Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Kopi penghilang aroma mabuk darat


__ADS_3

Belajarlah untuk tidak bergantung kepada siapapun. Karena dalam beberapa situasi dan kondisi tidak ada yang bisa menolongmu kecuali dirimu sendiri.


...•••••••••••••♡••••••••••••...


''Mbak Rena... Mbak?''


''Seperti ada yang memanggil,'' batin Rena.


Rena menajamkan pendengarannya saat mendengar seseorang seperti memanggil namanya. Karena kebetulan Rena sedang menyapu halaman depan. otomatis lumayan jauh dari Raka yang saat ini berada di dalam rumah.


Rena segera menaruh sapunya dan berlari masuk ke dalam rumah. Dengan sedikit tersenggal-sengal nafasnya, Rena segera menghampiri Raka.


Hos...hos....hos....


Raka menggelengkan kepalanya melihat kedatangan Rena yang terengah-engah saat sudah berdiri di hadapannya.


''Kenapa berlari mbak?''


''Kan tadi mas Raka memanggil,''


''Kan bisa berjalan biasa saja. Tidak perlu berlari seperti itu. Nafasnya jadi senin kamis kan?''


''Lah malah kayak puasa sunah dong mas. Senin kamis,''


''La iya kan? Ini minum dulu airnya, lalu atur dulu nafasnya pelan-pelan,'' ucap Raka sambil menyerahkan segelas air kepada Rena.


''Terima kasih Mas. Saya kira mas manggil mau nyuruh sesuatu yang harus sekarang. Soalnya dari panggilannya terdengar seperti itu,''


''Ya kamu benar mbak. Aku memang mau menyuruh mbak Rena buat beresin barang-barang mbak Rena sekarang,''


''Beresin barang-barang? Apa saya di pecat mas?''


''Tidak...tidak. Bukan seperti itu Mbak. Tapi Mama memintaku untuk mengantarkan mbak Rena pulang. Sebab mama keteteran ngurus rumahnya. Mbak Rena tahu sendiri kan kalau di rumah juga ada kak Bryan?''


''Iya mas, saya mengerti,''


''Baiklah kalau begitu sana cepat. Nanti biar tidak ketinggalan pesawat,''


''Baik mas. Kalau begitu saya permisi dulu,''


Rena segera membereskan barang-barangnya lalu mengemasnya kedalam tas. Ia sedikit heran. Pertama datang barangnya sedikit, kenapa tiba-tiba jadi satu tas besar?


''Sudahlah lebih baik aku segera membereskannya,'' ucap Rena. Ia pun segera bergegas setelah selesai membereskan barang-barangnya.


Brak.... ( suara pintu bagasi mobil )


''Apakah sudah semuanya Mbak?''


''Sudah Mas,''

__ADS_1


Raka pun kemudian meminta Niko untuk mengantarkannya ke bandara bersama Rena. Namun saat di perjalanan Raka memperhatikan Rena yang terus menghirup sebuah kantong yang terbuat dari kain.


''Apa itu? Mengapa kamu dari tadi terus menghirup baunya?'' Tanya Raka yang penasaran.


''Ini kopi Mas Raka,''


''Kopi? Apakah kamu ingin meminumnya nanti mbak?''


''Tidak. Kopi ini bukan untuk diminum, tapi ini penangkal untuk mabuk perjalanan,''


''Penangkal mabuk perjalanan?'' ucap Raka dan Niko bersamaan.


''Iya. Ini resep yang ibuku berikan. Katanya kalau saya tidak ingin mabuk di perjalanan, saya harus menghirup aroma yang lebih tajam daripada aroma di ruangan tersebut. Dan pilih bau harum yang saya sukai, dan Kebetulan saya sangat menyukai aroma kopi. Ini sangat enak sekali,''


''Ooo... aku baru tahu kopi bisa menjadi penangkal mabuk perjalanan. Biasanya orang-orang akan meminum obat tertentu untuk menjadi mengobatinya,'' ucap Niko.


''Kalau meminum obat terus-menerus juga tidak bagus untuk kesehatan kan Mas, lagi pula saya tidak terlalu suka minum obat,''


''Hahaha....''


Niko dan Raka pun tertawa mendengar alasan Rena yang membawa kopi.


