternyata Bryan masih mengamati adiknya dan juga perempuan yang sudah ia hancurkan hidupnya dari balik kaca pintu mobilnya.
Tadi saat ia baru akan menyuapi mamanya, ponselnya tiba-tiba berdering. Bryan langsung meraih ponsel tersebut dan melihat siapa sang pemanggil itu.
Saat nama sang adik yang tertera di layar ponselnya, betapa bahagianya ia. Ia berharap saat adiknya datang ia bisa langsung meminta maaf padanya dan meminta tolong agar di izinkan untuk menemui Rena yang saat ini bersama dengan Raka.
Namun keinginannya itu langsung buyar seketika saa Raka mengatakan...
''Pergilah sembunyi sejauh mungkin. Aku sudah berada di halaman rumah. Jangan sampai Rena melihatmu. Jika kamu berani muncul, akan ku pastikan hubungan kita benar-benar akan berakhir,''
Bryan ingin sekali turun dan menghampiri mereka. Bryan ingin meminta maaf langsung kepada Rena atas perbuatannya malam itu. Namun ia masih belum berani.
Bukan karena ia tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, namun ia sudah diwanti-wanti oleh Raka agar jangan menampakan dirinya dulu di hadapan Rena. Jika sampai ia melakukannya, Raka akan benar-benar memutuskan tali persaudaraan mereka.
Bryan sangat hafal bagaimana sifat adiknya. Maka dari itu ia pun mengurungkan niatnya dan tetap duduk tenang di dalam mobil sambil mengamati keadaan rumah.
''Aku akan berusaha lagi agar Raka mengizinkanku untuk menemui Rena,'' ucap Bryan menguatkan hatinya.
di dalam...
Rena duduk di kursi sandaran dekat tempat tidur bu Rossa sambil memainkan ponselnya.
Raka perlahan menyuapi bu Rossa, karena Bu Rossa belum makan siang.
''Satu kali lagi ma,'' Raka menandaskan piring yang kini tersisa sendok terakhir.
Bu Rossa menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia benar-benar sudah kenyang.
''Ayolah ma, setelah ini minum obat agar Mama cepat sembuh. Bukankah Mama ingin segera mengobrol dengan Rena?'' Bujuk Raka. Akhirnya Bu Rossa pun membuka kembali mulutnya dan menghabiskan sendok terakhir yang disuapkan oleh putranya itu.
Bu Rosa tersenyum memandang ke arah Rena yang saat ini tersenyum melihat ponselnya.
''Raka, bagaimana keadaan Rena sekarang?''
__ADS_1
''Keadaannya sudah mulai membaik ma, hanya saja.....,'' ia tidak bisa melanjutkan ucapannya dan hanya menggelengkan kepalanya.
Bu Rossa memahami apa yang saat ini putranya pikirkan. Ia juga tidak ingin memaksa Rena agar mau bertemu dengan Bryan.