
''Semakin banyak yang di alami, semakin tidak ingin berbicara. Yang kamu katakan orang lain belum tentu peduli. Yang orang lain katakan kamu belum tentu mengerti. Ribuan hal adalah takdir. Sedikit pun tak bisa di kendalikan oleh orang lain. Di dunia orang dewasa seperti inilah. Sakit tanpa kata-kata, senyum tanpa bicara. Perlahan juga belajar untuk tidak suka berbicara. Dan belajar malas untuk menjelaskan. Semua masalah pada akhirnya ditanggung diam-diam.''
...................♡..................
Rena keluar dari kamar terkutuk itu. Dan saat ia membuka pintu, bu Rossa terkejut karena badannya hampir saja terjungkal. Karena saat itu bu Rossa terus berada di depan pintu kamar putranya sampai ia tertidur sambil bersandar di pintu.
''Rena... Rena, maafkan ibu. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Ibu,'' ucap Bu Rossa memohon-mohon maaf sambil memeluk tubuh Rena.
Rena hanya diam saja tidak merespon apapun. Ia kemudian perlahan melepaskan pelukan Bu Rossa.
''Rena, kamu mau ke mana nak?'' Bu Rossa berusaha menahan salah satu tangan Rena, saat Rena akan berjalan pergi.
''Ibu berjanji, ibu akan menghajar Bryan sekarang juga. Ibu mohon jangan bertindak gegabah dulu ya sayang. Ibu akan menyuruh Bryan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya,''
Bu Rossa kemudian segera masuk ke dalam kamar dan berusaha membangunkan Bryan. Namun Rena tidak memperdulikannya lagi. Ia kemudian mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah Bu Rossa.
Rena terus berjalan menyusuri jalanan hingga sampai di jalan raya. Ia tidak menoleh sedikitpun ke belakang. Matanya terus menatap kosong ke arah jalanan, sambil membawa tas miliknya. Hingga sampai tiba ia di sebuah jembatan yang tinggi. Rena berhenti diam, lalu menatap ke bawah jembatan yang dibawahnya mengalir sungai yang cukup dalam dan deras.
Ia kemudian berjongkok dan menangis meratapi nasibnya kini. Bagaimana tidak? Jika ia pulang kembali ke kampung, pasti akan ada banyak pertanyaan dari keluarganya. Ia juga tidak ingin mempermalukan keluarganya, dengan kondisinya saat ini. Sudah cukup baginya hinaan dan cacian yang mereka terima sejak dulu.
"Aku tidak tahu kenapa Engkau memilihku Ya Allah sebagai salah satu manusia yang hidup dengan takdir yang keras ini. Entah dari sisi mana Engkau melihat ketangguhan serta kemampuanku untuk melewati semua ini. Bahkan setiap hari diri ini harus berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Menahan rasa ingin mengeluh, rasa hancur, rasa ingin marah dan semuanya harus aku tahan sendirian. Bagaimana bisa Engkau memberikan ujian seberat ini kepadaku yang lemah ini. Dan bagaimana bisa Engkau begitu percaya kalau aku mampu menghadapi ujian berat ini, sedangkan diriku sendiri pun ragu," ucap Rena dalam tangisnya.
Di sisi lain Raka sudah kembali pulang ke rumah. Ia terlihat heran melihat rumahnya yang sepi, bahkan pintu depan saja terbuka lebar.
''Ada apa ini? Kenapa rumah terlihat sepi sekali?'' ucap Raka.
Raka segera bergegas masuk. Entah mengapa perasaanya tidak enak sekali.
''Mama! Mah.. Mama? Mama di mana?"
__ADS_1
Raka terus memanggil-manggil mamanya, tapi tidak terdengar sahutan dari mamanya. Tiba-tiba Raka mendengar sayup-sayup suara dari arah kamar kakaknya.
Sedangkan di kamar, Bryan sedang dimarahi habis-habisan oleh Bu Rossa.
