Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Sadar


__ADS_3

...''Sungguh jarak terjauh antar manusia itu ketika kita merindukan seseorang yang tidak mungkin bisa kita lihat lagi di dunia ini.''_ Rena....


...''Jarak terjauh di dunia ini bukanlah jarak antara hidup dan mati. Tetapi jarak terjauh adalah ketika aku berdiri di hadapanmu, tapi kamu tidak tahu bahwa aku mencintaimu,'' _ Raka....


...•••••••••••••••♡•••••••••••••...


Sudah tiga hari bu Rossa dan Bryan menjaga dan merawat Raka atau pun Rena di rumah sakit. Rena sudah sadar sejak setelah tak semalam di pindahkan di ruang perawatan.


Sedangkan Raka, Raka sampai sekarang belum sadarakan diri.


Semenjak Rena sudah sadar, Bryan tidak berani muncul langsung di hadapannya. Bryan meminta perawat atau bu Rossa yang menggantikannya merawat Rena. Paling ia hanya bisa memandanginya dalam diam.


Rena sempat syok saat ia mengetahui bahwa kedua matanya tidak bisa lagi melihat indahnya warna dunia. Untung saja bu Rossa dengan telaten dan jiwa keibuannya bisa memberi pengertian dan menguatkan hati Rena.


Namun hati bu Rossa juga di buat tidak enak saat keluarga Rena tiba-tiba saja menghubunginya.


''Halo selamat malam,''


''Malam, maaf dengan siapa ini?'' Ucap Bu Rossa saat tiba-tiba sebuah no masuk ke ponselnya.


''Maaf mengganggu bu, saya adiknya mbak Rena. Ini ibuk dan bapak ingin berbicara dengan mbak Rena. Apakah mbak Rena sedang sibuk?''


Deg....


Jantung Bu Rossa di buat syok seketika. Namun dengan segera ia mencoba menenangkan diri agar tidak membuat keluarga Rena khawatir.


''Mbak Rena sedang menemani putra saya membeli kebutuhan bulanan. Tolong sampaikan kepada bapak dan ibu mbak Rena ya,''


''Ooh... Baik bu.. baik. Nanti saya sampaikan kepada ibu dan bapak saya,''


''Iya, soalnya putra saya sedang pindahan rumah. Jadi beberapa hari ini keadaan sangat sibuk.''


''Ya... trimakasih bu. Dan maaf sudah mengganggu waktu ibu,''


''Aah... tidak apa-apa. Jangan sungkan seperti itu.''


Dan obrolan mereka pun berakhir. Bu Rossa menjatuhkan diri di kursi samping Ranjang tempat Raka berbaring. Tiba-tiba perasaannya merasa sangat bersalah sekali dengan keluarga Rena.


Flashback on


Perlahan jari-jari Rena mulai bergerak. Bryan yang melihat itu langsung berdiri dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


''Rena! Akhirnya kamu sadar,'' namun dengan segera ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


Ia berlari keluar untuk mencari dokter dan perawat agar segera memeriksa keadaan Rena.


''Bagaimana keadaannya dok?'' Bisik Bryan di sebelah sang dokter setelah selesai memeriksa keadaan Rena.


''Keadaannya sudah mulai membaik. Tapi tidak boleh dipaksakan untuk membuka mata terlebih dahulu. Sebab ia baru selesai operasi, jadi untuk sementara kami menutup kedua matanya dulu agar tidak terkena bakteri atau iritasi akibat terlalu dipaksa untuk terbuka,'' ucap dokter menjelaskan keadaan Rena, dan Bryan mendengarkannya dengan seksama.


Rena mendudukkan tubuhnya di bantu seorang perawat.


''Kenapa dengan mataku? Kenapa mataku ditutup seperti ini?'' Ucapnya setelah ia benar-benar sudah sadarkan diri.


Perawat pun memberitahukannya bahwa kedua matanya terkena pecahan kaca sehingga tidak bisa lagi membuatnya melihat lagi dunia.


Rena menangis histeris.


''Ya Tuhan, cobaan apalagi yang engkau berikan kepadaku? Kenapa cobaan yang Engkau berikan berturut-turut menimpaku? Apakah engkau melihatku sekuat itu? Dari mana engkau melihatnya?'' Ucapnya di sela-sela tangisnya.


Bryan tak puasa mendengar ucapan Rena. Ia pun kemudian berlari keluar mencari mamanya.


''Mah, ku mohon. Tolong tenangkan Rena. Rena sedang histeris,''


''Tidak mah, Rena baru sadar. Kemudian ia bertanya tentang kedua matanya dan perawat pun menjelaskannya. Rena merasa hancur ketika mengetahui kebenaran bahwa ia tidak bisa melihat lagi,'' Bryan menjelaskannya kepada mamanya. bahkan kedua tangannya terlihat gemetar dan matanya memerah. Terlihat jelas bahwa Bryan sedih melihat keadaan Rena.


