
...''Yang tadinya terlihat sehat, esoknya sakit. Yang tadinya tersenyum, lalu sesaat kemudian sedih. Hidup terus berjalan, dan waktu pun terus berputar. Lakukan yang perlu dilakukan, jangan selalu menunda-nundanya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita di waktu berikutnya. Karena waktu tidak akan menunggumu ataupun mengulangi hal-hal yang sudah kamu lewatkan, jangan sampai penyesalan datang menghampiri "...
...•••••••••••••••♡•••••••••••••...
Tak lama kemudian operasi yang mereka lakukan terhadap Rena sudah selesai. Dua dokter dan satu perawat keluar. Bahkan sarung tangan dan baju yang mereka kenakan lumayan banyak terkena darah.
''Bagaimana keadaan Rena dok?'' Bryan segera bertanya pada salah satu dokter saat melihat dokter itu keluar.
Dokter menggelengkan kepalanya. Seperti dugaannya tadi, kedua mata Rena sudah rusak parah akibat terkena pecahan kaca, dan tidak bisa diselamatkan. Kemungkinan besar kalau Rena mendapatkan donor mata baru ia bisa melihat kembali seperti semua,'' ucap dokter tersebut memejamkan kedua matanya.
''Kalau begitu, ambil mata saya saja Dok, saya mohon,'' Bryan benar-benar sudah kehilangan akal. Memikirkan kesalahannya saja sudah membuatnya sangat merasa bersalah. Apalagi sekarang di tambah Rena seperti ini.
''Bagaimana bisa?'' Dokter tentu saja menolak dengan tegas permintaan Bryan.
Bu Rossa pun hanya diam saja melihat keributan antara putra sulungnya itu dan dokter. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi sekarang ini. Di satu sisi putranya saat ini sedang memperjuangkan kehidupannya, di satu sisi calon menantunya juga Kehilangan penglihatannya.
Beberapa perawat mendorong ranjang Rena dan akan dipindahkannya di tempat perawatan.
Bryan pun mengikuti Rena hingga sampai ke ruangannya.
Tak berapa lama juga, para dokter yang memberi pertolongan kepada Raka, juga keluar dari ruang operasi.
Namun setelah melihat bu Rossa yang kebanyakan dari mereka sudah mengenal dekat keluarga Raka, tentu saja langsung tahu kalau perempuan paruh baya itu sedang menunggu informasi tentang keadaan putra bungsunya saat ini.
Dokter Luna yang juga ikut menangani operasi Raka menggelengkan kepalanya. Ia lalu menghampiri bu Rossa dan memeluknya.
''Dokter Luna, mohon perlahan saja menjelaskannya tentang keadaan Dokter Raka. Kasihan Bu Rossa, pasti saat ini hatinya sedang terpukul sekali,'' ucap Dokter Sam sambil menepuk pundak dokter Luna.
Setelah mengantarkan ikut mengantarkan Rena keruangannya, Bryan kembali mencari keberadaan mamanya. Untung saja ia bertemu dengan dokter Sam. Dokter Sam pun memberitahu kalau mamanya sedang berada di ruangan dokter Luna.
__ADS_1
''Terima kasih dok'' Bryan segera berlari menuju ke ruangan dokter Luna.
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka.
''Bryan?'' Dokter Luna sedikit terkejut saat melihat kedatangan Bryan.
''Dokter, di mana Mama saya? Kata dokter Sam Mama saya sedang bersama dokter Luna,'' Bryan melihat kekanan ke kiri untuk mencari keberadaan mamanya.
''Bu Rosa saat ini masih berada di ruang operasi. Beliau sedang melihat keadaan dokter Raka,'' ucap dokter Luna.
''Baiklah dok, terima kasih atas infonya,''
Bryan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke ruang operasi tempat adiknya yang saat ini masih mendapatkan penanganan.
Hati Bryan langsung mencelos seketika, saat melihat adiknya kini masih terbaring koma tak sadarkan diri. Begitu banyak peralatan yang ada di tubuh Raka. Air matanya ikut jatuh membasahi pipinya, apalagi saat ia melihat mamanya menangis tersedu-sedu sambil memegangi salah satu tangan Raka.
