Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Permintaan Raka


__ADS_3

...''Semakin dewasa, tekanan hidup semakin bertambah berat. Kita harus bisa menemukan beberapa cara untuk bisa mengatasinya. Misalnya menyalurkan hobi di sela-sela waktu luang, atau sekedar jalan-jalan bersama teman,''...


...•••••••••••♡•••••••••••...


''Kak, tadi kamu sudah berjanji kan kepadaku. Bahkan kau sampai mau bersumpah, jadi hari ini aku akan menagih janjimu itu,''


Raka memandang lurus menatap manik-manik mata Bryan yang kini juga sedang menatapnya. Bryan tidak mengerti, apa sebenarnya maksud dan permintaan adiknya itu terhadap dirinya. Tapi karena ia sudah berjanji akan menyanggupinya apapun itu, jadi Bryan pun menganggukkan kepalanya.


''Ya, apapun itu akan aku lakukan,'' ucapnya.


Raka tersenyum. Tangannya akan meraih tangan Bryan. Namun dengan cepat Bryan yang langsung menggenggam tangan Raka.


''Kak,'' Raka menepuk-nepuk pundak telapak tangan Bryan.


''Jaga Rena, sayangi dan cintai Rena sepenuh hati. Kakak mempunyai tanggung jawab atas hidup Rena sekarang. Berusahalah untuk mulai mencintainya,''


Ucapan Raka terjeda. Ia melihat perubahan ekpresi kakanya yang terlihat mengerutkan dahinya.


''Rena kehilangan kedua matanya mungkin ini musibah. Tapi ini juga bisa dijadikan kesempatan untuk kakak agar bisa lebih dekat dengan Rena,''


Bryan menundukkan kepalanya. Air matanya mulai membasahi kedua pipinya. Raka paham akan kebingungan yang mendera kakaknya.


''Sebelum Rena mendapatkan donor mata, kakak bisa menjaganya dengan berpura-pura menjadi diriku......''


''Tapi Raka....'' Bryan bermaksud ingin memotong ucapan Raka, namun Raka mengangkat satu tangannya agar Bryan mendengarkan ucapannya sampai selesai.


''Apakah kakak masih mencintai Natasha?''


''Tidak! Kakak sudah melupakan cinta itu. Saat ini kakak hanya berfokus untuk kamu dan Rena.'' Jawab Bryan.


Raka menganggukkan kepalanya.


''Ku mohon, belajarlah mencintai Rena ya. Aku sudah tidak bisa menjaganya lagi.''


''Raka, jangan berkata seperti itu lagi. Kakak yakin kamu pasti akan sembuh,''

__ADS_1


''Kak, aku sudah tahu bagaimana kondisiku saat ini. Oleh sebab itu aku membuat permintaan itu kepada kakak. Aku yakin, kakak pasti bisa kan mengabulkan permintaan terakhirku ini?''


Bryan mengegelengkan kepalanya. Kini tangisannya mulai terisak-isak.


''Kakak tidak ingin banyak membuat janji. Karena sejatinya manusia banyak sekali godaannya. Tapi kakak akan pastikan, kakak akan berusaha terus untuk menjaga dan mencintai Rena sepenuh hati '' Bryan berkata dengan kemantapan hati.


''Baik, aku mengerti. Jadi, mulai sekarang berusahalah untuk mendekatkan diri dengan Rena. Berpura-puralah menjadi diriku. Dan jangan bersuara saat berada di dekatnya,''


Bryan mengangguk mengerti. Akhirnya dengan berat hati , Bryan menyanggupi permintaan adiknya itu.


''Kak, bolehkah kita berpelukan? Aku sangat rindu sekali denganmu,''


Bryan tersenyum kemudian langsung memeluk sang adik dengan erat. Tiba-tiba tangisan mereka pecah mengingat masa-masa mereka sejak kecil sampai dewasa.


''Ada apa ini? Mengapa kalian malah berpelukan seperti Teletubbies begitu?'' Ucap Bu Rossa saat baru memasuk ruangan tersebut.


''Mama,'' Serentak mereka berdua tersenyum melihat kedatangan sang mama.


''Bagaimana keadaan Rena mah?''


''Rena, masih dalam pengaruh obat penenang.'' Bu Rossa menjelaskan bagaimana keadaan Rena setelah ia sadar kembali.


Selama ini ia sudah menyalahkan kakaknya atas penderitaan yang menimpa Rena. Tapi sekarang, dirinya juga malah menjadi penyebab kegelapan datang dalam kehidupan Rena.


