
''Tidak peduli seberapa baik kita orang yang membenci kita akan tetap membenci kita. Dan tidak peduli seberapa tulus kita orang yang tidak menyukai kita akan tetap mencurigai kita. Hal yang paling sulit di tebak di dunia adalah hati manusia,'' _ Dairy mala
...•••••••《♡》•••••••...
Sebenarnya Bu Rossa ingin segera mempertemukan Rena dan Bryan. Bu Rossa ingin segera menyelesaikan satu persatu masalah ini agar tidak berlarut-larut lagi. Tapi mengingat kondisi Rena yang masih belum stabil, ia pun mengurungkan niatnya dulu.
Bu Rossa juga sudah melihat penyesalan Bryan putranya. Meskipun selama ini ia sengaja tidak mau berbicara dengan putranya itu, tapi ia juga terus mengamati bagaimana sikap Bryan salama ini.
Apalagi Bryan berulang kali memohon ampun padanya, membuat hati bu Rossa tidak tega melihatnya.
Oleh sebab itu bu Rossa ingin segera masalah ini terselesaikan. Bu Rossa juga sudah memutuskan jika nanti Bryan tidak mau bertanggung jawab, maka biarkanlah Raka yang menikahi Rena. Apa lagi jika dilihat Raka memiliki perasaan terhadap Rena. Atau bila perlu Rena akan ia angkat sebagai putrinya sendiri.
''Mama, Raka tidak bisa berlama-lama di sini. Mungkin dua hari lagi Raka akan datang kembali. Raka masih ada pekerjaan yang harus Raka selesaikan. Kira-kira kapan mama akan melakukan fisioterapi?''
''Ming...gu depan nak,'' Ya, rencananya Bryan sudah membuat jadwal terapi untuk mamanya sekaligus untuk memeriksakan lebih lanjut bagaimana kesehatan mamanya.
''Baiklah ma, Raka dan Rena pamit dulu. Minggu depan Raka akan usahakan agar bisa menemani mama melakukan terapi,''
Bu Rossa menganggukan kepalanya. Sebelum pergi bu Rossa berpesan agar Raka mau membujuk Rena pelan-pelan agar mau berbicara dan bertemu dengan Bryan.
Walau berat, Raka tetap menyetujui permintaan mamanya itu. Ia akan berusaha berbicara pelan-pelan dengan Rena. Benar kata mamanya, biar bagaimana pun masalah ini harus segera di atasi.
Namun yang ia tidak tahu bahwa mamanya akan meminta Bryan untuk menikahi wanita yang ia cintai itu.
Raka mengajak Rena untuk berpamitan dahulu sebelum meninggalkan kediaman bu Rossa.
Dan mobil mereka pun kembali melaju di jalanan meninggalkan kediaman mamanya. Dan tak berselang lama, Bryan juga sudah memasukkan mobilnya kembali ke garasi.
Bryan menatap sedih kepergian mobil sang adik. Ia sungguh tidak menyangka dalam semalam bisa merubah segalanya. Bahkan hubungan persaudaraan mereka. Namun ia juga menyadari ini semua adalah kesalahannya.
__ADS_1
Oleh sebab itu ia bertekad akan berusaha agar dapat berbicara dengan Rena. Keputusannya sudah bulat.
Setelah ia memikirkan matang-matang, Ia akan menikahi Rena. Untuk saat ini memang di hatinya belum ada rasa cinta dan masih dominan dengan rasa bersalah. Tapi ia berjanji akan berusaha mencintai Rena dan akan bertanggung jawab atas hidup Rena hingga menua bersama.
Untuk perasaanya dengan Natasha, bahkan ia sudah lupa.
••••••••••••••••••••••♡•••••••••••••••••○
Satu minggu telah berlalu. Raka dan Rena, setiap dua hari sekali selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Bu Rossa. Dan hari ini jadwalnya Bu Rossa untuk melakukan fisioterapi di rumah sakit.
Raka juga sudah berusaha untuk berbicara dengan Rena pelan-pelan. Namun sampai saat ini setiap Raka menyebut nama Bryan, Rena pasti akan kambuh kembali traumanya. Dan untuk keluarga Rena di kampung, Raka setiap bulan selalu mengirimi mereka uang seperti biasanya.
