
''Terkadang mengalah lebih baik, dari pada menimbulkan keributan yang tidak perlu. Bukan karena takut ataupun kalah, tapi karena memang lelah jika harus masih berdebat,''
...••••••••••♡•••••...
Bu Rossa dan Bryan segera menghampiri Raka. Air mata bu Rossa langsung tumpah seketika saat melihat putra bungsunya kini sudah sadar kembali.
Bu Rossa meraih salah satu tangan Raka. Kemudian menciumnya bolak-balik lalu mencium kening putranya itu.
''Adek...,''
Mendengar panggilan dari sang mama membuat Raka meneteskan air matanya. Panggilan yang selalu menghangatkan hatinya. Meskipun ia kurang senang dengan panggilan itu, tapi entah mengapa Raka sangat merindukan mamanya memanggilnya dengan panggilan itu.
Namun ia teringat sesuatu.....
''Mama, apakah Rena baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?"
Kalimat pertama yang Raka ucapkan setelah sadar ialah menanyakan keadaan Rena. Sebab Raka berpikir karena dia Rena mengalami kecelakaan bersamanya.
"Sayang, jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam dulu ya nak. Rena baik-baik saja. Tenanglah. Bryan cepat Panggil dokter, cepat suruh dokter segera memeriksa keadaan Raka! Bukankah ini kabar yang baik karena Raka sudah sadar," perintah bu Rossa kepada Bryan.
Bryan pun mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan untuk mencari keberadaan sang dokter.
"Mama, Apakah Rena benar-benar baik-baik saja?" Raka kembali mengulang pertanyaanya. Sebab jika dilihat dari keadaannya sendiri, sepertinya tidak mungkin jika Rena baik-baik saja.
"Iya dek, Rena baik-baik saja. Tenangkan pikiranmu ya. Jangan berpikir macam-macam dulu ya sayang. Kamu baru sadar, kamu belum boleh banyak bergerak ataupun banyak pikiran dulu,"
Raka tersenyum, tangannya perlahan akan meraih wajah sang Mama untuk diusap air matanya. Namun tangannya kembali jatuh, sebab ia belum kuat untuk mengangkat salah satu tangannya.
"Sayangku, pelan-pelan." Bu Rossa dengan sigap menangkap tangan Raka agar tidak terbentur dengan ranjang.
"Maafkan Raka ya ma. Karena Raka malah membuat mama sedih dan khawatir,"
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Bagi Mama, kamu sudah kembali sadar, cepat pulih dan sehat kembali itu adalah hal yang sangat berharga untuk mama,"
"Tapi mah, Raka sudah tidak kuat lagi....." lirihnya dengan pelan. Sehingga membuat bu Rossa kurang mendengarkannya.
"Kamu ngomong apa sayang?" Bu Rossa mendekatkan telinganya di sebelah Raka, namun tak lama kemudian dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Raka.
Setelah Dokter selesai memeriksa, dokter menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan putra saya dok? Dokter berkata kemarin kalau putra saya sudah sadar, keadaanya akan segera membaik. Iya kan dok?" Bu Rossa memegang salah satu lengan sang dokter. Ia benar-benar berharap bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
"Maafkan saya bu, tapi keadaan dokter Raka benar-benar....."
Dokter tidak mampu menjelaskannya lagi. Apa lagi saat melihat ekpresi Bu Rossa yang sangat mengharapkan kesembuhan untuk pasiennya itu.
Raka mengerti karena bagaimanapun Ia juga seorang dokter. Tentu ia sangat tahu dan bisa membaca dari ekspresi wajah sang dokter.
Raka tersenyum lalu perlahan meraih tangan sang mama.
"Mama, Raka baik-baik saja kok. Iya kan dok?"
Raka tersenyum ke arah mamanya dan memberi kode mata kepada sang dokter. Dokter pun mengerti. Iya pun kemudian dengan berat hati menganggukan kepalanya.
Menenangkan keluarga pasien agar bisa menerima kenyataan, sangatlah tidak mudah. Apalagi keadaan bu Rossa yang saat ini masih menderita struke yang belum pulih sempurna.
Dokter pun pamit undur diri dari ruangan tersebut. Namun sebelum pergi, dokter sempat menoleh ke arah dengan tatapan sendu dan di balas Raka dengan senyuman.
