Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Ditinggal sendiri?


__ADS_3

Sebenarnya, kita tidak perlu memberitahu semua orang tentang diri kita. Dengan kata lain, kamu tidak perlu terus menerus menunjukkan kepada orang lain "Sebenarnya aku ini orang yang seperti apa," karena hal itu tidak akan berguna, karena mereka hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat ( berdasarkan pemikiran mereka sendiri )


...••••••••••••••••••♡••••••••••••••••...


Karena keadaan Raka, akhirnya bu Rossa memutuskan untuk menginap beberapa hari dengan Rena. Rena mendapat tugas untuk membersihkan rumah Raka selama mereka masih tinggal di sana.


Ternyata selama ini Raka tidak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga. Pada saat libur, Raka baru menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumahnya.


''Astaga Raka, mama pikir selama ini kamu ada mbak buat bersih-bersih rumah. Kata kakakmu kamu ada dua mbak yang jaga rumahmu. Tapi ternyata apa ini? Satupun saja gak ada,'' ucap Bu Rossa sambil menyuapi Raka bubur.


''Mah, apa mama tidak lelah. Dari kemaren mengomel terus. Raka sakit saja masih tetap kena omel,''


''Memang pantas di omeli kamu ini kok. Mana yang katanya ada dua mbak ha?''


''Mereka... mereka sedang cuti mama,''


''Alasan saja. Pantas saja kamu pernah bilang mau bawa Rena ke sini,''


''Hehehe iya deh iya Raka ngaku salah ma. Raka memang tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Mama tahu sendiri kan Raka kurang suka kalau di rumah banyak orang,''


''Tapi kok kamu di rumah mama fun saja. Padahal ramai juga kan?''


''Bukan begitu ma....''


Ting.....


Obrolan mereka terhenti saat sebuah pesan masuk ke ponsel bu Rossa. Bu Rossa tampak serius membaca pesan tersebut. Ia sampai mengerutkan keningnya.


''Ada apa ma?''


''Kakak_mu mabuk dan sekarang ada di rumah.''


''Di rumah mama?''


''Iya. Katanya tadi malam ada teman-temannya yang mengantarkannya. Mama benar-benar ingin marah pada kakakmu Raka. Kenapa harus mabuk-mabukan cuma gara-gara perempuan itu!''


''Tenang mama. Mama harus jaga kesahatan mama. Jangan sampai karena masalah ini jadi mempengaruhi kesehatan mama,''


''Kamu sudah melihat kan vidio dan foto-foto itu? Apa kakakmu benar-benar buta sampai-sampai masih bersedia membelanya. Kesal mama. Ingin sekali mama memukul kakakmu itu,''

__ADS_1


''Lalu bagaimana kondisi Bryan sekarang ma?''


''Entahlah. Mama juga tidak tahu dan tidak mau tahu!''


''Mah...''


Bu Rossa tampak jelas sekali rasa kecewa terhadap putra sulungnya itu. Dan tanpa mereka sadari sejak tadi Rena sudah mendengar semuanya. Karena kebetulan Rena sedang mengelap jendala yang ada di kamar Raka.


''Ren!''


''Iya bu?''


Rena kemudian masuk kedalam kamar lewat dari jendela karena ia malas untuk memutar jika harus lewat pintu.


''Astaga Ren, tidak bisakah kamu lewat pintu? Bahaya tahu kalau lewat jendela. Bagaimana jika nanti jatuh,''


''Hehehe kan hati-hati bu,''


''Haiis kamu ini,''


Kamar Raka terletak di lantai dua, otomatis jendelanya berada di atas. Bahkan dari depan jendela, Raka sengaja tidak memakai balkon. Maka dari itu Bu Rossa terkejut saat Rena masuk lewat jendela karena jendela itu berada di ketinggian.


''Gini Ren, Putraku yang pertama ingat kan Bryan? Nah dia sedang ada masalah saat ini. Dan dia sedang ada di rumah. Jadi, ibu harus pulang dulu untuk melihat Putraku itu.''


''Mau pulang dulu ya Bu? Kalau begitu Rena beres-beres barang-barangnya dulu....'' Ucap Rena yang akan berlari keluar. Namun langkahnya langsung terhenti saat Bu Rossa langsung menggenggam salah satu tangannya.