Anggap saja sebagai gaji seperti Rena saat bekerja dulu. Tentang kondisi Rena, sampai saat ini keluarganya belum ada yang tahu. Karena Rena melarang keras Raka mengatakannya.
Bapaknya sering sakit-sakitan. Rena takut, kalau sampai keluarganya tahu bapaknya pasti akan tambah beban pikiran dan semakin memperburuk keadaanya. Rena juga tidak ingin jika sampai para tetangganya tahu. Yang ada hinaan, cacian dan makian pasti akan mereka lontarkan kepada keluarganya.
Sebenarnya Raka ingin sekali bertandang ke kampung halaman Rena untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Rena. Sekaligus ia ingin meminta izin untuk menikahi Rena. Namun Raka berharap permasalahannya di sini ingin selesai terlebih dahulu, sebelum ia memutuskan pergi ke kampung Rena dan mendatangi keluarganya.
''Pelan-pelan mah,'' Raka memapah Mamanya setelah selesai melakukan fisioterapi.
''Dokter, bagaimana keadaan Mama?''
''Keadaannya sudah lumayan membaik. Ini juga berkat hasil kerja keras Bu Rossa yang sepertinya bertekad sekali untuk segera sembuh. Ini juga bagus untuk kondisi pasien. Kalian sebagai anak-anaknya harus mendukung dan menyemangati bu Rossa agar kembali pulih seperti dulu lagi,''
''Iya dok, terima kasih sudah membantu terapi Mama saya,''
''Ini sudah sewajarnya. Bukankah ini tugas dokter. Kamu kan juga tahu, kita sama-sama sebagai seorang dokter pasti akan memprioritaskan kesembuhan pasien.''
''Benar dok, hehehe,'' jawab Raka kepada dokter yang menangani kesehatan mamanya. Dokter itu juga salah satu kenalan Raka.
__ADS_1
Dan tanpa diduga Bryan datang terburu-buru untuk menghampiri mamanya. Karena tadi Ia mendapatkan pesan dari mamanya agar menjemputnya. Padahal Raka yang akan mengantarkan mamanya pulang. Mungkin ini salah satu rencana dari Bu Rossa.
Melihat kedatangan Bryan, membuat Rena tiba-tiba gelisah. Tangannya mengepal erat memegang ujung bajunya. Bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Rena segera bersembunyi di balik punggung Raka.
''Kenapa kamu di sini!'' Ucap Raka menatap tajam ke arah Bryan.
''Oh Maafkan aku maafkan aku,'' Bryan langsung berbalik dan membelakangi Raka dan Rena.
''Maafkan aku, aku mendapatkan pesan dari Mama. ( Bryan menunjukkan ponselnya ) Katanya aku harus datang menjemput mama. Mama bilang kalian sudah pulang,''
Raka menoleh ke arah Mamanya. Mamanya menunduk menandakan bahwa ini memang benar rencana mamanya.
Bu Rossa berusaha memegang ujung telunjuk Raka, dengan terbata-bata, Bu Rossa mengatakan...
''Raka, biarkanlah Bryan berbicara dengan Rena sebentar,''
''Tapi mah, kondisi Rena......
''Tenanglah, mama percaya Rena pasti baik-baik saja. Jika nanti ada apa-apa dengannya, mama yang akan bertanggung jawab. Raka, kalau tidak sekarang kapan lagi? Raka kita akan menunggu sampai kapan? Jika ini terus berlarut-larut, ini juga tidak baik untuk Rena,'' ucap bu Rossa.
Raka membuang nafasnya lalu berbalik menoleh ke arah Rena.
''Aku akan mengantarkan Mama makan dulu. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri. Tapi..... Rena, kita sudah membicarakan ini kan beberapa waktu yang lalu?''
Rena menganggukkan kepalanya mengerti.
''Kak Bryan ingin berbicara denganmu. Apapun yang ia katakan nanti kamu cukup dengarkan dulu. Ingat! Jika Bryan berbuat hal yang di luar batas lagi, kamu segera berteriak memanggilku. Aku ada di ujung pendopo sana,'' ucap Raka.
Rena kembali menganggukkan kepalanya. Raka mendorong kursi roda milik Mamanya dan meninggalkan Rena yang masih berdiri menatap ke arah Bryan dengan takut.
__ADS_1