"Bryan! kamu benar-benar manusia biadab! Mama benar-benar tidak menyangka, mama bisa membesarkan seorang Putra sepertimu! Mama tidak pernah mengajarimu berbuat hal seperti itu Bryan. Mama tidak pernah mengajarimu untuk menyakiti orang lain! Mama benar-benar sakit hati melihat kelakuanmu Bryan!'' ucap bu Rossa yang kini menangis sambil memegangi dadanya yang kian terasa sesak.
''Sejak kecil Mama berusaha keras membiayaimu dari kecil, membimbingmu mendidikmu. Mama selalu melakukannya dengan hati-hati supaya kamu menjadi anak yang baik menjadi manusia yang berguna! Bukan malah merusak anak orang! Apa kamu tahu betapa sakit hatinya Mama saat mendengar Rena memohon memohon kepadamu untuk engkau lepaskan!''
"Mah, Maafkan Bryan mah. Bryan benar-benar khilaf. Bryan tidak tahu apa yang sudah Bryan lakukan mah. Maafkan Bryan," Bryan memohon-mohon maaf kepada mamanya bahkan sampai bersujud di kaki mamanya.
"Lebih baik sekarang kamu cari Rena. Dia baru saja keluar!'' Ucap Bu Rossa.
Raka dari tadi mendengarkan di balik pintu. Ia pun kemudian maju menghampiri kakaknya lalu memukulnya.
Buk....
''Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Rena Bangsat! Apa yang kau lakukan teriak!'' Teriak Raka yang langsung memukul kakaknya itu.
BRAK!....
Bu Rossa jatuh terkulai tak sadarkan diri.
"Mama!''
Raka segera membopong mamanya dan menaikkannya ke atas kasur. Setelah menyelimuti mamanya, Raka baru menyadari kondisi kamar kakaknya yang acak-acakan.
"Apa yang terjadi?'' Tanya Raka yang memandang tajam ke arah Bryan.
"Aku telah memperkosa Rena," jawab Bryan dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Bug....
Satu tinjuan melayang kembali di perut Bryan.
"Kamu memang benar-benar pria yang brengsek Bryan. Aku benar-benar tidak menyangka punya kakak sepertimu! Sekarang di mana Rena?"
"Aku tidak tahu. Saat aku bangun sudah tidak ada orang, dan mama datang memarahiku,"
"Kamu memang pantas dimarahi. Bukan hanya dimarahi, seharusnya kamu tuh penjara sekalian!"
Raka kemudian mengambil kunci mobilnya kembali dan melajukan kendaraannya.
"Aku harus mencarimu kemana? Jika sampai terjadi apa-apa dengan Rena, aku tidak akan pernah memaafkanmu Bryan!" Monolog Raka.
Raka melihat ke kiri dan ke kanan. Ia bingung harus mencari Rena kemana lagi.
"Apakah Rena pulang ke kampung? Tidak mungkin, sepertinya Mama tadi sempat bilang kalau baru saja Rena keluar dari rumah. Aku harus segera mencarinya,"
Raka sesekali bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan. Dan untung saja ada beberapa orang sempat melihat Rena pergi ke arah jalan raya.
Dan benar saja, tak jauh dari tempat ia bertanya, Raka melihat Rena sedang berdiri di atas jembatan.
"Apa yang akan ia lakukan?''
Raka terlihat cemas melihat Rena berdiri diatas jembatan.
Raka segera memarkirkan mobilnya lalu berlari ke arah Rena dengan cepat. Tanpa ragu-ragu Raka langsung memeluk Rena dari arah belakang.
"Apa yang akan kamu lakukan? Tolong jangan berbuat hal bodoh," ucap Raka.
__ADS_1
Terlihat Rena sangat ketakutan dan sepertinya Rena mengalami trauma yang sangat berat. Dalam pelukan Raka, Rena menangis histeris. Raka pun ikut menangis, melihat kondisi Rena.
Entah perasaannya itu tumbuh sejak kapan, namun rasa suka di dalam hatinya semakin meyakinkannya bahwa ia sepertinya sudah jatuh hati kepada asisten rumah tangga Mamanya itu.