''Eh tunggu dulu. Tunggu dulu Rena. Dengerin Ibu dulu toh kalau ngomong, dengerin sampai selesai.''


''Iya Bu,''


''Raka kan belum sembuh, jadi untuk sementara Kamu tinggal di sini dulu. Biar Ibu pulang sendiri dulu,''


''Lah kok?''


''Tenang saja Ren, nanti kalau masalah Bryan sudah selesai, nanti Ibu nyusul kamu lagi ke sini buat jemput kamu.''


''Enggak apa-apa kan mbak? Itung-itung bantuin aku di sini dulu ya?'' Timpal Raka dengan tersenyum.


Bu Rossa melihat aneh senyum Raka. Ia tahu pasti saat ini Raka senang karena Rena bisa menetap di sini. Dan akhirnya rencananya juga tidak sia-sia kan? Untuk menjodohkan putranya dengan Rena.

__ADS_1


''Ya sudahlah. Saya mah nurut saja,'' ucap Rena pasrah.


''Baguslah. Kalau begitu Ibu tak siap-siap dulu. Ini kamu terusin buat suapin Raka,'' ucap Bu Rossa sambil memberikan mangkok bubur ke Rena.


''Hah? Suapin?''


''Iya Ren, Lihatlah! Badannya Raka masih demam. Kasihan kan kalau harus makan sendiri. Nanti kalau tumpah bagaimana? Tangannya aja masih bergetar gitu,'' ucap Bu Rossa sambil menunjuk arah tangan Raka.


Raka pun spontan langsung berpura-pura gemetar.


''Astaga anak ini benar-benar langsung berakting saat aku mengucapkannya,'' batin bu Rossa.


Rena pun mendekat lalu duduk di tempat duduk yang tadi bu Rossa duduki. Ia kemudian mengambil mangkok bubur itu lalu menyuapi Raka.


''Rena, kamu tidak perlu mengantar ibu. Setelah beberes, ibu akan langsung pergi,''


''Baik bu,''


''Dan kamu Raka, cepat makannya! Setelah itu minum obat. Cepatlah sembuh! Ingat ya, Mama nanti kalau ke sini kamu harus sudah sembuh ya,''


''Siap ma, pasti itu,'' ucap Raka sambil mengacungkan jempolnya.


Tanpa terasa hari cepat berlalu. Sudah dua hari bu Rossa pulang ke rumah dan meninggalkan Rena di rumah Raka. Raka juga sudah mulai membaik. Bahkan sejak beberapa waktu yang lalu, Raka sudah mulai bekerja dari rumah untuk memeriksa beberapa berkas milik pasiennya.


Sedangkan di sisi lain, Bryan masih sering mabuk-mabukan. Karena Natasha ternyata sudah memutuskannya sebelah pihak. Natasha lebih memilih dengan pacar bulenya yang kaya raya itu. Bahkan katanya bule itu menjanjikannya akan membawa Natasha ke Kancah Hollywood dan go internasional.


Tentu saja kesempatan emas seperti itu Natasha tidak akan melewatkannya. Maka dari itu ia dengan cepat memutuskan Bryan tanpa memandang usia kebersamaan mereka. Dan bahkan pernikahan mereka yang akan di gelar dua minggu lagi.


Bu Rossa sampai pusing dengan ulah Bryan. Setiap malam pergi, pulang-pulang mabuk. Sudah berbagai cara bu Rossa lakukan untuk menyadarkan putranya itu. Bahkan nasehat-nasehatnya seakan mental begitu saja di telinga Bryan.


''Mama, bagaimana kabar Bryan Ma?''


''Kakakmu masih seperti itu Raka. Maafkan Mama ya. Mama belum bisa ke tempatmu dulu,''


''Tidak apa-apa mah. Raka juga sudah baikan kok. Mama sedang sibuk seperti itu mengurus Bryan, apakah Raka perlu mengantarkan Mbak Rena kembali?''


''Bagaimana ya dek? Mama juga tidak bisa mengurus rumah sendirian. Apalagi kakakmu sedang seperti itu. Baiklah, nanti kamu tolong antarkan Rena ke sini saja ya,''


''Baik Mama. Nanti sekalian Raka ambil cuti beberapa hari untuk membantu Bryan dulu,''

__ADS_1


__ADS_2