Setelah sampai di bandara, mereka segera berlari dan masuk ke dalam pesawat. Karena datangnya mereka juga sudah mepet sekali. Selama di perjalanan Raka terus memperhatikan Rena yang sejak masuk sudah duduk melamun sambil memandangi ke arah luar jendela.


''Apa yang sedang dipikirkannya? Kenapa pandangan matanya terlihat sayu sekali,'' batin Raka.


Rena tak sengaja menoleh ke arah Raka dan melihat Raka dari tadi yang terus menatapnya.


''Ada apa mas?''


''Haaah.....'' Rena menghela nafasnya.


''Tidak ada alasan tertentu mas. Saya hanya menyukai pemandangan sekitar saja. Karena terkadang saat kita benar-benar ingin menenangkan diri, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah melihat pemandangan di sekitar kita,'' ucap Rena dengan tersenyum.


''Apakah terlalu berat beban hidup yang Mbak Rena tanggung? Sampai-sampai sangat terlihat jelas sekali dari pandangannya.'' batin Raka.


Rena tersenyum kemudian mengambil minuman lalu minumnya.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, kini Raka dan Rena sudah sampai di depan rumah Bu Rossa.


Din...din


Raka meminta Pak sopir taksi online yang mereka pesan untuk membunyikan mobilnya. Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka secara otomatis. Dan tak lama kemudian terlihat Bu Rossa keluar dari dalam rumah.


''Kalian sudah datang,''


''Iya mah,''


''Iya Bu,''

__ADS_1


''Sini biar Ibu bantu,''


''Tidak apa-apa Bu, barangnya juga tidak terlalu berat,'' ucap Rena saat melihat Bu Rossa yang ingin membantu membawakan barang-barangnya.


''Biarkan Raka saja mah. Mama masuk saja, nanti kita akan menyusul,''


''Baiklah kalau begitu cepatlah masuk ya. Mama sudah memasak kan kamu makanan yang enak-enak. Oh ya, Ibu juga sudah memaksakan makanan kesukaan kamu juga lho Ren,''


''Benarkah Bu? Wah terima kasih sekali. Malah merepotkan Ibu,'' ucap Rena.


''Tidak apa-apa kok. Sekalian masaknya juga,''


Bu Rossa kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Tak Berapa lama Raka dan juga Rena menyusul.


''Aku harus segera membawa barang-barang aku ke kamar dulu. Nanti setelah itu baru membantu Bu Rossa,'' Rena segera membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar. Ia juga segera membersihkan diri di kamar mandi.


''Wah segar sekali. Kenapa rasanya air di sini dengan air yang di rumah mas Raka terasa berbeda ya? Rasanya lebih segar di sini. Aah! ngomong-ngomong Apakah mas Bryan ada di rumah juga?''


Namun tak lama kemudian terdengar suara bantingan kaca dari arah sebuah kamar.


Pyaar!!!....


''Suara apa itu?''


Rena segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata Bu Rossa dan Raka saat ini tengah mengetuk-ngetok pintu di sebuah kamar.


''Bryan! Buka pintunya nak! Ada apa denganmu di kamar?''


Bu Rossa terlihat khawatir. Ia terus mengetuk pintunya. Namun tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar.


''Biar Raka saja mah. Mama coba cari kunci cadangan kamar ini saja.''


''Baiklah kalau begitu Raka. Cepat ya kamu bujuk kakakmu supaya mau keluar. Mama akan cari kunci cadangannya dulu,''


''Baik mah,''


Raka terus berusaha memanggil nama kakaknya dan juga mengetuk pintunya.


''Ada apa mas?''


''Nggak apa-apa kok Mbak. Sepertinya kak Bryan sedang emosi. Mbak Rena, bisakah Mbak Rena mengambilkan segelas air minum?''


''Baik Mas, saya akan ambilkan dulu,'' Ucap Rena.


Ia segera bergegas pergi ke dapur untuk mengambil segelas minuman.


''Ini Raka, kuncinya,''


Raka segera membuka pintunya. Untung saja kunci pintu itu tidak sedang terpasang di pintu. Dan akhirnya berhasil Raka buka.

__ADS_1


Namun setelah Pintu itu terbuka, betapa syok dan terkejutnya Raka dan juga bu Rossa saat melihat keadaan di dalam kamar.....


__ADS_2