''Baiklah nak, kamu tunggu dulu di sini. Jaga adikmu. Mama akan ke sana untuk melihat Rena.''


''Baik mah, nanti tolong kabari Bryan jika ada apa-apa,''


Bu Rossa menganggukkan kepalanya dan mengusap puncak kepala Bryan. Langkahnya yang tegas berjalan menuju ke ruangan Rena.


Di sana Perawat sedang menenangkan Rena. Bahkan menyuntikkan obat penenang agar Rena tidak kembali histeries dan memaksa membuka perban yang menutupi kedua matanya.


''Sayangku, kamu sudah sadar,'' Bu Rosa duduk di sebelah Rena sambil memegang tangan Rena.


''Bu, saya sudah tidak bisa melihat lagi. Rena akan menjadi orang yang cacat, Rena buta Bu,'' ucapnya dengan lemah karena obat penenang sudah mulai bekerja.


''Tidak sayang, untuk sementara ini mata Rena sedang diobati. Rena tenangkan diri dulu ya sayang,'' Bisik bu Rossa di telinga Rena.


Dan perlahan Rena pun tertidur kembali karena efek obat penenang.


''Dokter, apakah ada jalan lain agar putri saya bisa kembali melihat?''

__ADS_1


''Kemarin kami sudah menjelaskannya kepada Tuan Bryan. Nona Rena bisa kembali melihat, saat mendapatkan donor mata,'' ucap dokter.


Bu Rossa menganggukan kepalanya.


''Saya mengerti dok, Terima kasih dok. Untuk sementara tolong beri pengawasan yang ketat untuk putri saya ini. Paling tidak minta satu perawat agar mau menjadi perawat pribadi untuk putri saya,'' ucap Bu Rossa.


Dokter pun mengangguk paham lalu pergi meninggalkan ruangan Rena. Kini yang tersisa hanya Rena dan Bu Rossa.


Bu Rossa mencium kening Rena.


''Istirahat dulu ya sayangku. Mama mau menjaga Raka dulu. Nanti mama ke sini lagi,'' bisiknya di telingan Rena. Lalu perlahan meninggalkan ruangan Rena dan kembali ke ruangan putranya.


''Bagaimana mah? Bagaimana keadaan Rena saat ini?'' Bryan langsung membrondong pertanyaan saat melihat mamanya memasuki ruangan tempat adiknya di rawat.


''Rena sedang dalam pengaruh obat penenang. Untuk sementara mama juga sudah meminta dokter untuk menyediakan perawat pribadi untuk menjaga Rena. Jadi kamu bisa kembali ke sampingnya dulu. Mumpung ia masih tidur.'' Ucap Bu Rossa.


Bryan pun akan melangkahkan kembali kakinya untuk ke ruangan Rena. Namun langkahnya berhenti ketika mamanya memanggil......


''Bryan....''


''Iya mah?'' Bryan menoleh kembali ke arah mamanya.


''Bryan, bagaimana jika........'' ucapan bu Rossa tertahan seakan enggan ia keluarkan. Namun ia sudah berpikir matang-matang bahwa ia ingin mengatakan kepada putra sulungnya itu.


''Ada apa Mah? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran mama?''


''Bryan, jika nanti adikmu tidak bisa kembali, apakah lebih baik kita donorkan kedua matanya untuk Rena,''


Mendengar itu Bryan langsung menggelengkan kepalanya.


''Tidak mah, Bryan yakin Raka pasti akan kembali pulih. Raka pasti akan sembuh mah. Mama percaya sama Bryan. Raka adalah adikku yang paling kuat. Bryan yakin, Tuhan sangat menyayanginya. Mama tahukan Raka adalah anak yang baik, Tuhan tidak mungkin mengambilnya begitu saja. Mama jangan berkata seperti itu lagi ya. Kita doakan semoga Raka cepat sadar dan cepat sembuh,''


Tangisan bu Rossa tumpah dipelukan Bryan. mengingat putranya masih dalam keadaan seperti itu. Bahkan dokter sudah memberikan ultimatum jika satu minggu ini Raka tidak bisa sadar, kemungkinan Raka benar-benar tidak bisa terselamatkan.


Dalam tangisan itu, Raka perlahan membuka kedua matanya. Mendengar isak tangis dari sang Mama, Raka mencoba sekuat tenaga menggerakkan jari-jarinya. Lalu mulutnya mulai berkata....


''Mama, jangan menangis,''


Bu Rossa dan Bryan langsung terkejut mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya. Mereka berdua pun kompak menoleh ke arah Raka.


''Raka sayangku,''

__ADS_1


__ADS_2