Bukan Pelampiasan

Bukan Pelampiasan
Ketulusan cinta Raka


__ADS_3

''Menerima keadaan bukan karena ia benar-benar iklas menjalaninya. Namun karena memang ia tudak memiliki pilihan lain. Menjadi dewasa itu suatu keharusan bukan sebuah pilihan. Meskipun itu sangat menyakitkan,''


...••••••••••••••>♡<•••••••••••••...


Raka memeluk erat Rena dan membawanya masuk ke mobil.


Namun tiba-tiba Rena kembali histeris.


''Jangan sentuh aku! Aku mohon, aku mohon!'' Teriak Rena.


"Tenanglah. Ini Aku Raka, lihatlah baik-baik.''


Raka memegang kedua pipi Rena dan mencoba menenangkan Rena. Hingga pada akhirnya Rena tiba-tiba tertidur dalam pelukannya.


"Aku harus segera membawa Rena kembali. Tidak, aku tidak bisa membawa Rena pulang kembali ke rumah mama. Jika dia melihat Bryan, aku takut kondisi Rena akan semakin memburuk,'' ucap Raka.


Raka pun memutuskan langsung membawa Rena ke rumahnya sendiri.


Raka pelan-pelan membopong Rena yang saat ini masih tertidur. Lalu membawanya naik ke lantai atas dan menempatkannya di kamarnya.


Perlahan tangannya meraih anak rambut Rena dan merapikannya.


''Maafkan keluargaku. Mulai sekarang, aku yang akan bertanggung jawab kepadamu,'' ucap Raka.


Rena mengerjapkan kedua bola matanya. Perlahan netranya beradaptasi dengan keadaan sekitar.


''Di mana ini? Aku seperti asing dengan tempat ini," Rena melihat sekeliling di sana. Hingga pandangannya terpatri pada foto Raka, bu Rossa dan Bryan yang terpajang di nakas samping tempat tidur.


Saat Rena melihat wajah Bryan, tiba-tiba Rena menangis histeris kembali. Rena menutup kedua telinganya dan bersembunyi menutupi wajahnya dengan selimut.


Raka yang mendengar teriakan Rena, Ia pun langsung berlari naik ke lantai atas, karena saat itu ia sedang memasak makanan untuk Rena dan dirinya.


"Rena.. Rena?" Raka mencoba memanggil-manggil Rena, namun Rena tetap menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

__ADS_1


Raka perlahan meraih selimut itu dan membukanya.


"Tenanglah, ini aku. Tenang ya... Tenang," ucap Raka memeluk Rena sambil mengelus-elus pundaknya.


Rena mendongakkan kepalanya menatap kedua mata Raka yang kini ikut menangis memeluknya.


"Mas Raka, hidupku sudah hancur," ucap Rena di sela-sela tangisnya.


"Tidak, ku mohon jangan berbicara seperti itu. Kakakku memang brengsek, kakakku memang bajingan. Tenang saja ada aku, kakakku sudah berbuat hal di luar batas terhadap mu. Mulai saat ini aku yang akan bertanggung jawab dan menikahimu," ucap Raka.


Rena menggelengkan kepalanya.


"Tidak, ini bukan salah mas Raka. Ini tidak ada hubungannya dengan mas Raka."


"Lalu, apakah aku perlu memaksa Bryan untuk bertanggung jawab dan menikahimu?"


"Tidak juga. Saya tidak mau mas. Mas Bryan sangat mencintai Nona Natasha. Ia melakukan itu karena sedang kecewa dengan non Natasha. Mungkin di hati Mas Bryan hanya ada Non Natasha seorang,"


"Saya tidak apa-apa mas. Mungkin ini sudah menjadi takdirku," Rena mengusap kedua matanya yang basah.


"Terima kasih karena Mas Raka selama ini sudah baik dengan Rena,"


"Rena, jangan berkata seperti itu. Apa yang akan kau lakukan? Ku mohon jangan berbuat hal gegabah,"


"Tidak akan mas, saya tidak akan berbuat hal bodoh yang hanya akan merugikan diri sendiri lagi. Mungkin saya akan pulang kampung Mas,"


"Pulang kampung? Lalu, apa kau akan menjelaskannya kepada keluargamu tentang semua ini?"


Rena menggelengkan kepalanya.