''Mama, jangan menangis lagi. Kita doakan supaya Raka baik-baik saja dan segera pulih kembali ya ma,''
Bryan berusaha menguatkan mamanya meskipun hatinya kini juga ikut tercabik-cabik melihat keadaan adiknya. Meskipun saat ini ia masih bersitegang dengan adiknya, namun biar bagaimanapun mereka tetaplah bersaudara.
Sejak kecil keluarga yang ia miliki hanyalah Raka dan juga mamanya. Apalagi sebagai seorang kakak tentu sangat sedih melihat keadaan adik semata wayangnya seperti itu.
''Bryan adikmu... adikmu....,''
Suara bu Rossa seakan tercekat di tenggorokan. Ia tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tangisan air mata seorang ibu yang menyayat hati memandangi tubuh sang putra yang saat ini penuh dengan alat-alat sebagai penopang hidup.
''Bagaimana kata dokter mah? Apakah Raka baik-baik saja?''
__ADS_1
Bu Rossa menggelengkan kepalanya.
''Dokter berkata, kemungkinan Raka bisa melanjutkan hidup sangat sulit. Dan, dan dokter juga mengatakan hidup Raka mungkin tidak akan lama lagi. Karena banyak kerusakan di tubuhnya. Mama tidak sanggup membayangkannya lagi Bryan, Raka putra mama. Bagaimana bisa ia mengalami hal seperti ini. Bagaimana bisa dokter mengatakan hal itu Bryan?''
''Mama yang merawatnya dari kecil. Tidak bisakah Raka membalas jasa mama, merawat Mama kelak saat Mama sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagaimana bisa dokter itu mengatakan hal itu Bryan? Mama tidak percaya. Mama yakin, Raka pasti akan baik-baik saja bukan? Iya kan Bryan? Adikmu pasti akan baik-baik saja,''
''Haaaaaaa.........'' Tangis bu Rossa semakin pecah dipelukan Bryan. Bryan pun hanya bisa menepuk pundak mamanya. Ia pun tidak mampu menjawab pertanyaan mamanya.
Air matanya ikut membasahi pipinya yang semakin lama semakin deras tak terbendung lagi.
Dari sudut mata Raka, ternyata juga mengalir air mata yang membasahi ujung matanya. Entahlah, mungkin Raka juga sedih melihat mama dan kakaknya sedang menangis di hadapannya. Mungkin Raka juga bisa merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang saat ini mama dan kakaknya rasakan.
''Lalu, berapa lama lagi Raka akan membuka matanya?''
Mamanya menggelengkan kepalanya lagi.
''Mama juga tidak tahu Nak,''
''Mah, sebaiknya Mama pulang saja untuk beristirahat. Mama juga belum boleh terlalu lelah. Biarkan Bryan yang menunggu Raka di sini. Nanti jika Raka sudah sadar, Bryan pasti akan segera menghubungi Mama,'' bujuk Bryan.
Melihat keadaan mamanya saat ini, Bryan sangat sedih. Bryan tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan mamanya lagi. Sudah cukup Raka dan Rena seperti ini, mamanya juga baru mulai sembuh kembali. Jika sampai terjadi apa-apa pada Mamanya juga, tentu Bryan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
''Tidak nak, Mama akan tetap di sini. Mama ingin menunggu Raka sampai sadar kembali. Mama tidak ingin jauh-jauh dari Putra mama. Tolong jangan suruh mama pulang ya nak,'' pinta Bu Rossa di sela-sela tangisnya.
''Tapi mah, kesehatan Mama juga jauh lebih penting. Raka pasti sedih jika melihat mama seperti ini,''
''Bryan, kali ini saja. Bisakah kamu tidak membantah ucapan mama?''
Bryan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun dengan terpaksa menyetujui permintaan mamanya dan tetap membiarkan mamanya berada di rumah sakit.
__ADS_1
''Baiklah, kalau begitu Bryan akan meminta satu ranjang lagi agar mama bisa beristirahat di sebelah Raka,''
Mamanya pun hanya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Bryan. Bryan segera bergegas untuk mencari perawat untuk meminta tolong menambahkan satu ranjang di sebelah Raka.