Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Mabuk perjalanan


__ADS_3

Tidak ada orang yang memiliki hidup mudah. Kita hanya tidak melihatnya saja. Tapi semua orang sedang berjuang. Mereka selalu berdoa dan mengatakan "Apa yang kulalui hari ini, pasti akan berlalu di esok hari,"


...•••••••••••••••♡••••••••••••••••...


Rena dan Bu Rossa kini sudah sampai di bandara. Terlihat mereka berdua berjalan agak cepat karena hampir telat.


''Ayo Ren, nanti keburu ditinggal pesawat.''


''Iya bu, ini juga sambil berlari.Tapi bu....''


''Kenapa tapi-tapian?'' Ucap Bu Rossa sambil menyerahkan tiket pesawat kepada sang pramugari.


''Saya takut Bu. Saya belum pernah naik pesawat,''


''Takut? Takut kenapa? Jadi, ini pertama kali kamu naik pesawat ?''


''Iya Bu. Saya takut kalau nanti saya mabuk bagaimana?''


''Mabuk? Kamu ini ada-ada saja,''


''Iya Bu, soalnya saya naik bus saja mabuk. Bagaimana jika di pesawat nanti saya mabuk juga? Nanti yang ada saya malah merepotkan ibu,''


''Eggak apa-apalah. Nanti kalau kamu mabuk atau pusing kamu tinggal tidur saja. Misal nanti kalau kamu mau muntah, tinggal minta plastik sama pramugarinya,''


''Aduh bu, kenapa memalukan sekali ya Bu,''


''Mau bagaimana lagi. Sudahlah, ayo masuk!''


Di dalam pesawat, Rena dan bu Rossa mulai mencari kursi penumpang yang akan mereka duduki. Ternyata kursi yang akan mereka duduki berada tepat di dekat jendela.


''Tuh Ren, kamu duduk di dekat jendela saja. Biar nanti kamu bisa melihat pemandangan di luar dan lupa sama mabukmu itu,''


''Ah, iya bu. Semoga ya Bu. Padahal ini kesempatan yang bagus karena diajak naik pesawat,''


''Sudahlah Ren, jangan berpikir macam-macam. Pikirkan saja nanti pas kita naik ke atas, kamu bisa melihat pemandangan di bawah yang sangat indah,''


''Baik bu.''


''Tanpa terasa mereka sudah di tengah perjalanan. Rena sangat senang karena pada akhirnya ia memiliki pengalaman naik pesawat, walaupun kepalanya sedikit pusing. Tapi rasa pusingnya sedikit teralihkan saat melihat pemandangan dari balik jendela.


''Wah indah sekali pemandangannya dari atas. Apakah di sana rumahku?'' Monolog Rena saat melihat hijau-hijau yang ada di bawah.

__ADS_1


''Ya, mungkin rumahmu salah satu yang ada di sana. Sudahlah, ini makan dulu. Biar nanti tidak tambah pusing,'' ucap Bu Rossa sambil menyerahkan sebuah roti dan minuman untuk mengisi perut Rena.


Tadi pagi bu Rossa bangunnya kesiangan. Oleh sebab itu mereka sampai terburu-buru ke bandaranya dan tidak sempat untuk sarapan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Kini akhirnya mereka sudah sampai di bandara yang ada di kota tempat Raka tinggal.


''Wah pemandangan di sini juga bagus ternyata,'' ucap Rena yang terpesona melihat keadaan sekitar.


''Makanya itu, Ibu mengajakmu Ren. Biar kamu bisa refreshing. Biar menyegarkan pikiran, iya kan?''


''Iya bu, hehehe....''


''Tapi ngomong-ngomong kok Raka belum kelihatan ya? Padahal tadi pagi aku sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk menjemput kita tepat waktu,''


''Mungkin Mas Raka sedang sibuk Bu. Kan tugas seorang dokter itu banyak. Apalagi Mas Raka itu salah satu dokter terbaik di rumah sakitnya,''


''Iya, tapi katanya hari ini dia mau ambil cuti,''


Namun obrolan Rena dan bu Rossa terhenti saat seseorang memanggil mereka.


''Mama!''


''Maafkan Raka mah, badan Raka rasanya tidak enak. Makannya Raka agak telat datangnya,''


''Kamu sakit? Coba sini mama lihat,'' ucap Bu Rossa lalu memegang dahi putranya.