Bu Rossa menjatuhkan diri di tempat duduk sebelah ranjang Raka. Bu Rossa Rosa menundukkan kepalanya memegang erat tangan putranya itu.
Tangisnya pecah seketika. Ia menyadari bahwa keadaan putranya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi. Kini yang bisa ia lakukan saat ini adalah menghabiskan sisa waktu yang ada untuk menemani putranya itu dengan baik.
"Mama, kumohon jangan menangis lagi. Raka benar-benar sedih melihat Mama seperti ini,"
Bu Rosa menggelengkan kepalanya lalu perlahan mengusap air matanya.
Raka menggelengkan kepalanya.
"Tidak mah, Mama adalah mama terbaik yang Raka miliki di dunia ini. Mama adalah perempuan yang kuat dan tabah merawat dan menjaga kami meskipun sendirian tanpa seorang suami. Raka sangat bangga memiliki mama yang hebat di dunia ini,"
Raka akhirnya bisa meraih wajah sang mama, meskipun dengan susah payah. Ia pun perlahan mengusap air mata mamanya.
"Ma, Raka ingin berbicara dengan kak Bryan," pintanya lirih sambil menatap sang kakak yang saat ini berdiri membelakanginya.
Mendengar hal itu, Bryan membalikkan badannya. Matanya sudah memerah, dan meninggalkan jejak sang bulir.
Bu Rossa menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Raka.
Bryan mendekat dan berdiri di sebelah Raka.
''Duduklah. Kak, kenapa malah berdiri? Apakah kau tidak lelah? Bukankah sudah dari kemarin kakak terus menungguku berdiri seperti itu,'' ucap Raka.
Bryan mengusap kedua matanya yang kini mulai basah kembali.
__ADS_1
Ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi dekat sang adik. Ia menelan ludahnya dengan kasar menatap manik yang terlihat lemah dan sendu yang kini menatapnya.
''Kak, bisakah aku meminta tolong kepadamu?'' Raka memegang kedua tangan Bryan dengan erat.
''Katakan, apapun permintaanmu kakak pasti akan melakukannya.''
Raka tersenyum.
''Benarkah? Apakah kakak mau berjanji kepadaku?''
''Iya, kakak pasti akan berjanji bahkan Kakak akan bersumpah kalau perlu.''
''Baiklah kalau begitu Raka bisa memepercayai kakak sepenuhnya.''
Bryan semakin dibuat penasaran dengan ucapan sang adik. Sebelumnya ia sudah memikirkan matang-matang tentang sesuatu. Yaitu jika Raka memang ingin menikahi Rena, ia akan merelakannya. Dan akan tetap bertanggung jawab atas anak yang di kandung Rena.
''Bagaimana keadaan Rena yang sebenarnya?''
Deg.....
Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka, membuat Bryan seketika membisu. Ia bingung harus menjelaskannya dari mana. Jika ia mengatakan keadaan Rena yang sebenarnya, ia takut malah akan mempengaruhi keadaan Raka.
Apakah salah, jika ia egois demi adik kandungnya sendiri?
''Kakak, kumohon, katakan yang sebenarnya dengan jujur. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Rena. Karena saat itu......''
''Uhuk...uhuk...,''
''Raka....'' Bryan segera menenangkan Raka. Sepertinya ia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
''Keadaan Rena saat ini benar-benar baik-baik saja. Hanya saja.....''
''Hanya saja kenapa Kak? Kumohon katakan!''
Bryan memejamkan kedua matanya.
''Hanya saja Rena tidak bisa melihat lagi,''
''Apa! Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi Kak? Kumohon katakan,'' lirihnya.
Karena kecelakaan yang menimpa kalian, membuat kedua mata Rena terlukai oleh kaca truk yang menabrak kalian. Meskipun sudah melakukan operasi, tapi tetap saja sudah tidak bisa terselamatkan.''
__ADS_1
''Lalu, apakah tidak ada jalan lain agar Rena bisa melihat kembali?''
''Bisa, hanya perlu donor mata. Kamu tenang saja, Kakak akan berusaha mencari donor mata terbaik untuk Rena. Jadi kamu tidak perlu khawatir,'' ucap Bryan.