"Tenang saja Mas, Rena tidak akan mengadu apapun pada keluarga saya. Saya akan menanggungnya sendiri,"


''Tidak, aku tidak mengizinkannya. Aku sudah memutuskannya kalau aku akan menikahimu segera,''

__ADS_1


''Tolong jangan berbuat seperti itu mas, Saya tidak ingin dikasihani mas. Saya tidak ingin Mas Raka menikahi saya, karena Mas Raka merasa bersalah atas perbuatan mas Bryan yang sudah memperkosa saya.''


''Ini bukan masalah Bryan ataupun tentang kejadian itu. Aku akan menikahimu karena aku memang mencintaimu,'' ucap Raka dengan tulus.


Rena menggelengkan kepalanya. Air matanya jatuh beruraian membasahi pipinya. bahkan kini suaranya mulai tersendat-sendat karena isakan tangisnya.


''Tidak.... tidak mas. Saya tidak pantas buat Mas Raka. Saya hanyalah seorang janda yang sudah pernah menikah. Dan saya hanyalah seorang pembantu yang tidak berpendidikan tinggi. Saya juga sudah ternoda. Saya bukan wanita yang baik-baik Mas Raka. Mas Raka adalah orang yang baik dan berpendidikan tinggi. Mas Raka juga memiliki masa depan yang cerah. Mas Raka pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada saya,''


''Ini bukan masalah berpendidikan tinggi ataupun masalah tentang bertanggung jawab. Tapi karena aku benar-benar tulus mencintaimu Rena. Ku mohon, jangan tolak diriku. Maafkan aku yang baru mengutarakan perasaanku. Sebenarnya perasaanku itu sudah timbul sejak pertama kali kita berjumpa.''


Rena masih menggelengkan kepalanya. Tangannya menutup mulutnya. Ia sungguh tidak menyangka di saat nasibnya jatuh tersungkur seperti ini. Ternyata masih ada laki-laki yang tulus mencintainya. Tapi ia tidak mau menjadi wanita yang egois. Kalau sampai Raka menikahinya, nanti apa kata orang.


''Kumohon, jangan tolak aku ya. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku ini. Aku tidak ingin menjanjikan apapun kepadamu terlebih dahulu. Namun aku akan berusaha membuktikan, bahwa cintaku ini benar-benar tulus kepadamu. Aku benar-benar ingin menjagamu, menghabiskan sisa umurku untuk bersamamu hingga akhir hayat memisahkan kita,'' ucap Raka sambil memeluk Rena erat-erat.


Tangisan Rena semakin pecah dalam pelukan Raka. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi.


''Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Kita jalani saja dulu ya, Aku juga tidak akan memaksamu untuk langsung mengiyakan permintaanku ini. Aku akan dengan setia menunggumu sampai kamu benar-benar bersedia menerima ku. Izinkan aku untuk mengejarmu, izinkan aku untuk berusaha mendapatkan cintamu dan membuka hatimu kembali,'' ucap Raka lagi.


Di sisi lain, Bu Rossa masih belum sadarkan diri. Bryan mondar-mandir sejak tadi menunggu agar mamanya lekas sadar kembali. Ia jugs sudah memanggil dokter.


Dokter saat ini sedang memeriksa keadaan bu Rossa.


''Bagaimana keadaan Mama saya dok?''


''Sepertinya Bu Rossa kelelahan dan terkena hipotermia. Kenapa Bu Rosa bisa kedinginan seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi ucap?'' Ucap dokter itu.


Bryan tidak bisa menjawab apa-apa. Sebab ini semua tak luput dari kesalahannya.


Bryan menangis sambil mencium tangan mamanya. Berulang kali ia mengucapkan kata maaf dan berulang kali ia memohon agar mamanya lekas membuka matanya. Tak lama kemudian Bu Rossa membuka kedua matanya.


Namun pandangannya kosong menatap keadaan sekitar. Bahkan saat melihat sang putra, Ia hanya diam saja dan tidak berbicara apa-apa.


''Mama, tolong katakan sesuatu. Mama boleh memakiku, Mama boleh menghajarku. Kalau perlu mama bisa membunuhku. Bryan mohon, mama jangan mendiamkanku seperti ini. Tolong katakan sesuatu,'' ucap Bryan yang masih memegangi salah satu tangan Bu Rossa.

__ADS_1


__ADS_2