Bryan menepuk pundak Raka. Ia mengerti kegelisahan yang Raka rasakan sekarang ini.


...•••••••••♡••••••••...


Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Raka masih dalam perawatan ketat dari dokter. Bahkan di tubuhnya pun masih banyak terpasang peralatan. Sesekali nafas dan jantungnya sering membuat orang khawatir.


Bryan maupun Bu Rossa bergantian menjaga Rena ataupun menjaga Raka.


Seperti saat ini. Rena dan Bryan sedang berada di taman. Bryan berpikir untuk mengajak Rena berjalan-jalan sebentar agar tidak jenuh berada di rumah sakit terus.


''Wah masakannya hari ini sangat enak Mas Raka. Sepertinya semakin hari Mas Raka semakin pandai memasak,'' ucap Rena saat beberapa suap ia merasakan makanan yang kini disuapkan oleh Bryan yang saat ini berpura-pura menjadi Raka.

__ADS_1


Bryan tersenyum akhirnya ia bisa sedekat ini dengan Rena, tanpa harus membuatnya takut. Meskipun ia sendiri sedih karena harus menggunakan cara ini agar ia bisa dekat dengan Rena.


Bryan mulai mendorong kursi roda Rena untuk kembali ke ruangan tempat Rena di rawat. Sebab sudah waktunya Rena melakukan pemeriksaan.


''Mas Raka, kenapa sejak Rena bangun setelah kecelakan itu, Mas Raka tidak mau berbicara dengan Rena? Apakah mas Raka membenci Rena? Karena.....''


Ucapan Rena terhenti saat sebuah telunjuk mendarat di bibir manisnya.


''Baiklah...baiklah, Rena tidak akan banyak berbicara lagi. Rena juga akan puasa ngomong. Sama seperti mas Raka,''


Rena cemberut karena setiap kali ia bertanya tentang mengapa Raka tidak mau berbicara lagi dengannya, pasti ujung-ujungnya mulut Rena mendapatkan jari.


''Uh menyebalkan sekali Mas Raka ini.'' Rena tersenyum sesekali ia menoleh ke arah Bryan. Meskipun ia tidak bisa melihat namun ia bisa merasakan bahwa laki-laki yang saat ini selalu menjaganya itu sangat tulus terhadapnya.


Setelah sampai di ruangan, dokter segera memeriksa keadaan Rena dan memberikan beberapa suntikan. Soalnya beberapa hari ini mata Rena merasakan sakit yang membuatnya tidak tahan lagi. Bahkan sampai-sampai ia merasakan sakit di kepalanya juga.


''Bagaimana keadaan Rena saat ini Dok? Apakah ada solusi untuk mengurangi rasa sakit di kepala maupun matanya dok?'' Bryan berbisik


''Maafkan saya tuan Bryan. Tapi sepertinya pasien harus segera mendapatkan donor mata. Sepertinya ada beberapa jaringan yang terinfeksi karena mungkin sebelumnya pecahan kaca itu sudah melukai beberapa syaraf yang mengarah ke otak kita. Maka dari itu harus segera melakukan operasi lagi agar pasien bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik,'' ucap sang dokter.


Bryan menganggukkan kepalanya. Sebab Ia sudah mencari di beberapa Rumah Sakit. Bahkan ia sampai menelpon beberapa kenalannya yang bekerja di bidang kedokteran untuk membantunya mencarikan donor mata untuk Rena. Namun sampai saat ini ia belum mendapatkan hasil apapun.


''Saya akan berusaha mencari donor mata untuk Rena dok, untuk saat ini bisakah dokter memberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya,''


''Kami akan berusaha tuan.''


Di sisi lain Raka sedang berbicara dengan bu Rossa. Di lihat dari ekpresi wajah mereka, sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.


''Apa kamu yakin nak?'' Dengan deraian air mata. Bu Rossa berusaha menguatkan hatinya atas permintaan sang putra.


''Raka benar-benar yakin ma. Lagi pula kalau bukan karena Raka, Rena pasti tidak akan kehilangan penglihatannya,''


''Baiklah kalau begitu. Mama akan berusaha mengiklaskannya.''


Bu Rossa memeluk erat sang putra. Ini benar-benar keputusan yang sangat berat baginya. Tapi bu Rossa percaya bahwa keputusan putranya pasti sudah ia pikirkan matang-matang.

__ADS_1


Namun tanpa mereka sadari dari balik pintu seorang gadis tengah memperhatikan percakapan mereka.


''Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Aku pasti bisa menyelamatkanmu,''


__ADS_2