''Wah panas sekali badanmu Raka! Ayo cepat kita pulang.''


''Iya mah, tapi tadi Raka sudah minum obat kok. Jadi mama tidak perlu khawatir,''


''La ini, kamu nyetir sendiri ke sini?''


''Mau bagaimana lagi, kan Mama minta aku untuk menjemput Mama,''


''Kenapa kamu tidak bilang? Kan kalau kamu bilang, Mama akan memesan taksi saja.''


''Aduh mamaku tersayang. Raka sudah mendingan kok. Hanya tinggal demamnya saja.''


''Tinggal demannya saja juga sama dengan masih sakit Raka. Sudahlah ayo kita cepat pulang. Biar kamu cepat beristirahatnya,''


''Iya mama,''

__ADS_1


''Nanti pelan-pelan saja ya nyetirnya. Kalau nggak mama saja yang membawa mobilnya. Kamu ini sakit kok enggak bilang-bilang,'' omel bu Rossa.


''Raka pun hanya bisa diam mendengar omelan dari mamanya. Rena menahan tawanya mendengar Bu Rossa yang memarahi putranya. Namun sesaat Rena terdiam. Rena tiba-tiba teringat kepada ibunya. Sudah beberapa hari ini ibunya tidak bisa dihubungi. Mungkin karena sinyal di desa yang kurang bagus, atau mungkin karena ponsel yang dibawa oleh ibunya memang sudah tidak layak dipakai.


Rena bertekad nanti setelah gajian pertama, ia akan memberikannya kepada Ibunya agar bisa membeli ponsel. Tapi tahu sendiri bagaimana keadaan di desa. Pasti bukannya untuk membeli ponsel malah untuk membeli beras atau untuk membayar sumbangan-sumbangan yang biasa kalau ada hajatan di desa.


Kebutuhan hidup di desa itu sangatlah banyak dan macam-macam bentuknya. Ada kumpulan RT, ada sumbangan ini sumbangan itu, ada bayar ini bayar itu. Sedangkan keadaan di desa sendiri sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang mendapat upah lumayan.


Mereka hanya bisa bertani yang kadangkala tidak panen karena cuaca atau karena hama. Oleh sebab itu Rena bertekad untuk pergi ke kota dan bekerja, agar bisa membantu ekonomi keluarganya.


Setelah sampai di rumah Raka. Rena sedikit terpana karena rumah itu terlihat sangat simpel dan juga khas sekali layaknya rumah seorang pria yang belum memiliki istri. Namun rumah itu tetap terlihat rapi.


''Wah ternyata rumah Mas Raka bagus juga ya,''


''Oh ya? Semoga Mbak Rena betah ya tinggal di sini,'' ucap Raka.


''Hah? Tinggal di sini? Tapi kata Bu Rossa nanti sore kita akan langsung pulang mas,''


''Sepertinya kepulangan kita ditunda dulu deh Ren. Raka sedang sakit, mungkin tunggu Raka sampai sembuh baru kita akan pulang,'' ucap Bu Rossa.


''Iyalah Mbak Rena. Lagian Mbak Rena kan baru datang, apa tidak capek harus pulang pergi naik pesawat lagi. Katanya mama, Mbak Rena mabuk perjalanan. Pasti masih pusing kan? Setidaknya istirahatlah dulu beberapa hari sampai pusingnya benar-benar hilang,''


Rena menggaruk garuk pelipisnya mendengar ucapan Raka.


''Sudahlah, jangan digaruk-garuk lagi. Nanti yang ada lecet. Ayo masuk,''


Raka pun menunjukkan kamar untuk Rena beristirahat.


''Mama, aku pergi ke atas dulu ya Ma. Kepalaku pusing sekali,''


''Raka Raka, kamu ini dokter yang pintar merawat orang, tapi tidak bisa merawat diri sendiri,''


''Iya iya mah. Orang sakit malah diomelin terus. Nanti bukannya sembuh malah tambah sakit Raka mah,''


''Habisnya kamu tidak bisa dibilangin ok,''


''Iya iya deh. Mama yang terbaik pokoknya. Raka ke atas dulu. Nanti kalau mama butuh apa-apa, panggil saja Raka,''


''Baiklah, Mama akan memasakkan bubur untukmu. Kamu pergilah beristirahat sana,''


''Oke, kalau begitu Raka tinggal dulu ya mah,'' ucap Raka yang kemudian pergi meninggalkan mamanya dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2